Agak Laen: Suka Duka Tawa
Akhir pekan kemarin gue menghabiskan setengah hari buat nonton Suka Duka Tawa dan Agak Laen: Menyala Pantiku berturut-turut, dan gara-gara itu gue jadi paham kenapa Agak Laen bisa sukses besar sementara Suka Duka Tawa cenderung anyep.
Buat yang mungkin belum nonton, Agak Laen: Menyala Pantiku bercerita tentang Boris (Boris Bokir), Bene (Bene Dion), Jegel (Indra Jegel), dan Oki (Oki Rengga) yang menyamar menjadi penghuni dan penjaga panti demi mengungkap kasus pembunuhan besar di Yamakarta, sebuah kota fiktif yang kalau pertama kali denger bikin dahi mengernyit sambil nanya, “Ini di Jepang atau di Surakarta?”
Sementara itu, Suka Duka Tawa bercerita tentang Tawa (Rachel Amanda) dan kehidupannya yang ditinggal Hasan alias Keset (Teuku Rifnu) sejak kecil dan harus bertahan hidup bersama ibunya Indah aka Cantika (Marissa Anita), dan mesti ngelakuin apa aja untuk bisa survive, termasuk menjadi standup comedian.
Di sini gue dapat satu fakta menarik, bahwa film yang diperankan aktor kawakan seperti Marissa Anita dan Teuku Rifnu tidak menjamin film itu akan jadi bagus. Bahkan, bejibun komika nasional sekaliber Pandji Pragiwaksono dan Bintang Emon pun enggak berhasil ngangkat film Suka Duka Tawa ini.
Dan setelah gue pikir-pikir, sepertinya ada satu hal yang dipunyai Agak Laen yang enggak dimiliki Suka Duka Tawa: Muhadkly Acho.
Memang, sih, sutradara Suka Duka Tawa juga namanya Aco, tapi enggak ada Muhadkly-nya. Karena setelah gue liat-liat, film-film yang disutradarai Acho memang bagus-bagus, atau seenggaknya sesuai dengan selera gue. Gara-Gara Warisan, Ghost Writer 2, dan dua film pertama Agak Laen ceritanya segar banget kayak disiram kuah es cendol di siang bolong. Bahkan di film yang Acho-nya cuma jadi konsultan komedi seperti Ghost Writer (pertama), Milly dan Mamet, dan Imperpect pun tetap hasilnya jadi bagus. Entah kenapa, potongan-potongan jokes di film yang ada Acho-nya lebih segar—mirip celetukan spontan Surya Insomnia di acara-acara televisi.
| Tahun | Judul | Dikreditkan sebagai | Catatan | |
|---|---|---|---|---|
| Sutradara | Penulis | |||
| 2014 | Bajaj Bajuri the Movie | Tidak | Pengembang naskah | - |
| 2018 | Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga | Tidak | Tidak | Konsultan komedi |
| 2019 | Kapal Goyang Kapten | Tidak | Ya | - |
| Ghost Writer | Tidak | Tidak | Konsultan komedi | |
| Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan | Tidak | Tidak | ||
| 2022 | Gara-Gara Warisan | Ya | Ya | - |
| Ghost Writer 2 | Ya | Ya | - | |
| 2024 | Agak Laen | Ya | Ya | - |
| 2025 | Agak Laen: Menyala Pantiku! | Ya | Ya | - |
Kedua film ini dibanjiri komika nasional. Keduanya sama-sama mengusung genre komedi. Agak Laen komedi dengan bumbu drama dan laga, sementara Suka Duka Tawa menyoroti drama keluarga yang dibumbui komedi. Secara cerita dan premis, keduanya sangat menarik. Secara eksekusi, berbeda jauh.
Waktu nonton Agak Laen: Menyala Pantiku, terasa banget penulisan yang rapi, terstruktur, dan diperhitungkan dengan matang. Dan gue enggak kaget, karena waktu masih sering di panggung stand up comedy, Acho adalah salah satu komedian yang menurut gue penulisannya benar-benar rapi dan dipikirin banget. Kalau elo kesulitan nyari video-video lama ketika Acho stand up, elo bisa liat konten-konten “Yuyun” di Instagram-nya. Di situ keliatan banget orang ini rajin nulis, tapi bukan sekadar nulis. Dia benar-benar mempraktikkan teknik berkomedi yang baik dan benar. Istilah sederhananya: gifted.
Stand up comedy dan film komedi menurut gue udah jadi makanan sehari-hari buat Acho. Gue sebenarnya lebih nungguin dia untuk nyebrang dikit ke genre yang lebih menantang, seperti yang dilakukan Ernest Prakasa di film Cinta Tak Seindah Drama Korea. Gagal, sih, tapi Ernest berhasil menantang dirinya dengan keluar dari zona nyamannya.
Pengalaman berbeda gue rasakan waktu nonton Suka Duka Tawa. Gue sempat pengin berhenti nonton ketika baru nonton sekitar 30 menitan, karena terlalu banyak diisi dengan adegan Tawa dan beberapa komedian (komedian beneran) yang stand up dari panggung ke panggung—yang menurut gue sebagai penyuka stand up comedy—garing banget.
Gue tau stand up comedy terbaik adalah yang lahir dari keresahan, dan gue juga tau ini kan cuma film. Namun karena itu juga feel di setiap adegan stand up comedy-nya enggak ngena banget ke gue. Suka Duka Tawa juga mencoba menyelipkan komedi pada tiap-tiap adegan serius. Beberapa berhasil, tapi lebih banyak yang garing. Ibarat stand up comedy; setup-nya kepanjangan, tapi punchline-nya enggak maksimal. Lucu, tapi bukan "kompor gas". Jadi nyampe ke penontonnya juga nanggung. Mau ketawa, kurang lucu. Enggak ketawa, tapi gimana ya.
Dan ini gue liat berbading terbalik dengan yang terjadi di Agak Laen: Menyala Pantiku. Tiap adegan komedinya terlihat ditulis dengan rapi, dan dibuat sepadat mungkin. Selain itu, drama-dramanya enggak begitu panjang dan langsung dibawa ke adegan-adegan lain yang bikin gue bertanya-tanya sepanjang film akan seperti apa kelanjutan dan akhir ceritanya. Akhir ceritanya memang ketebak, tapi ada rasa puas saat nonton sepanjang film. Adrenalin juga dibawa naik-turun sepanjang hampir dua jam.
Sementara itu, dengan durasi yang hampir sama, Suka Duka Tawa terkesan cukup draggy terutama pada adegan-adegan awal. Kalau saja adegan stand up comedy-nya dibuat lebih sedikit, mungkin Tawa dibawa manggung dua-tiga kali aja dan sisanya menceritakan drama keluarga, akan jauh lebih enak. Durasi bisa dipotoing 30 hingga 45 menit, mungkin.
Karena jujur, adegan-adegan drama bapak-anak-ibu di Suka Duka Tawa beneran bikin air mata netes, tapi adegan-adegan komedinya bikin pengin narik lagi air mata yang udah keluar tadi.
Untuk menutup tulisan ini, buat gue, Suka Duka Tawa dramanya yes, tapi komedinya no. Sedangkan Agak Laen: Menyala Pantiku semuanya dapat "kompor gas" mulai dari komedi, drama, laga, hingga jokes kodiannya pun tetap segar dan enggak maksa seperti keakraban Rais aka Nasi (Arif Brata) dengan Adin (Enzy Storia) di Suka Duka Tawa.
Gue kasih Tawa/10 untuk Suka Duka Tawa, dan Kiss/10 buat Agak Laen: Menyala Pantiku.
