Bukan Legenda Kelam Malin Kundang
Saya nonton film ini di Netflix sambil makan siang hari ini, tanpa ekspektasi. Dan saat saya menulis soal Legenda Kelam Malin Kundang ini malam-malam, rasa mualnya masih ada, bahkan beberapa potongan adegannya masih menari-nari di kepala.
Kalau kamu punya trauma masa lalu yang berkaitan dengan keluarga, sebaiknya hindari menonton film ini karena bisa jadi pemicu rasa sakit itu hadir lagi. Film ini bukan soal kisah anak yang durhaka pada orangtuanya seperti kisah Malin Kundang yang asli. Ini lebih kelam dari itu. Jauh jauh jauh lebih kelam dari judulnya.
Film ini dibuka dengan adegan pemeran utama Alif, seorang seniman micro painting yang baru saja keluar dari rumah sakit akibat kecelakaan mobil yang membuatnya lupa sebagian besar kejadian masa lalunya. Adegan pembuka ini mengingatkan saya pada film Memento (2000) dari Christopher Nolan yang tokoh utamanya juga mengalami hilang ingatan.
Dari awal sampai akhir saya dipaksa ikut menebak-nebak adegan-adegan berikutnya, dan mulai menyimpulkan ke mana jalur ending film ini akan mengarah. Ternyata, tebakan saya meleset jauh. Lebih jauh dari hubungan Megawati dengan Jokowi saat ini. Ending-nya benar-benar menguras emosi jiwa, dan karena itu sangat tidak saya sarankan bagi siapa pun yang punya trauma masa lalu perihal keluarga.
Anyway, tulisan ini bukan ingin mengulas film Legenda Kelam Malin Kundang. Kalau mau baca ulasan singkat dan lebih tepat, saya sarankan untuk baca postingan Hafilova di X saja.
Oke, lanjut.
Setelah beres menonton, tiba-tiba saja saya kepikiran: kenapa, ya, hal seperti ini banyak terjadi? I mean, ini memang film, tetapi kenyataannya banyak hal serupa yang terjadi di dunia nyata. Dan saya mulai dibuat overthinking kenapa banyak sekali orang yang bisa berbuat jahat pada sesamanya manusia sampai-sampai bisa menghilangkan nyawa orang yang seharusnya mereka dekap dan lindungi.
Tiba-tiba saya pun teringat obrolan-obrolan bersama istri soal kenapa ada orangtua yang hanya menikah, melahirkan, lalu membesarkan anak-anak tanpa mendidik. Jangankan mempersiapkan soal pendidikan, memikirkannya pun tidak. Dan, ya, setelah saya pikirkan berulang kali saya pun sampai pada kesimpulan bahwa semua kejahatan ini terjadi dimulai dari pendidikan yang tidak memadai, plus trauma yang dibangun sebagai tembok besar yang menghalangi kebaikan. Ada ketimpangan pendidikan yang sangat besar, dan hal-hal salah yang diglorifikasi turun-temurun.
Di tempat saya lahir di salah satu kabupaten kecil di Sulawesi Selatan, ada banyak sekali hal dulunya saya anggap biasa dan wajar, tetapi baru benar-benar saya sadari bahwa itu salah setelah saya merantau ke kota.
Misalnya soal mitos. Orang-orang di kampung banyak yang percaya bahwa duduk di depan pintu bisa menimbulkan petaka, atau jika saat keluar rumah kita berpapasan dengan orang bermata juling maka kita akan kena sial seharian. Atau yang lebih tidak masuk akal lagi: kalau kita menduduki bantal, pantat kita akan meledak.
Waktu kecil, saya percaya semua mitos itu. Saya jadi tidak mau duduk di depan pintu karena takut jadi sumber petaka. Tiap keluar rumah saya menghindari menatap mata orang yang saya temui karena takut ada yang matanya juling dan saya jadi kena sial. Dan saya juga jadi tidak berani duduk di bantal meski pada saat-saat tertentu ketika harus duduk lama di lantai, saya butuh. Saya takut pantat saya benar meledak.
