Cara Gue Menyembuhkan Patah Hati

Ed Gregory on Stokpic

Gue yakin kalian semua yang baca blog gue juga pernah merasakan patah hati. Entah patah hati karena dikhianati sahabat, gagal nonton konser band kesayangan, atau karena ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya.

Teman gue ada yang pernah patah hati karena ditikung sahabatnya sendiri, kemudian dia memutuskan untuk nonton konser dengan maksud mengobati luka dan melupakan patah hatinya. Sialnya, saat mengantre penukaran tiket, dia ketemu sama mantannya.

…yang datang bareng dan gandengan sama sahabatnya.

Dia pun nggak jadi nonton konser hari itu. Sebulan setelahnya, dia dapat kabar kalau mantan dan sahabatnya ini mau nikah.

Gue nggak pernah ada di posisi semenyebalkan itu, tapi kalau gue ada di posisi itu, gue mungkin akan datang ke pesta pernikahan mereka untuk ngamuk-ngamuk sampai pelaminan mereka roboh, rata dengan tanah.

Mungkin contoh di atas terlihat mengenaskan. Sudah jatuh tertimpa tangga kayaknya peribahasa yang cocok buat menggambarkan kisah teman gue itu. Tapi di balik semua itu, ada kabar baik. Sekarang, teman gue ini sudah sukses buka usaha sendiri pasca ditikung sahabat dan ditinggal nikah mantannya.

Dia sekarang jadi pemilik bisnis sewa perlengkapan pesta pernikahan, termasuk cateringnya. Dan, sekarang pun sudah beristri yang lebih cantik dari mantannya itu.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian itu adalah: buka usaha catering ternyata butuh modal banyak.

Eh, enggak, enggak. Maksud gue: semua kejadian pasti ada hikmahnya.

Tapi tentu saja teman gue ini nggak langsung sukses membuka bisnis setelahnya. Ada fase berat yang harus dia lewati di antaranya. Tentu saja dia juga melewati masa-masa menyakitkan bernama patah hati.

Gue juga pernah patah hati.

Sering sih.

Kalau teman gue menyembuhkan patah hatinya dengan cara menyibukkan diri dalam usaha yang dirintisnya, gue menyembuhkan patah hati dengan cara:

Berlari

Bukan berlari dari kenyataan.

Yang masih pakai jokes lari dari kenyataan gue sumpahin tangannya kejepit pintu toilet SPBU.

Entah kenapa, setiap kali berlari, gue bisa melupakan sejenak tentang patah hati gue. Gue bisa sejenak lepas dari pikiran-pikiran bodoh yang mungkin saja sudah gue lakukan kalau gue nggak memutuskan untuk ngambil sepatu dan mulai berlari.

Gue suka lari pagi dan sore. Tapi yang paling sering adalah pagi karena suasana masih sepi dan udara pagi lebih segar (anu, kalau sore lapangan tempat gue suka lari berdebu karena ada yang main bola. Kalau pagi, adanya kambing lagi pacaran doang).

Selain lari, gue juga suka sepedaan. Dan, futsal. Gue selalu menyibukkan diri berolahraga untuk melupakan apa yang membuat gue patah hati. Kalau sedang nggak sibuk kerja, siklusnya adalah pagi jogging, pulang makan dan mandi dan istirahat, sore sepedaan, malam main futsal. Malam setelah main futsalnya tentu saja istirahat. Istirahatnya ini bisa di kamar sendiri, bisa juga di kamar rumah sakit karena badan pegal dan keram di semua titik. Hahaha!

ENGGAK DONG.

Intinya gue senang dan bakal lebih sering berolahraga saat sedang patah hati.

Olahraga bagus buat jantung. Gue juga berlari untuk menyehatkan jantung, biar nggak tiba-tiba kena serangan jantung pas tahu kalau mantan gue ganti kelamin.

Tahun ini, gue punya target lari sejauh total 250 kilometer sebelum 2018 berakhir.

