Jason Statham Lebih Lebah dari Lebah Itu Sendiri


Gue sebenarnya udah sempat bilang ke diri sendiri untuk enggak nonton dulu film yang pemeran utamanya Jason Statham. Karena udah bosen banget sama film yang kemampuan dan kekuatan pemeran utamanya terlalu dilebih-lebihkan seperti film-film beliau ini. Jadi waktu liat ada film The Beekeeper di Prime, gue mendiamkannya lumayan lama—sama seperti gue mendiamkan film-film John Wick dan yang ada di semestanya.

Lalu entah kenapa tengah pekan lalu pas makan siang tiba-tiba gue kepikiran buat nyari-nyari tontonan lagi di Prime. Pilihannya antara gue lanjutin nonton Ballerina dari semesta John Wick, atau The Beekeeper yang nongol paling depan pas buka aplikasinya.

Gue akhirnya memulai petualangan menonton The Beekeeper tanpa ekspektasi apa-apa. Adegan berantemnya juga standar Hollywood aja, tapi yang bikin gue lebih tertarik sebenarnya adalah cerita soal lebah yang akhirnya bikin gue mikir kalau di film ini Jason Statham jadi terlihat lebih lebah dari lebah itu sendiri.

Sebelum kita bahas itu lebih jauh, The Beekeeper ini adalah film yang bercerita tentang Adam Clay, seorang prajurit superduperluarbiasa hasil program rahasia paling rahasia dari pemerintah Amerika Serikat (saking rahasianya, orang pemerintahan pun enggak semuanya tau) yang memutuskan untuk pensiun lalu nyewa gudang kecil buat dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat beternak lebah.

Singkatnya, Adam Clay adalah mantan agen dari program rahasia bernama Beekeepers. Dan seperti halnya lebah penjaga yang bekerja 24/7 untuk menjaga sarang, para agen ini beroperasi untuk menjaga tatanan masyarakat dan menyingkirkan "hama" atau ancaman yang merusak sistem.

Kebetulan, gudang yang disewa Adam Clay ini adalah milik seorang janda pensiunan yang ternyata bunuh diri begitu mengetahui seluruh uangnya habis tak bersisa setelah kena serangan phishing di internet.

Adam Clay yang tak terima kenyataan—karena janda ini sudah sangat baik hati padanya—memutuskan untuk balas dendam. Dan di sinilah cerita prajurit superduperluarbiasa ini dimulai. Dan di sini jugalah kelas kilat tentang lebah itu dimulai.

Film The Beekeeper bikin gue jadi tau kalau kehidupan sekelompok lebah di sarang itu sangat mirip sama kehidupan bernegara yang sudah memiliki struktur dan aturan yang tinggal dijalankan saja. Ada pemimpin tertinggi, dan ada prajurit-prajurit serta pekerja-pekerja yang bertugas melindungi ratu dan memastikan pasokan makanan aman tiap harinya. Jika ada pekerja yang sakit, pekerja lainnya akan dengan sigap menggantikan. Jika ada prajurit yang kelelahan, maka prajurit lain akan langsung nge-back up kerjaannya tanpa mengeluh ke lebah sebelah apalagi sambil misuh-misuh di medsos. Semuanya langsung dikerjakan tanpa jeda dan dengan sepenuh hati.

Namun, sistem yang sudah sedemikian rupa terstrukturnya ini pun punya kelemahan. Ratu lebah bisa saja digulingkan jika dianggap mulai busuk dan membahayakan koloni. Dalam kehidupan bernegara pun sama. Presiden bisa saja digulingkan jika dia tone deaf dan tidak kompeten dalam menjalankan pemerintahan. Atau bisa juga karena disusupi oleh ancaman dari dalam, misalnya lewat sekretaris kabinet yang ternyata titipan dari presiden sebelumnya yang diberi tugas untuk mengawasi gerak-gerik presidennya sendiri, bukan berdasarkan meritokrasi.

Saat ini terjadi, maka akan ada lebah yang sifatnya seperti Adam Clay yang bertugas untuk melumpuhkan dan mengganti ratu lebah dengan yang lebih mampu agar struktur yang sudah ada tidak goyah dan jatuh ke kelompok lebah korup nan rakus yang tidak peduli ekosistem rusak atau hancur, yang penting bisa jalan-jalan ke Paris. Para lebah ini tau mana yang pantas jadi ratu sehingga mereka benar-benar selektif, dan siap menggulingkannya jika suatu hari ratunya dianggap udah enggak bisa kerja karena udah tua dan ke mana-mana harus dibantu tongkat atau mesti diurus seslab (sekretaris lebah).

Kalau kalian penonton yang ekspresif, mungkin sepanjang adegan laga di The Beekeeper akan bikin kalian secara spontan mengucap kata-kata seperti “Buseeettt”, “Yang bener ajeeee”, atau “Gak gitu juga kaleeee”. Dan kalau kalian sama muaknya dengan gue ketika melihat adegan-adegan berlebihan seperti itu, sebenarnya bisa skip aja bagian berantemnya dan fokus pada penjelasannya tentang lebah. Trust me, it’s more entertaining.

Anyway, sebenarnya adegan berantem di film ini masih bisa dinikmati kalau kalian sebelumnya lebih banyak nonton film drama atau komedi. Kalau tiga film terakhir yang kalian tonton genrenya action, saran gue jangan dulu nonton The Beekeeper. Simpan buat makan siang minggu depan.

Namun di antara semua itu, gue paling suka kutipan penutup di film The Beekeeper: You decide who you work for. For the law ... or for justice.
Copyright © N Firmansyah
Currently Building Artifisial.