Saya tumbuh dengan ketakutan akan hal-hal yang tidak masuk akal, dan akal saya gagal menelaahnya pada saat itu. Dan itu baru beberapa contoh saja. Belum termasuk hal-hal mistis dan hal-hal yang dikait-kaitkan dengan agama. Saya mungkin termasuk yang beruntung, karena akhirnya saya jadi sadar bahwa semua itu hanya omong kosong dan bualan semata yang entah dibuat oleh siapa. Namun, ada beberapa teman saya yang sampai sekarang masih percaya bahwa orang yang kerjanya di rumah doang tapi bisa dapat uang sudah pasti memelihara tuyul. Meski sudah saya jelaskan bahwa sekarang banyak orang yang bisa bekerja dan dapat uang lewat internet, nalarnya lebih memilih untuk percaya pada tuyul.
Ini yang saya maksud dengan ketimpangan pendidikan. Pendidikan yang kurang mengakibatkan penalaran yang tidak memadai. Penalaran yang tidak memadai membuat kita jadi tidak bisa berpikir secara terstruktur, apalagi rasional. Karena tidak bisa berpikir dengan lebih baik, maka otak kita “terpaksa” menerima informasi yang tersimplifikasi karena lebih bisa diterima oleh otak tanpa melalui proses penyaringan informasi yang panjang dan langsung tiba pada konklusi saja.
Akibatnya, kita lebih mungkin meyakini bahwa jika kita menduduki bantal maka pantat kita akan meledak, alih-alih berpikir bahwa mungkin ini hanya sebuah imbauan agar kita tidak duduk di bantal karena nanti bantalnya jadi rusak. Zaman dahulu butuh usaha ekstra untuk membuat bantal sehingga harus dijaga sebaik mungkin. Sekarang, bisa tinggal check out di marketplace.
Akibat dari minimnya literasi karena akses pendidikan yang sangat terbatas pada akhirnya melahirkan pola didik yang keliru. Pada tahap ekstrem mampu menumbuhkan anak yang tumbuh besar dengan pemikiran yang menganggap kejahatan dan kriminal adalah hal yang biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.
Ada juga contoh lain yang dipengaruhi oleh lingkungan dan mungkin lebih relatable dengan kondisi saat ini. Misalnya: merokok. Anak yang tumbuh melihat ayah dan ibunya merokok akan menganggap merokok adalah hal yang sangat biasa. Anak ini justru akan heran jika nanti bertemu orang yang tidak merokok, sebab sehari-harinya ia melihat kedua orangtuanya merokok. Ia tidak tau merokok tidak sehat. Yang ia tau orangtuanya merokok dan itu tidak apa-apa. Lingkungan yang acuh tak acuh juga berpeluang besar menciptakan manusia-manusia ignorant, dan jika kita tarik lagi mundur jauh ke belakang, faktor yang membuat kedua orangtua dan anak ini menganggap merokok adalah sebuah kelumrahan … adalah pendidikan.
Jika orangtuanya adalah orang dengan pendidikan baik dan layak, maka ia akan tau seberapa bahaya asap rokok. Maka secara logika, mereka tidak akan merokok. Jika mereka tidak merokok, anak mereka tidak akan melihat kebiasaan itu, dan akan kaget atau minimal bertanya-tanya kenapa ada orang merokok. Jika orangtua memiliki pemahaman yang cukup akan bahaya dan efek jangka panjang dari rokok, maka mereka bisa dengan mudah menjelaskan pada anaknya.
Menjelaskan hal-hal seperti ini pada anak tidak cukup satu kali, dan butuh pendekatan yang berbeda untuk tiap anak. Maka, diperlukan usaha dan kecakapan berpikir yang baik untuk bisa menunaikannya. Selain itu, kesabaran tingkat tinggi juga sangat dibutuhkan. Anak-anak mudah sekali lupa, sementara orang dewasa cenderung tidak suka mengulang-ulang hal yang sudah sangat jelas. Karena itu butuh kecerdasan emosional yang baik, dan ini hanya bisa dicapai jika memiliki akses pada ilmunya.
Dan karena itu, pendidikan sangatlah penting. Pendidikan gratis yang berkualitas jauh lebih penting daripada makan gratis yang belum pasti bergizi.
