Jika Hurricane Henri Terjadi di Indonesia
Di Indonesia sedikit sekali film yang mengangkat tema bencana alam. Bahkan saat ngecek di Google pun gue cuma ketemu dikit. Kurang dari sepuluh, dan itu pun enggak ada yang rame. Sedangkan di Hollywood sana, gue sampai bingung menentukan film dengan tema bencana alam favorit karena saking banyaknya. Dari bencana banjir, tsunami, gunung meletus, sampai kiamat pun ada filmnya.
Di film Thrash yang baru saja gue tonton di Netflix, ceritanya ada badai yang diberi nama Hurricane Henri yang digambarkan sebagai Badai Kategori 5 (badai yang dahsyat banget pokoknya mah). Nah, badainya menghantam kota pesisir fiktif bernama Annieville di South Carolina. Skala badai ini gue rasa sengaja dibuat ekstrem untuk menonjolkan pesan mengenai perubahan iklim yang menjadi tema besar di film ini.
Jadi kalau di Hollywood sana memang cukup banyak pegiat film yang lantang menyuarakan campaign soal perubahan iklim, salah satunya Leonardo DiCaprio. Makanya enggak heran banyak film yang mengusung tema tersebut. Namun itu juga bukan berarti di industri film Indonesia enggak peduli sama lingkungan. Pasti ada, cuma pasti mahal sehingga mungkin dananya hanya cukup buat bikin film komedi horor. Mungkin.
Balik lagi ke Thrash, selain badai dahsyat, biar lebih seru lagi ditambahin hiu. Rupanya badai besar ini membawa hiu-hiu pemangsa yang sangat lapar dari lautan lepas "terdampar" di Annieville, dan orang-orang yang terjebak harus memutar otak buat bisa keluar mencari bantuan tanpa dimakan hiu.
BTW, gue baru tau kalau judul asli film ini adalah Beneath The Storm, tapi berubah jadi Thrash pas masuk Netflix—yang gue enggak ngerti apa artinya.
Semua tokoh utama di film ini selamat dengan caranya masing-masing, dan tentu saja dengan pengetahuannya masing-masing. Tokoh utamanya, Dakota (Whitney Peak), adalah keponakan dari Dr. Dale Edwards (Djimon Hounsou) yang merupakan seorang peneliti hiu. Kurang kerjaan apa coba dia, sampai-sampai sekolah tinggi-tinggi buat meneliti hiu? Tapi justru pengetahuan itulah yang kemudian dia bagikan ke keponakannya yang kemudian menggunakannya untuk bisa lolos dari gigitan hiu dan selamat dari bencana alam dahsyat.
Gue pun jadi berandai-andai bagaimana jika seandainya Hurricane Henri terjadi di Indonesia, dengan kondisi kita enggak punya ahli hiu, warga yang punya survival skill rendah, dan pemerintah yang lebih memilih bayar buzzer buat bilang kondisi aman alih-alih beneran kerja menyelamatkan warga.
Jika Thrash terjadi di Indonesia, mungkin saja Dr. Dale Edwards bukannya memperingatkan pemerintah akan bahaya Hurricane Henri, dia malah pergi naik kereta ke luar kota yang tidak akan terdampak oleh bencana—tentu saja tanpa menghiraukan ponakannya yang lebih milih pesan Domino’s Pizza daripada mengungsi.
Kalau itu terjadi, mungkin durasi film Thrash bakal selesai cuma dalam waktu 15 menit saja. Begitu banjir mulai tinggi dan menutupi lantai dua rumah, Dakota bukannya berlindung ke atap malah langsung loncat ke dalam air dan berenang sambil teriak, “Seru banget, anjay!” lalu semenit kemudian dimakan hiu. Boro-boro nolongin Lisa yang terjebak di dalam mobil dalam keadaan hamil.
Ron, Dee, dan Will mungkin tidak akan pernah mendapatkan ide untuk menggunakan daging dan bahan peledak untuk mengalahkan hiu. Alih-alih, mereka mungkin mati kedinginan sampai membeku karena enggak bisa menyelam ke basement. Kalaupun bisa, dan andaikata berhasil selamat dari hiu, rasanya belum tentu mereka selamat juga karena ada satu kendala lain: enggak bisa nyetir mobil. Ending-nya mereka tetap mati kedinginan karena nungguin tim SAR yang ternyata enggak datang-datang.
Namun hal-hal semacam itu memang enggak bisa dihindari saat terjadi bencana alam. Jadi bukan salah Dr. Dale yang ingin menyelamatkan diri sendiri; bukan salah Dakota yang enggak tahu-menahu soal hiu; juga bukan salah Ron, Dee, dan Will yang enggak bisa ngapa-ngapain karena mereka mungkin juga enggak pernah berpikir akan menghadapi situasi sulit pada usia remaja. Namun, yang paling mungkin disalahkan adalah sikap pemerintah yang terkesan tidak serius dalam menangani bencana alam. Jadi, jangankan mencerdaskan bangsa lewat pendidikan yang memadai, sekadar menjaga alam demi mencegah terjadinya bencana saja enggan. Padahal, menjaga alam adalah cara paling mudah untuk dilakukan.
Karena sungguh, jauh lebih mudah menanam bibit-bibit pohon baru dan menyiraminya tiap hari lalu dinikmati hasilnya dalam beberapa tahun, daripada menebang ribuan batang pohon hanya demi mengakomodasi kerakusan dan ketamakan yang kelak melahirkan bencana yang bikin bingung satu negara.
Sekarang hampir lebih banyak hutan yang gundul daripada hutan hijau nan produktif di Indonesia, dan ini sama sekali bukan kabar baik. Lalu gue jadi mikir ulang soal kenapa sedikit sekali film bertema bencana alam di Indonesia. Mungkin, sekali lagi, mungkin karena bencana sesungguhnya di Indonesia bernama pemerintah inkompeten—bukan bencana alam.
