Toxicity

PHOTO: facundowin on Pixabay
Judul               : Toxicity
Penyanyi        : System of A Down
Album             : Toxicity
Tahun             : 2001

Gue, Andri, Bagas, Ilo, dan Tyo duduk berhadap-hadapan di warung tenda yang baru buka. Setiap Jumat-Sabtu-Minggu kami memang selalu sarapan di sini. Bukan karena makanannya enak, tapi karena anak yang punya warung cantik dan lebih dari satu.

Ina dan Ani.

Kakak beradik.

Kembar.

Tapi kami bukan berniat buat ngegodain anak pemilik warung nasi kuning langganan kami sih. Kami berlima sedang pusing.

Tyo: Toxicity?

Gue: Belum dapat rhythm-nya.

Andri: Belum dapat drumnya juga.

Gue: Semut Hitam?

Ilo: Bass-nya agak susah.

Gue: Penjaga Hati?

Bagas: Suara aku belum nyampe.

Tiga priring nasi kuning menghampiri meja kami. Kata Ilo itu Ina yang bawain, tapi gue nggak bisa bedain mana Ina dan mana Ani. Mereka benar-benar mirip. Sampai sekarang pun kalau ketemu gue belum bisa bedain, entah bagaimana cara Ilo membedakannya.

Tyo: Gini.. kalau target kita cuma sebagai pelengkap, bawain lagu Kangen Band aja. Tapi kan udah sepakat paling enggak juara harapan. Kalau aku sih, tetap Toxicity.

Gue & Andri: TAPI…

Bagas: Aku setuju.

Ilo: Kalau Bagas sudah setuju, aku mau nggak mau ngikut.

Tyo: Habis makan kita latihan lagi. Sebelum siang udah harus bisa, siang kita ke studio.
Dua piring nasi lagi menyusul dan Ina (atau Ani, entahlah) membalas dengan senyuman ketika gue bilang terima kasih. Senyumnya manis banget, kayak gula dikasih kecap.

Gue & Andri: BAIKLAH!

Akhirnya kami setuju buat bawain lagu Toxicity dari System of A Down di festival musik yang akan diadakan besok malam.  Selesai makan, kami berlima langsung menuju rumah Bagas buat latihan lagi. Jadi rencananya di acara besok kami akan membawakan dua buah lagu, 1) Godbless – Kehidupan dan 2) System of A Down – Toxicity. Dan target kami adalah minimal juara harapan.

Siang hingga sore kami latihan sangat serius mulai dari rumah Bagas hingga ke studio musik dan baru pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul sepuluh malam. Saking capeknya, belum lima menit kepala gue rebahan di bantal, gue sudah tertidur dan baru bangun setelah dikagetkan sama suara handphone.

Jam dua pagi ada telepon masuk dari suami kakak gue.

“Iya, halo…”

“Ke rumah sakit sekarang, mbak muntah-muntah dan nyari kamu.”

Tanpa mematikan telepon gue langsung bangun, pake baju, pake celana, ngambil jaket, mampir minum di dapur bentar, lalu bergegas ke rumah sakit yang disebutkan oleh kakak ipar gue.

Di rumah sakit sudah ada dua mertua kakak gue dan beberapa orang lain yang nggak gue kenal.

“Kenapa?” tanya gue ke siapa saja yang bisa mendengar di dalam ruangan itu.

“Tiba-tiba muntah sejak jam satu tadi,” jawab suami kakak.

Setelah kakak gue nggak muntah-muntah lagi dan kelihatannya sudah mulai bisa diajak bicara, gue mendekati dia untuk mencari tau lebih lanjut.

“Tadi habis salat Isya saya makan mi pangsit, nggak lama langsung muntah. Kayaknya sambalnya basi, deh.”

Gue yang jarang makan sambal nggak merespons. Jangankan bedain sambal basi sama enggak, mencobanya saja gue harus mikir berkali-kali dulu karena takut mules.

“Ya udah, kakak istirahat dulu aja.”

Saat pagi hari, kakak sudah bisa pulang, kata dokter. Tapi karena di rumah kakak sendirian, jadi gue disuruh jagain karena suami dan mertuanya harus kerja. Mau nggak mau gue harus jagain daripada gue dikutuk jadi kertas struk Indomaret plus nggak dikasih uang jajan.

Sejak pagi, pikiran gue udah nggak konsen. Siangnya gue harus latihan sampai sore dan malamnya harus tampil sama teman-teman se-band. Tapi kenyataannya, gue bahkan belum bisa istirahat. Dengan terpaksa, gue pun memutuskan nggak ikut dulu kali ini.

“Kalian berempat dulu aja, ya, aku nggak bisa nih. Kakak aku nggak ada yang jagain,” jelas gue di telepon. Teman-teman sudah ngumpul dan gladi kotor sejak tadi.

“Nggak bisa diusahain banget nih? Masih ada waktu,” kata Bagas yang disambung gumaman menyetujui oleh Tyo dari belakang.

“Duh.. masalahnya kalau aku janji, aku takut nggak keburu dan kalian kecewa.”

“Nggak masalah. Kita tunggu.”

Telepon ditutup dan gue bingung.

Kalau gue nggak datang, jelas mereka akan kecewa berat. Tapi kalau gue datang dengan persiapan yang seadanya, gue khawatir hasilnya malah malu-maluin. Masalahnya festival musik yang kami ikuti ini levelnya kabupaten, otomatis banyak yang nonton dan nggak sedikit yang pasti ngenalin kami.

Setelah sekitar sejam berpikir, gue pun memutuskan untuk nggak jadi tampil.

“Walaupun berempat, kita akan tetap tampil. Biaya pendaftarannya mahal dan udah keluar banyak juga buat latihan.” Bagas mengeluh di telepon.

“Sori banget, men, tapi aku bener-bener nggak bisa.”

“Nggak papa, tapi kalau kita juara tanpa kamu, kamu kita keluarin dari band,” kata Bagas bercanda.

“IYA, IYA. Keluarin di dalem.”

“Sama satu lagi.”

“Apa?”

“Nasi di warung kemarin belum dibayar. Kamu yang bayar!”

Belum sempat gue jawab, telepon udah ditutup.

Bangsat.

-III-

Gue baru bisa ngumpul lagi sama anak-anak keesokan paginya. Penampilan mereka katanya gagal total. Bukan karena nggak ada gue, tapi karena pas giliran mereka tampil ada bagian alat yang rusak dan mood mereka buat tampil keburu hilang.

Tyo: Pas lagu pertama sebenarnya aman aja, sih. Tapi pas lagu kedua—Toxicity—alatnya tiba-tiba mati lagi pas udah mau banget masuk chorus. Kan kampret.

Andri: Aku juga langsung lupa ketukan drum gara-gara suara gitar dan mic-nya nggak kedengeran.

Ilo: …

Gue: Terus dari panitia tanggung jawabnya gimana?

Bagas: Nggak ada. Kita disuruh ngulang dari awal. Tapi mood udah keburu hilang. Kamu bayangin aja bawain lagu Toxicity tanpa ekspresi sama sekali dari awal sampai akhir.


Gue dan Ilo berpandangan dan tidak ada sepatah kata pun terucap sampai nasi kuning kami habis. Sejak saat itu gue nggak pernah lagi ngeband sampai sekarang.

No comments:

Post a Comment