6 Pelajaran Penting dari Series Breaking Bad
Ya, saya tau ini telat sekali. Saya baru berhasil menamatkan series Breaking Bad sehari sebelum Lebaran tahun ini. Saya sempat menonton episode pertama sekitar beberapa tahun lalu, tapi berhenti pada 10 menit pertama karena merasa pace-nya terlalu lambat.
Sekian tahun berlalu, tiba-tiba series ini ramai lagi dibicarakan di media sosial sebagai series terbaik sepanjang masa. Saya pun mencoba menontonnya kembali. Beberapa episode awal memang cenderung membosankan, jadi saya paham kenapa banyak orang enggak lanjut nonton sampai beres. Seingat saya, beberapa episode yang seru pun masih ada beberapa bagian yang kesannya dragging banget, tapi bisa disiasati dengan fitur forward (kan kalau kelewat juga bisa dimundurin lagi).
Setelah menyelesaikan season kedua, saya mulai ketagihan.
Well, sebelum saya mulai membahas tentang 6 pelajaran penting dari series Breaking Bad, saya akan menjelaskan dulu secara singkat tentang apa series ini dan kenapa bisa didapuk jadi series terbaik sepanjang masa.
Breaking Bad bercerita tentang Walter White, seorang guru Kimia yang memutuskan untuk memproduksi narkoba jenis metamfetamin berbentuk kristal biru berkilau, tak lama setelah dia divonis menderita kanker paru-paru. Dari yang awalnya hanya coba-coba dan memuaskan rasa penasaran, tiba-tiba saja ia bersama bekas muridnya, Jesse Pinkman harus berurusan dengan gembong-gembong narkoba di seantero New Mexico. Dari yang mulanya hanya untuk bertahan hidup (dan syukur-syukur bisa nabung buat anak-anak dan istrinya kelak), tiba-tiba jadi harus terlibat percekcokan dengan beragam pembunuh berdarah dingin dan main kucing-kucingan dengan Badan Narkotika Amerika Serikat alias DEA.
Setelah menyelesaikan menonton 5 season + 1 filmnya berjudul El Camino, saya mendapat banyak sekali pelajaran penting, dan berikut 6 di antaranya yang masih terekam segar di ingatan.
#1 Uang Tidak Boleh Terlalu Banyak
Pada epsiode yang entah keberapa, ketika Walter White sudah berhasil mendapatkan jutaan dolar dari bisnis narkoba yang ia bangun, ada adegan di mana ia membeli mobil mewah untuk anaknya, tetapi kemudian diminta istrinya untuk mengembalikannya ke dealer. Walter mengiyakan, meski tak terima. Ia pun mengendarai mobil itu sampai rusak dan meledak, lalu dia tinggalkan begitu saja.
Sebelumnya, Walter sangat berhati-hati menjaga barang-barang miliknya karena ia tau betapa susahnya mengumpulkan uang untuk membelinya. Dari sini saya menangkap bahwa punya terlalu banyak uang bisa bikin kita jadi tidak peduli sama benda. Nilai atas sesuatu jadi hilang karena kita merasa bisa membeli dan mendapatkannya lagi kapan pun kita mau. Tanpa usaha berarti.
#2 Orang yang Benar-Benar Punya Skill Tak Akan Tergantikan
Walter White mampu memproduksi metamfetamin dengan tingkat kemurnian hingga 99%. banyak orang mencoba menirunya, tetapi paling mentok hanya mencapai 70%. Semua ini karena Walter memproduksi narkoba menggunakan metode ilmiah dan berdasarkan bidang keilmuan yang benar-benar ia kuasai, sedangkan orang lain hanya sekadar berusaha meniru tanpa punya dasar keilmuan yang mumpuni.
Berkali-kali Walter ingin dihabisi oleh bosnya, atau orang lain yang menganggapnya sebagai pengganggu. Namun, selalu berakhir sia-sia karena Walter punya bargaining power yang sangat kuat. Dia tidak tergantikan. Prinsip dia: lu bunuh gue = gak ada metamfetamin berkualitas. That’s simple.
