Leo



Baca tulisan pertama di sini: Cancer
Baca tulisan kedua di sini: Taurus.

Perempuan Leo yang pernah gue kenal di masa lalu ini adalah salah satu perempuan yang sangat sulit gue pahami. Gue adalah orang yang selalu memulai segala sesuatunya dari obrolan, dan dia susah sekali nyambung dengan berbagai obrolan.

Dia suka bola, gue suka bola. Gue suka MU, dia pun (katanya sih) suka. Tapi ketika gue tanya siapa pemain favoritnya, dia malah menjawab Alessandro del Piero. Mau gue koreksi, nggak enak. Nggak gue koreksi, jadi awkward.

“Oh ya? Kenapa, kok kamu sukanya sama Del Piero? Biasanya kan cewek-cewek sukanya Ronaldo atau Nick Powell gitu.”

“Karena Del Piero ganteng, mirip Valentino Rossi.”

Kalau pertanyaan berikutnya gue lontarkan, bisa jadi gue akan mendengar nama-nama lain yang nggak ada hubungannya sama sepakbola seperti misalnya Tiger Woods, Serena Williams, atau mungkin Inul Daratista. Jadi gue memutuskan diam dan percakapan tidak mengalir ke mana pun.

Ujung-ujungnya tetap jadi awkward.

Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan diam tanpa kata.

…tapi tangan meraba-raba.

YA ENGGAK LAH!

Karena baru awal-awal kenal, jadi gue merasa mungkin karena masih baru jadi kami masih malu-malu untuk membahas percakapan yang lebih-lebih. Mungkin juga, membahas sepakbola dengan perempuan adalah kesalahan meskipun dia mengaku suka sepakbola. Karena kebanyakan perempuan, yang gue tahu, suka sepakbola bukan karena dribbling bolanya atau karena skill rabonanya yang mumpuni, tapi karena gantengnya. Mereka pasti tau ketika ditanya kenal Cristiano Ronaldo atau Paulo Dybala, tapi pasti menggeleng ketika ditanya siapa itu Bacary Sagna atau Eliaquim Mangala. “Entahlah, pembaca kartu tarot? Atau manajer pasar malam di bilangan Jakarta Utara mungkin?”. Kira-kira begitulah jawabannya. Padahal dari segi kemampuan, Dybala nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Sagna. Istri Sagna juga seorang model cantik, for your additional information, tapi kebanyakan perempuan pasti nggak kenal.

Gue yang pada saat itu hanya akan sangat nyambung ketika diajak bahas bola, harus memutar otak untuk bisa menciptakan percakapan yang membuatnya tertarik. Lalu gue mulai mencari tahu karakter perempuan Leo.

Katanya, Leo itu suka memimpin, murah hati, penuh gaya, aristokratik, congkak, dan penuh percaya diri. Sayangnya, gue nggak menemukan sifat suka memimpin di dalam diri Leo yang satu ini karena setiap kali gue tanya “mau makan di mana?” selalu dijawab dengan “terserah!” sambil mengeluarkan api dari hidungnya. Kalau soal penuh gaya dan percaya diri, mungkin iya. Gara-gara hal itu, gue yang dari dulu selalu bergaya apa adanya jadi jiper dan kehilangan percaya diri karena gayanya dia yang selangit dengan percaya diri yang sama tingginya. Kalau lagi jalan sama dia, gue lebih mirip asisten pribadi daripada kekasih. Untungnya gue nggak pernah diminta bawain tasnya. Kalau iya, beneran gue akan resign sebagai pacar dan minta diangkat jadi asisten rumah tangga di keluarga besarnya saja.

Karena dia kuliah di jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia, gue berpikir untuk mengimbanginya dengan mulai membaca buku-buku sastra dan belajar teknik-teknik penulisan yang baik dan benar sesuai Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan EYD. Gue juga mulai mencari tahu siapa saja penulis sastra terkenal di Indonesia.

Tetapi kebanyakan kenyataan memang nggak sesuai dengan ekspektasi.

“Aku masuk jurusan ini sebenarnya bukan karena suka sastra, melainkan karena pilihan orangtua yang seorang guru bahasa,” jelasnya tanpa rasa bersalah ketika mulut gue udah berbusa dan tenggorokan paceklik membahas karya-karya lama Sapardi Djoko Damono dan Aan Mansyur.

Para tentara mungkin gugur dalam peperangan karena ditembak oleh musuh—atau nggak sengaja ditembak oleh temannya sendiri, tetapi gue memilih menjadi tentara yang menembak kepala sendiri. Gue menyerah menghadapi perempuan yang susah diajak ngobrol santai sambil minum teh atau kopi, nggak peduli seleranya soal fesyen sebagus apa. Kenyamanan satu sama lain nggak gue lihat dari merek pakaiannya, tapi dari seberapa nyaman gue sama dia bahkan ketika kami hanya membahas hal-hal nggak penting seperti “apakah tukang cukur Kim Jong Un berani nyuruh-nyuruh beliau buat nengok kiri-kanan-nunduk-dongak saat bercukur?” lalu membahasnya sampai rahang ingin terlepas dari tempatnya.

Tapi, hei, itu bukannya pertanyaan yang sulit?

Gue nggak bisa membayangkan bagaimana ekspresi tukang cukur The Supreme Leader ketika ditatap lewat cermin oleh beliau dengan tatapan yang… mungkin seperti ini.
 
via Risk Hedge

No comments:

Post a Comment