Bocor di Jalan

Nur Andi Ravsanjani Gusma on Pexels.

Setiap kali melihat orang mendorong motor dengan keadaan ban bocor di jalan, gue selalu heran. Selama punya motor, gue nggak pernah dorong motor kecuali pas antre di pom bensin. Gue selalu ingat kalimat Bapak,

Mesin dan teknologi itu diciptakan buat memudahkan kita manusia, kalau mesin masih nyusahin kita, berarti kita salah menggunakannya.

Mendorong motor yang bannya bocor alih-alih mengendarainya sampai ke bengkel terdekat, menurut gue adalah salah satu indikasi mesin yang malah menyusahkan manusia, bukannya sebaliknya. Gue pernah ngomong gini ke teman kuliah di kampus, dan dia marah. Katanya, kalau motornya didorong sampai ke bengkel maka kemungkinan masih bisa ditambal, yang berarti ongkosnya lebih murah. Kalau motornya dikendarai sampai ke bengkel terdekat (yang jaraknya nggak bisa diprediksi), kemungkinan besar bannya harus diganti dan ongkosnya lebih mahal. Kemungkinan. K-e-m-u-n-g-k-i-n-a-n.

Karena gue nggak suka debat, gue diemin aja.

Kenyataannya, gue juga adalah pengendara motor dan kejadian ban bocor di jalan juga sudah sering gue alami. Dan gue nggak pernah sudi mendorong mesin yang nggak punya perasaan dan nggak merasakan sakit itu. Ternyata, nggak selalu ban motor gue harus diganti, beberapa kali juga masih bisa ditambal. Lagi pula, beban motor ketika didorong dengan dikendarai saat bannya bocor sama-sama berat.

Mesin nol, Firman satu.

Daripada berasumsi seperti teman gue yang berpikir pada dua kemungkinan (kalau didorong kemungkinan masih bisa ditambal, kalau dikendarai dalam keadaan bocor kemungkinan harus ganti ban), gue lebih memilih untuk mempersempitnya ke dalam satu kemungkinan saja; harus diganti.

Gue tau masalahnya pasti ada di biaya. Jadi gue berpikir begini…

Biaya tambal ban: Rp 10-15 ribu
Biaya ganti ban: Rp 40-60 ribu
Biaya rumah sakit kalau sakit karena kecapekan habis dorong motor: > Rp 60 ribu.

Makanya gue lebih memilih ganti ban motor, daripada ganti organ tubuh. Ini yang sebenarnya mau gue jelasin ke teman gue di kampus waktu itu, cuma agak panjang kalau dijelasin lebih detail dan menyeluruh, dan gue berpotensi dikatain lebay.

Tapi, Man, bukan masalah itu. Kalau maksa ngendarain motor dalam keadaan ban bocor, ban luar jadi cepat rusak dan velg motor juga bisa bengkok.

Makanya kalau udah tau bannya bocor, jangan digas sampai kecepatan 182.5 kilometer per jam. Pelan-pelan aja. Batu milik Patrick di Spongebob Squarepants aja nggak ngapa-ngapain, tau-tau jadi juara lomba lari. Kuncinya satu; keberpihakan.

Tapi bagaimanapun, tetap gue kembalikan ke empunya motor masing-masing. Mau didorong, bebas. Mau dikendarai juga nggak masalah. Kayak Abang gue waktu ngajakin ke mal dan di jalan ban motor kami bocor.

“Kenapa nggak dipake aja sih sampai ketemu bengkel?” kata gue sambil jalan di belakangnya, dia mendorong motor dengan senyum dan semangat kayak freelance model iklan pasta gigi yang invoice-nya baru aja cair.

“Hitung-hitung olahraga, kan saya jarang olahraga,” jawabnya.

Pas kami baru mendorong motor beberapa meter, dari belakang ada pengendara motor matic yang membawa motornya pelan sambil duduk agak ke depan. Ban belakang motornya kempes.

Gue dan Abang langsung berpandangan.

“Itu karena dia pake sepatu pria casual yang masih baru. Nggak mau kotor,” kata gue.

“Tapi kan itu cewek.”

“Oh, iya juga ya.”

“Ada-ada aja!”

“Emang iya.”

Setelah beberapa menit mendorong motor, kami sampai di sebuah bengkel kecil pinggir jalan. Setelah motor diparkir mengarah ke jalan, gue dan Abang gue duduk di kursi plastik milik bengkel sambil minum minuman berenergi. Di depan bengkel itu ada toko jual beli mobil yang baru aja buka dan mulai ramai.

“Kamu tau nggak kenapa motor yang bannya bocor itu sebaiknya didorong?” kata Abang gue, membuka percakapan setelah minumannya habis.

“Biar olahraga sekalian, kan?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Kalau didorong, ada kemungkinan masih bisa ditambal. Tapi kalau dinaikin, pasti harus diganti tuh.”

Gue diam. Gue melempar kaleng minuman gue ke dalam tong sampah di samping bengkel.
Gue memandangi si abang bengkel memeriksa ban motor gue, lalu beberapa saat kemudian ia memandangi kami berdua.

“Wah, Mas, ini bannya udah nggak bisa ditambal lagi. Harus diganti. Sobek, nih,” terangnya sambil memperlihatkan bagian ban yang katanya sobek itu pada kami.

Gue dan Abang gue kembali berpandangan.

“Ya udah, diganti aja, Mas.”

Sungguh olahraga itu menyehatkan.

No comments:

Post a Comment