Kalau Besok Gue Mati

via skitterphoto.com

Kalau besok gue mati, hari ini gue akan berangkat ke kediaman Hary Tanoesoedibjo dan memberitahu beliau kalau theme song Partai Perindo selain nggak bagus buat kesehatan telinga, juga nggak bagus buat kesehatan mental generasi muda, para generasi penerus bangsa.

Keponakan-keponakan gue yang masih kelas II-VI SD sampai hafal sama lagu itu, sama seperti mereka hafal lagu-lagu cinta yang liriknya belum pantas untuk telinga mereka, dan lagu-lagu dangdut berlirik straight to the point yang kasarnya minta ampun. Gue akan minta Pak Hary Tanoe untuk menarik semua tayangan theme song Partai Perindo di seluruh channel MNC Media. Setidaknya itu masih mungkin dilakukan karena lagu-lagu cinta remaja-setengah-dewasa sudah masuk kategori hiburan yang nggak mungkin dihentikan dan dangdut masuk kategori wajib bagi orang-orangtua, terlebih, dangdut adalah identitas bangsa, jadi nggak boleh dihilangkan. Tapi theme song Partai Perindo? Gue nggak melihat nilai apa yang bisa dipetik dari lagu itu sejak pertama kali gue mendengarnya sampai hari ini gue hafal lagunya dan terus terngiang di telinga sebelum dan saat baru bangun tidur.

Liriknya nggak lebih dari sekadar janji seperti yang selalu diucapkan politisi sehabis mendaftarkan diri jadi caleg.

Kalau besok gue mati, hari ini gue akan berangkat ke California, ketemu Mike Shinoda, jabat tangannya lalu pulang lagi ke kamar, tidur sampai besok.

Dia nggak perlu tau gue siapa, apa tujuan gue, berapa nomor sepatu gue, karena semua itu nggak penting. Yang penting adalah restu orangtua gue udah ketemu dan buktiin kalau dia beneran ada, bukan tokoh fiksi yang sering muncul dalam mimpi.

Kalau besok gue mati, hari ini gue akan berangkat ke beberapa kota sekaligus. Gue pengin makan Martabak Tegal di Tegal, Martabak Medan di Medan, Martabak Mesir di Jakarta (Soalnya kalau ke Mesir, mahal), Martabak Bandung di Bandung, dan Martabak Manis di samping kamu. Iya, kamu.

Salah satu makanan favorit gue yang juga adalah salah satu makanan terenak yang pernah diciptakan homo sapiens di bumi adalah martabak. Maka, hari terakhir gue hidup seharusnya diisi dengan menikmati makanan yang nikmatnya tetap terasa sampai kematian gue genap empat puluh hari.

Oh, dan tentu saja gue nggak boleh lupa minum. Nanti kebanyakan makan tapi nggak minum, gue malah jadi seret dan mati sebelum ajal. Seperti biasa, gue minumnya es teh tawar yang esnya dipisah, tapi pisahnya nggak jauh-jauh banget biar kalau kangen bisa segera ketemu.

Dan kalau besok gue mati, hari ini gue akan berangkat ke Silicon Valley, mendatangi kantor-kantor berikut ini,

Apple
Alphabet
Microsoft
Amazon
Facebook
Alibaba
Exxon Mobil
Bank of America
Berkshire Hathaway
Wells Fargo
Johnson Johnson
Walmart
VISA
Tencent
at&t
Netfilx
Tesla
Mc Donald

…sambil ngasih masing-masing selembar kertas bertuliskan

... di kertas A4

Value perusahaan-perusahaan modern di atas kalau ditotal, kurang dari $7.9 triliun. Kalah telak sama perusahaan konvensional bernama Vereenigde Oostindische Compagnie a.k.a VOC, perusahaan asal Belanda yang (katanya, entah fakta atau bukan) pernah berekspansi selama ratusan tahun di Indonesia. VOC jadi perusahaan dengan label The Most Valuable Companies of All-Time dengan nilai $7.9 triliun. Apple sama Microsoft sama Amazon bahkan nggak ada apa-apanya.

Sayang, VOC sekarang tinggal nama. Mereka bangkrut karena ulah alien Nordic dari planet Sanctuari yang nggak bertanggung jawab.

Intinya, kalau besok gue mati, maka hari ini gue hanya ingin melakukan hal di luar kebiasaan gue sehari-hari agar gue bisa mati dalam keadaan senang dan puas dan bangga. Dan kalau boleh, gue ingin kematian gue nggak perlu merepotkan siapa pun. You know what I mean.

No comments:

Post a Comment