Dengerin musik-musik keras

Biasanya lagu-lagu dari band kayak Alesana, Asking Alexandria, Bring Me the Horizon, atau Slipknot selalu berhasil bikin gue lepas dari pikiran-pikiran negatif saat patah hati. Beberapa kali gue coba dengerin lagu-lagu dari Linkin Park atau 30 Seconds to Mars juga tapi nggak berhasil. Lirik-lirik lagu mereka bukannya bikin semangat malah bikin pengin nangis terus.

Yang jelas, lagu-lagu dari Coldplay dan Maroon 5 selalu gue hindari ketika sedang patah hati.
Tambahan: pikiran negatif yang gue maksud di atas contohnya: mikirin kutub selatan pada magnet.

DIGAMPAR AJA, GAK PAPA.

Membaca

Membaca biasanya gue lakukan ketika terbangun tengah malam dan merasa kesepian atau sesak, tapi nggak bisa langsung balik tidur lagi.

Gue selalu nyetok majalah-majalah yang memang topiknya adalah interest gue seperti majalah teknologi atau pemasaran. Hal baik yang gue dapat dari membaca ketika terbangun tengah malam dalam keadaan patah hati, selain melupakan patah hati gue tentu saja, adalah, gue bisa mendapatkan ide-ide baru yang bisa gue jadikan bahan tulisan atau bahan riset untuk projek kecil-kecilan yang sedang gue bikin.

Kadang-kadang juga gue membaca tulisan secara acak ketika membuka linimasa Twitter. Yang jelas, saat patah hati gue selalu menghindari membaca tulisan dan buku-buku bertema cinta biar nggak ketemu cerita yang relate yang bisa bikin gue kembali patah hati.

Bakar semuanya

Yang ini sebenarnya sudah gue lakukan sejak bertahun-tahun lalu.

Gue nggak suka menyimpan barang-barang pemberian atau barang-barang yang punya kenangan yang bisa bikin gue mengingat kembali masa lalu, dan bisa bikin gue makin patah hati.

Benda-benda yang bisa disentuh akan gue buang dan gue bakar, sedangkan foto-foto akan gue hapus tak tersisa. Cara ini selalu ampuh karena gue nggak perlu lagi melihatnya secara nggak sengaja.

Cara menyembuhkan patah hati dengan membakar ini pertama kali gue lakukan ketika patah hati pas masa kuliah. Gue waktu itu lagi nyari dokumen sebagai pelengkap data skripsi dan ketemu sebuah gelang couple yang pernah gue pakai sama mantan dulu. Tiba-tiba gue jadi teringat lagi dan gue duduk cukup lama di depan laci lemari pakaian nyokap sambil menangis.

“Kamu kenapa, kok nangis?” tanya nyokap yang mergokin gue nangis di kamarnya.

“Enggak, Bu. Kelilpan.”

“Kelilipan apa?”

“Masa lalu.”

“…”

“…”

Hal-hal yang gue lakukan di atas memang nggak langsung menyembuhkan patah hati gue. Urusan hati memang urusan paling berat buat gue, tapi yang jelas dengan melakukannya gue jadi bisa mengatur emosi. Gue juga berhasil melewati masa-masa depresi ketika masih tinggal di Jogja karena menerapkan cara-cara di atas.

Memang nggak semua kisah kelam di masa lalu gue jadi lepas begitu saja ketika gue melakukan hal-hal di atas, tetapi gue merasa, dengan menemukan cara untuk mereduksi patah hati itu, membuat gue makin kuat dan lebih siap untuk menghadapi patahati-patahati selanjutnya.

Oh. Gue hampir lupa satu cara lagi yang ampuh untuk menyembuhkan patah hati:

Jatuh cinta lagi

Karena sebaik-baiknya move on adalah jatuh cinta lagi. Jatuh cinta membuat gue bisa melupakan apa yang pernah membuat gue patah hati. Meskipun konsekuensinya tetap sama; patah hati lagi. Entah karena nggak cocok, nggak nyaman, atau hal lain. Yang pasti, gue nggak akan mencoba membuka bisnis sewa perlengkapan pengantin saat patah hati karena ini bukan jalan gue.

No comments:

Post a Comment