Dopamin Atau Adrenalin?
Pertanyaan ini muncul terus-menerus sepanjang gue menonton film Dopamin (2025) yang dibintangi Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon. Gue bahkan sampai harus nyari definisi kedua kata tersebut untuk memastikan apakah gue keliru.
Dopamin adalah senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang berfungsi sebagai pembawa pesan antar sel saraf, sering dijuluki "hormon bahagia" karena berperan penting dalam menciptakan rasa senang, motivasi, dan sistem penghargaan (reward system). Zat ini mengontrol berbagai aktivitas tubuh seperti gerakan, memori, suasana hati, dan perilaku.
Adrenalin (juga dikenal sebagai epinefrin) adalah hormon dan neurotransmiter yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan otak. Fungsi utamanya adalah mempersiapkan tubuh menghadapi bahaya, stres, atau situasi menegangkan melalui respons "lawan atau lari" (fight-or-flight). Hormon ini bekerja cepat meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan energi.
Setelah mencari kedua definisinya, ternyata gue tetap bingung sebenarnya ini masuknya dopamin atau adrenalin. Namun sepertinya gue enggak perlu membahas itu terlalu serius, karena yang jauh lebih penting buat dibahas adalah: film ini bagus banget, tapi sayang jumlah penontonnya enggak seramai film KKN di Desa Penari.
Terakhir gue cek, jumlah penonton Dopamin setelah turun layar adalah 158.339 orang dengan showtime yang mendekati sepuluh ribu. Padahal menurut gue premisnya sangat menjanjikan, dan eksekusinya pun sangat baik.
Premisnya sangat kuat; seorang suami yang udah sekitar setahun menganggur setelah kena PHK, tinggal berdua dengan istri dan jauh dari orang tua, tabungan mulai menipis, dan istri baru aja positif hamil. Dalam keadaan krisis itu, mereka kedatangan tamu orang asing yang menolong sang suami saat mobilnya mogok di jalan. Tamunya nginap karena cuaca buruk, dan besoknya tamu asing itu mati di kamar tamu dengan kondisi ninggalin uang tunai satu koper penuh. Satu. Koper. Penuh.
Dalam keadaan seperti ini, kebanyakan orang pasti akan langsung dibutakan pikirannya. Begitu juga Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon yang berperan sebagai Malik dan Alya di film ini. Malik dan Alya seperti ketiban durian runtuh, tapi sama pohon-pohonnya. Ini ibarat orang udah ngelamar kerja sini-sana dan belum dapat kabar baik, lalu tiba-tiba ada orang yang enggak dikenal nawarin, “Lo mau buka dapur MBG, gak? Gue modalin. Tapi ada racunnya, ya.”
Orang yang hidupnya masih cukup-cukup aja pasti bakal langsung menolak mentah-mentah, tapi orang yang lagi butuh banget pasti bakal mikir dulu. Insentif 6 juta per hari, enggak perlu bayar pajak, enggak perlu kompeten, enggak perlu bersih, enggak butuh ahli gizi jadi enggak perlu mikirin gizinya, dijamin gak akan ada premannya. Bayangin lo mau buka bisnis makanan dan enggak perlu mikirin hal-hal seperti itu, cukup bilang iya dan semuanya tinggal terima beres. Tahun depannya dijamin untung ratusan persen, bukan cuma balik modal.
Malik dan Alya di film Dopamin juga dihadapkan pada situasi serupa. Bedanya, mereka enggak nyawit uang rakyat aja.
Yang gue suka dari film Dopamin ini adalah karena ceritanya mengalir dengan natural, enggak buru-buru, dan setiap keputusan tokohnya benar-benar terasa alami, seolah-olah dibikin mikir kayak, “Kalau gue di posisi dia juga kayaknya bakal ngelakuin hal yang sama deh.”
Kebingungan dan kewaspadaan tokoh Malik di sini juga sangat masuk akal, dan respons Alya sebagai istri yang sama bingungnya juga sangat bisa dipahami. Menurut gue, film ini paling enggak bisa mencapai minimal satu juta penonton dan dibicarakan di mana-mana. Namun, setelah gue cek tanggal tayangnya, gue paham kenapa gagal meraih sejuta penonton.
Film ini ternyata tayang 13 November 2025. Lalu 2 minggu setelahnya, Agak Laen 2 tayang. Kemunculan Agak Laen 2 memang bikin semua film tiarap, bahkan untuk sekelas film Hollywood seperti Avatar: Fire and Ash (Avatar 3) dan Five Nights at Freddy's 2 pun dibuat tak berkutik. Apalagi Dopamin yang istilah kata hanya “numpang lewat”.
Anyway, karena dopamin dan adrenalin secara definisi masih mirip, jadi anggap aja memang yang benar adalah dopamin, bukan adrenalin. Karena yang bikin film pasti lebih tau kalau Angga dan Alya sedang memupuk dopamin, bukan memacu adrenalin.
