Dapur Tetangga

Clem Onojeghuo on Pexels

Kadang-kadang gue nggak habis pikir sama keluarga gue sendiri. Terutama nyokap.

Kemarin, waktu sahur hari pertama, ada banyak sekali iring-iringan konvoi mobil dan sepeda motor yang membangunkan warga sekitar. Mereka membawa alat masing-masing untuk dipukul. Ada yang mukul beduk. Ada yang mukul gendang. Ada juga yang mukul temennya sendiri. Pokoknya semuanya dipukul asal bisa ngasilin suara berisik dan bisa bangunin orang sahur. Saking berisiknya mereka, orang tuli sekalipun bisa langsung bagus indra pendengarannya.

Nyokap yang sebenarnya udah bangun dari tadi dan terganggu karena lagi ngaji di ruang tamu, langsung membuka pintu depan, nyalain keran air di teras, dan menyiramkannya ke mereka.

“BERISIK KALIAN!” teriak nyokap.

Gue yang baru saja bangun cuma bisa nguap-nguap melihat aksi nyokap sambil bergumam, “mungkin mereka haus, jadi dikasih air” lalu balik ke belakang buat cuci muka.

Besoknya, iring-iringan konvoi itu nggak lewat di depan rumah gue lagi.

Lalu saat sahur kemarin, gue sedikit telat bangunnya (mepet subuh) karena malamnya habis ngerjain kerjaan sampai tengah malam dan capek banget. Pas bangun dan ngeliat jam, gue buru-buru bangun dan cuci muka. Ternyata pas sampai meja makan, nyokap juga baru mulai makan.

“Loh. Kok baru makan, Bu?” tanya gue heran. Biasanya nyokap udah selesai makan sebelum jam tiga.

“Iya nih, telat bangun.”

Setelah itu gue ngambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur dan lauk dan segala jenis makanan yang tersedia di atas meja. Karena suasana di meja makan yang senyap banget kayak Padang Mahsyar sebelum manusia pertama diciptakan, gue memulai percakapan yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat.

“Kok bisa telat sih, Bu, bangunnya?”

Nyokap yang udah hampir selesai makannya, berhenti mengunyah sebentar dan menuang air dari botol ke gelas.

“Iya nih. Nggak ada yang konvoi teriak-teriak kayak kemarin-kemarin itu soalnya,” jawab beliau. “Terus lupa pasang alarm.”

“Lah, kemarin ada, disiram. Sekarang malah nyariin.”

“Iya, soalnya kemarin itu mereka berisik. Ganggu.”

“Kalau nggak berisik kan orang nggak bangun, Bu.”

Nyokap cuma diam dan nggak menjawab pernyataan gue. Gue yakin dia setuju dan merasa bersalah sudah menyiram mereka dengan air.

“Jadi gimana, Bu? Enakan berisik dibangunin konvoi sahur, atau telat bangun sahurnya?” gue lanjut bertanya karena penasaran sama respons nyokap. Lagi pula, kapan lagi bisa ngeskak nyokap sendiri.

“Ya, bangunin,” jawaban nyokap.

“Terus kenapa disi …”

“… tapi jangan berisik,” lanjutnya.

Saat itu juga perut gue langsung kenyang.

Gue membayangkan puluhan orang-orang berkonvoi di jalanan tapi mesin kendaraan dimatikan, alat-alat musik dibuat mode senyap, lalu teriak “SAHUR, SAHUR!” tapi sambil bisik-bisik.

ABSURD.

Di malam yang lain, nyokap sering mengeluh kalau pulang tarawih lebih cepat karena nggak ada penceramah. Tapi bakal mengeluh lebih panjang lagi kalau pulangnya lebih malam karena yang ceramahnya kelamaan.

Malam I

Nyokap: Apaan sih itu Masjid Baitul Makmur. Jam segini kita udah pulang. Liat tuh masjid-masjid lain, baru pada ceramah, kita udah selesai masang kelambu dan siap tidur.

Gue: *diam sambil nonton Thomas Cup*

Malam II

Nyokap: *pulang lewat jam sepuluh malam* Apaan sih itu di Masjid Baitul Makmur. Ceramah kok nggak liat-liat jam. Kita kan mau istirahat. Kalau telat sahur karena kita tidurnya telat, gimana?

Gue: *diam sambil nonton Thomas Cup*

Malam ketiga, gue masih nonton Thomas Cup saat nyokap pulang dan malah marah-marah padahal tadi gue dengar ada penceramah dan durasinya gue yakin nggak kelamaan.

Gue: Ibu itu sebenarnya mau penceramah yang kayak gimana, sih?

Nyokap: Ya, yang kayak tadi. Nggak kelamaan, nggak kecepetan juga.

Gue: Lah, terus kenapa masih marah-marah aja?

Nyokap: LUPA MATIIN KOMPOR. NASI GOSONG. GAS HABIS. SANA BELI GAS! NONTON AJA KERJAANNYA!

Untung nyokap. Kalau bukan, udah gue smash keras sampai ke dapur tetangga.

No comments:

Post a Comment