So Far Away

PHOTO: WenPhotos on Pixabay
Judul               : So Far Away
Penyanyi        : Avenged Sevenfold
Album             : Nightmare
Tahun             : 2010


Sebuah lagu bisa jadi mewakili sebuah perasaan, sebuah cerita cinta, atau mungkin sebuah tragedi memilukan. Lagu ini sendiri, buat gue, mewakili sebuah cerita cinta biasa yang berakhir tidak begitu manis—yang membuat gue semakin percaya bahwa cinta hanya manis di awal dan menyakitkan di akhir.

Setiap kali mendengar So Far Away gue selalu teringat pertemuan pertama dengan seseorang di masa lalu. Pertemuan di malam yang mendung, tetapi tak kunjung hujan hingga kami kembali berpisah malam itu.

Sebenarnya gue tidak ingin menyebutnya sebagai masa lalu, karena terkesan sudah teramat lampau, dan gue jadi terkesan udah tua banget. Gue belum setua itu, kok. Gue kasih gambaran sedikit; waktu itu karakter Baymax belum didesain dan Olaf masih salju tanpa hidung wortel di Arandelle sana. Atau klu lain; tahun itu WhatsApp masih berbayar 9.900 rupiah per tahun.

Lebih dari itu, karena ia masih hidup di dalam hati gue.

Ia adalah perempuan yang darinya gue belajar hal-hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Misalnya, kalau habis ngupil upilnya ditaruh di bawah meja atau motor matic dengan sistem injeksi tidak perlu dipanaskan. Gue memang tidak terlalu mengerti soal motor, cuma kadang-kadang bermimpi balapan dengan Marc Marquez di Sentul pake motor matic dengan sistem injeksi.

Dalam pertemuan di malam itu, gue ditodong dan dipaksa menyanyikan So Far Away dengan suara gue yang lebih fals dari siapa pun. Tetapi karena ia mengiyakan untuk menyanyi bersama, gue pun menyanyi dengan tingkat percaya diri di bawah 50%. Salah satu penggalan lirik favorit kami dari lagu ini adalah “I have so much to say but you’re so far away” yang ada di bagian akhir reff. Kalimat itu gue simpan di bagian “About” WhatsApp yang dulu masih bernama “Status” dan ia meminjamnya untuk ditulis di Twitter.

“Izin ke Synyster Gates,” kata gue ketika dia minta izin.

“Izin ke kamu aja, kan aku taunya dari kamu,” jawabnya.

“Izin diterima.”

Ternyata kalimat favorit itu sudah muncul di timeline Twitternya beberapa menit sebelum minta izin. Kelakuan.

Banyak lagu baru dan bagus yang datang dan berlalu selama setahun, tetapi So Far Away selalu jadi lagu favorit kami dan selalu kami nyanyikan setiap bertemu. Dan suara gue masih juga fals. Gue memang tidak berbakat jadi penyanyi, karena itu setelah lulus kuliah, gue melamar jadi tukang parkir bayangan di Indomaret. Tadinya gue berniat ke Alfamidi, tapi ada plang bertuliskan “Gratis Parkir” yang sangat besar di sana.

Hingga akhirnya hari perpisahan itu tiba juga, dan gue akhirnya bisa menyanyikan So Far Away sepenuh hati dengan air mata tak terbendung setiap tiba di bagian “I have so much to say but you’re so far away”. Dan semakin gue ingin melupakan, semakin bertambah bayangan yang muncul di kepala terkait hal-hal indah yang pernah kami lewati berdua. Kini gue percaya, sedikit banyak hal-hal indah dari masa lalu bisa jadi begitu menyeramkan di masa depan. Kalau tahu begini, mungkin dulu gue akan menolak untuk bahagia sebegitu besarnya agar kelak tidak bersedih sebegitu dalam.

Tetapi, segalanya kini sudah terjadi.

Kini gue hanya mendengarkan So Far Away setiap kali lagu bangsat itu terputar secara acak di playlist gue. Sekali waktu gue pernah menghilangkan lagu ini dari playlist, tetapi akhirnya memutuskan untuk menambahkannya kembali karena gue sendiri memutuskan untuk membiarkan ia—sosok dari masa lalu itu—tetap hidup dalam hati gue sampai benar-benar ada yang bisa menggantikannya dan membuat gue melupakannya dengan sendirinya.

Gue percaya saat itu akan tiba. Setiap luka ditakdirkan untuk sembuh sekalipun sedetik menjelang kiamat. Akan ada orang-orang baru dan sesuatu-sesuatu yang baru untuk belajar dan dipelajari hingga akhirnya luka-luka dari masa lalu itu sembuh. Kuncinya hanya satu; percaya.


Pertemuan malam itu berakhir di sebuah kedai kopi yang tidak terkenal, sebuah kedai yang kelak jadi tempat pertemuan kami yang paling sering. Hingga tulisan ini gue buat, gue masih sering membunuh waktu di sana, menggali ide dan gagasan-gagasan baru yang selalu gue impikan bisa mengubah sesuatu, paling tidak diri gue sendiri, menjadi lebih baik. Dan setiap kali berada di sana, gue tidak akan pernah pulang sebelum So Far Away terdengar dari speaker mungil di sudut atas ruangan. Dan ketika akhirnya lagu pamungkas itu terputar, gue segera tersadar bahwa gue sudah larut sejauh ini, larut dalam bayangan masa lalu yang mustahil terulang kembali. Dan gue akan pulang dengan rasa bersalah dan perasaan paling sedih sebagai manusia. I’ve been so far away.

No comments:

Post a Comment