Human

PHOTO: MichaelGaida on Pixabay
Judul               : Human
Penyanyi        : The Killers
Album             : Day & Age
Tahun             : 2008

Mal dan musik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalau ada mal yang tidak ada suara musiknya, rasanya sama seperti sayur tanpa garam; kurang enak, kurang sedap. Karena itu Inul goyang, agar semuanya senang.

Eh sori, sori, sori.

Pokoknya kalau ada mal yang nggak ada suara musiknya pasti sepi banget, kayak kuburan pribumi.

Seperti itulah yang gue lihat ketika kerja sebagai promoter handphone di sebuah mal di tengah kota. Setelah mal buka, para pemilik toko yang punya speaker besar pasti langsung memutar lagu-lagu andalan mereka. Lagu-lagu yang mereka putar setiap hari sebenarnya selalu itu-itu saja, sampai-sampai sebulan gue kerja di situ, gue bisa hafal semua lagu saking seringnya lagu itu diputar. Salah satu lagu yang gue hafal padahal nggak suka dan nggak pernah dengar sebelumnya adalah You & I-nya One Direction yang diputar sekitar 87 kali sehari oleh frontliner toko di sebelah toko tempat gue jaga.

Kemudian beberapa bulan setelahnya, gue dipindahkan ke bagian pameran karena hasil penjualan yang cukup bagus di bulan-bulan awal. Dan di situlah gue mengenal Alif.

Alif sebenarnya sudah setahun lebih dulu kerja sebagai promoter daripada gue, tapi gue baru ketemu dia hari itu di pameran karena kami nggak satu tim kerja. Ketika itu Alif jengah sama frontliner yang bukannya mutar lagu-lagu hits kekinian malah mutar lagu-lagu Islami. Nggak ada yang salah sih dengan memutar lagu-lagu Islami, cuma gue dan Alif merasa momennya nggak cocok aja. Kecuali saat itu lagi bulan puasa, nggak masalah. Tapi waktu itu lagi dekat perayaan Imlek, jadi itu sama aja kayak bikin Imlek tandingan versi syariah.

“Aku nggak punya lagu-lagu baru di hape,” kata si frontliner yang gue lupa namanya.

“Ya udah matiin,” pinta Alif. “Pake punyaku aja.”

Gue sebagai anak baru di pameran, diam aja. Karena di toko tempat gue jaga sebelumnya jangankan bisa milih lagu buat diputar, speaker aja nggak ada di situ. Makanya setiap hari gue cuma dengar You & I-nya One Direction sampai hafal sama terjemahannya dalam 12 bahasa.

Sebelumnya juga, gue nggak tau selera musiknya Alif seperti apa, tapi dari penampilannya sepertinya dia bukan penyuka musik melayu.

Lagu pertama pun diputar.

Samar-samar gue mengenali lagu yang terputar lewat speaker Bluetooth ukuran cukup besar milik bos kami.

Gue tau nih lagunya.

Intronya lumayan panjang sedangkan gue agak susah ngenalin lagu kalau vokalisnya belum nyanyi. Tapi lagu yang terputar ini cukup familier. Begitu lagu masuk bait pertama, gue langsung mengenalinya. Nggak salah lagi. Ini Cinta yang Sempurna-nya Kangen Band.

Bangsat.

Ternyata penampilan yang kece nggak menunjukkan selera musik yang sama kecenya.

Begitu Andhika nyanyi, Alif memandangi gue sambil tertawa. Gue balas dengan tawa kecil. Sebagai anak baru, gue nggak mau protes, apalagi berani nyuruh-nyuruh anak lama. Jadi gue diem aja mendegarkan Andhika menyelesaikan lagunya. Sehabis ini kuping gue rusak juga nggak papa, gue iklas. Tapi baru sekitar 30 detik, Alif langsung mengganti lagu tersebut.

“Pemanasan,” kata dia.

Kalau pemanasannya aja Kangen Band, terus selanjutnya apa? Wali Band? ST12? The Potters? Gosh!

Ternyata gue salah. Lagu yang terputar berikutnya adalah dentuman bass yang kemudian gue kenali sebagai intro lagu Human dari The Killers. Otomatis gue langsung joget kayak anak-anak nongkrong Pantai Utara diperdengarkan lagu dangdut.

