Kalau Si Paling Aktor Dieksekusi dengan Serius
Gue sempat baca novel Si Paling Aktor karya Adhitya Mulya gara-gara dapat diskon dari Google Play Books. Setelah baca beberapa bab, gue tiba-tiba berpikir, “Kayaknya kalau buku ini diadaptasi ke film bakal seru, deh.”
Terus minggu lalu pas gue lagi scroll Netflix nyari film buat nemenin makan siang, muncul Si Paling Aktor. “Apakah ini Si Paling Aktor adaptasi dari novel itu?” gue bertanya-tanya. Pas gue tonton ternyata benar, di opening-nya muncul tulisan yang menerangkan film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama—yang pernah gue baca itu.
Namun gue mutusin nonton beneran tanpa ekspektasi, karena seingat gue pun terakhir gue baca novelnya itu sekitar satu atau mungkin dua tahun lalu, jadi udah lupa-lupa ingat isinya. Yang pasti, Si Paling Aktor versi novel bercerita ihwal pemain film figuran yang terlalu serius mendalami tiap perannya walau hanya muncul enggak lebih dari tiga detik di tiap film.
Cuma jadi barista figuran, tapi sampai belajar soal biji kopi. Cuma jadi tenaga kesehatan figuran, tapi sampai belajar cara bantu pasien melahirkan. Cuma disuruh niruin suara hantu Jepang, tapi sampai belajar sejarah samurai dan katana.
Tapi justru itu yang jadi daya tariknya.
Premis di buku maupun filmnya sama. Dan memang, lagi-lagi, itu daya tarik yang bikin gue sempat mikir bakal seru kalau novel ini diangkat jadi film. Gue udah membayangkan aktor-aktor seperti Reza Rahadian, Nicsap, atau mungkin Morgan Oey yang bakal ganti-gantian adu akting di filmnya.
Ternyata pas nonton nama-nama yang gue sebut di atas enggak muncul satu detik pun. Pemain-pemainnya mungkin bisa dibilang adalah aktor kelas kedua, tanpa ada aktor papan atas yang terlibat. Oke, kecuali Yayan Ruhiyan yang itu pun hanya muncul sebagai kameo.
Tapi enggak apa-apa. Karena udah keburu nonton adegan-adegan awalnya, gue tetap melanjutkan buat nonton sampai habis. Di tengah-tengah nonton, istri gue nyamperin.
“Kamu lagi nonton apa?” tanyanya.
“Si Paling Aktor.”
“Kamu yakin mau nonton itu?”
“Kenapa emang?”
“Gak apa-apa. Aku sih enggak nonton sampai habis.”
“Kenapa emang?”
“Kurang,” katanya. “Ini film yang enggak jadi tayang di bioskop itu, bukan?”
“Hah? Kenapa emang?”
“Enggak tau. Taunya gitu, cuma lupa-lupa ingat kenapanya.”
Lalu dia berlalu. Meninggalkan gue dengan pilhan sulit: lanjut nonton tapi bakal kecewa, atau ganti tontonan yang belum tau apa dan jam makan siang keburu lewat. Tapi karena gue biasanya enggak satu selera film sama istri gue, jadilah gue memutuskan untuk lanjut nonton aja, tapi menurunkan ekspektasi serendah-rendahnya dan cukup ngikutin alurnya aja. Lagi pula ini kan genrenya komedi. Gue nungguin komedinya aja deh, pikir gue.
Ternyata:
→ Aktingnya B aja;
→ Komedinya cukup maksa;
→ Banyak adegan yang diburu-buru.
Pantes istri gue yang bosenan itu enggak nonton sampai habis.
Tapi di luar tiga poin di atas, menurut gue Si Paling Aktor bisa jadi film yang bagus kalau saja digarap dengan serius. Kenapa? Versi novelnya udah bagus banget. Saking bagusnya, gue pernah berharap ini diangkat jadi film. Dan jujur, pada beberapa bagian gue udah sempat tersentuh dengan jalan cerita film ini. Sayangnya, karena eksekusinya yang kurang banget, sentuhannya berubah jadi cubitan. Dari yang tadinya sempat berharap bakal bagus, jadi just an average Indonesian comedy movie.
“Udah beres nontonnya?” tanya istri gue setelah ngeliat gue matiin ponsel.
“Udah.”
“Gimana?”
“Yah, begitulah.”
“Begitulah gimana?”
“Ceritanya bagus. Premisnya menarik banget, sama kayak di bukunya. Tapi eksekusinya memang enggak niat. Jadi hasilnya juga, ya, begitu.”
Untuk mengurangi kekecewaan yang sebenarnya enggak kecewa-kecewa amat sehabis nonton film ini, gue pun memutuskan untuk lari sore di lapangan dekat rumah.