Karena masih pagi dan toko masih lumayan sepi, gue dan Alif ikut nyanyi. Di stand pameran waktu itu memang cowoknya cuma gue dan Alif. Sisanya frontliner gue, dan dua orang dari Telkomsel dan Indosat, cewek semua. Setelah Human selesai, lagu langsung dilanjut dengan Mr. Brightside yang kemudian membuat gue menyimpulkan kalau Alif adalah penggemar The Killers.

“Kamu suka The Killers juga, Man?” tanya Alif.

“Cuma beberapa.”

“Apa aja?”

“Ya, yang tadi sama yang lagi diputar ini.”

Padahal lagu The Killers yang gue tau emang cuma dua itu.

“Kamu sukanya apa kalau gitu?”

“Random, yang penting bukan melayu.”

Alif lalu ketawa. “Yang Kangen Band tadi dari YouTube, kok. Sengaja,” katanya.

Gue ikut ketawa lalu selanjutnya playlist masih didominasi oleh lagu-lagu The Killers yang diselingin lagu-lagu lain secara acak. Tapi yang jelas nggak ada Kangen Band-nya, apalagi lagu Imlek tandingan versi syariah.

Pas jam istirahat makan siang, gue dan Alif makan siang barengan di warung touchscreen (warung tunjuk-tunjuk, anak-anak yang kerja di mal nyebutnya touchscreen) belakang mal. Kalau bukan karena Alif, gue nggak akan pernah tau ada warung kayak gini (biasanya gue makan bakso plus lontong di seberang jalan depan mal). Pas mau makan kita tinggal nunjuk mau lauk yang mana, lalu pas bayar tinggal ngasih tau kasir tadi ngambil apa aja.

“Kadang aku makan sampai kenyang terus bayarnya cuma sepuluh ribu,” aku Alif.

“Eh, kok bisa?”

“Iya, karena selalu makan di sini, jadi pas bayar tinggal ngasih sepuluh ribu sambil bilang, ‘sama aja kayak kemarin ya’ ke Masnya.”

Bangsat.

Sekali waktu gue juga mencoba trik Alif, tapi memang beneran kemarinnya gue cuma bayar sepuluh ribu dan besoknya beneran ngambil lauk yang sama persis dengan kemarin. Gue nggak berani bohong apalagi buat makanan yang akan masuk ke perut. Kalau makanan buat kucing, nggak masalah. Gue pernah ngasih kucing liar donat terus gue bilangnya ikan salmon.

Nggak dimakan sama kucingnya sih tapi.

-III-

Perjalanan gue sama Alif nggak berhenti sampai di situ. Pameran hanya berlangsung sebulan, dan setelahnya kami sama-sama dipindahkan ke toko yang bersebelahan di lantai tiga mal. Di toko baru Alif, kebanyakan laki. Ada perempuan tapi udah pada punya anak. Sementara di tempat gue, kebanyakan promoter baru dan cewek semua. Dari brand kompetitor tentu saja.

Karena toko gue dan Alif sebelahan, dia naksir sama salah satu promoter yang kebetulan waktu itu cukup dekat dengan gue karena hari pertama dia masuk, gue disuruh bos buat nemenin dan ngajarin dia cara jualan.

Namanya Anisa.

Cantik.

Giginya rata dan putih.

Sama putih sama kulitnya.

Kerjaannya senyum mulu.

Tapi telmi.

“Kamu yakin, Lif, mau sama Anisa ini?”

“Yakin.”

Alif bayarin makan siang gue karena gue ngasih nomor Anisa. Sebulan kemudian, Anisa dipindahkan ke toko di lantai satu sementara gue dan Alif tetap di toko yang sama. Selama sebulan setelah Alif kenal Anisa, kami nggak pernah lagi makan siang bareng pas istirahat dan baru bareng lagi setelah Anisa pindah toko.

“Man, minta nomor frontliner kamu aja, deh,” kata Alif setelah ngambil nasi yang lauknya segunung.

“Lah, si Anisa kenapa?”

“Telmi.”

GUE BILANG JUGA APA KAN KITA BAHASNYA APA DIA JAWABNYA APA.

“Tapi frontlinerku juga sama aja, ah.”

“Ha? Kok di tokomu nggak ada yang bener, sih?”

“Ya, mending daripada di tokomu, nggak ada yang bisa dipepet. Pfft.”

Alif berhenti sejenak buat minum.

“Terus siapa ya?”

“Sama laki aja udah. Sensasi baru.”

“Bangsat!”


Setelah makan, kami sama-sama kembali ke toko setelah sama-sama bayar sepuluh ribu. Isi piring gue seadanya, sementara isi piring Alif semuanya ada.

No comments:

Post a Comment