Akan tetapi perlu diingat juga, bahwa tak tergantikan bukan berarti enggak ada gangguan. Akan ada aja orang-orang yang enggak suka dan berusaha menjatuhkan. Karena itu, skilled aja enggak cukup. Tetap perlu punya prinsip dan senjata buat melawan balik juga, just in case~
#3 Perempuan Tidak Pernah Benar-Benar Mengerti Laki-Laki
Setidaknya itu yang terlihat dari series ini. Setelah dibuat gregetan oleh Skyler istrinya Walter selama dua season penuh, saya jadi menarik kesimpulan bahwa perempuan dan laki-laki sepertinya memang selalu berbeda dalam hal pemikiran. Perempuan mikirnya A, laki-laki mikirnya B. Padahal yang dipikirkan adalah hal yang sama.
Satu-satunya hal yang membuat perempuan dan laki-laki bisa terlihat nyambung dan sefrekuensi adalah karena laki-laki berkompromi. Biasanya, berdasarkan pengalaman, laki-laki lebih mungkin berkompromi dibanding perempuan.
#4 Ketamakan Memaksa Kita Melakukan Apa Pun
Ya. Ketamakan akan memaksa kita untuk melakukan apa pun demi memuaskan nafsu, termasuk menjadi manipulatif.
Walter White adalah pribadi yang baik, cerdas, dan sangat jujur. Namun, pada satu titik akhirnya dia mulai memanipulasi orang-orang sekitarnya hanya agar rencana dan tujuannya untuk mendapatkan sebanyak mungkin uang lewat memproduksi narkoba, tercapai. Dan hal itu dia lakukan dengan kesadaran penuh, karena dia tidak lagi bisa mengontrol diri. Sifat tamak mulai tumbuh dan menjalar dalam dirinya, sehingga dia jadi lupa untuk merasa cukup dan mulai gampang tersinggung jika ada yang menyenggol hal yang akhirnya jadi bagian dari kehidupan dan harga dirinya.
Series ini mengajarkan saya untuk senantiasa merasa cukup, dan tidak berupaya menghamburkan harta ketika diberi lebih.
#5 Orang Baik Akan Tetap Jadi Orang Baik
Walter White adalah orang baik. Dan sampai akhir hayatnya, ia tetap menjadi orang baik, setidaknya untuk keluarganya dan Jesse Pinkman. Meski ia berubah menjadi menyeramkan (untuk keluarga dan musuh-musuhnya), saya tetap melihat ia adalah Walter White yang penuh pertimbangan dan kehati-hatian, juga orang baik yang sangat kebingungan.
Kebingungan dalam memilih antara berhenti (tapi harus menanggung risiko diteror dan dihantui) atau lanjut terus (tapi mau tidak mau akan melibatkan makin banyak pihak sekaligus merugikan semua orang di dekatnya) bagi saya cukup memperlihatkan bahwa ia sejatinya adalah orang baik yang berusaha meminimalisir risiko. Hanya saja Walter telat menyadari bahwa risiko atas keputusan yang ia ambil terlampau besar untuk bisa ia hadapi sendirian.
Namun saya percaya bahwa pada akhirnya, orang baik akan tetap jadi orang baik, meski kadang keadaan tak memberikan pilihan. Dan sayangnya, kita lebih sering hanya melihat hasil akhirnya, tanpa pernah benar-benar tau proses dan motif di baliknya—mengabaikan bigger picture-nya.
#6 Once You Go In, It Will Haunt You for the Rest of Your Life
Walter mengambil satu langkah coba-coba, merasa bisa dan aman, lalu mencoba lagi. Sampai ketika sadar dan mencoba berhenti, rupanya ia sudah melangkah terlalu jauh. Kini pilihannya hanya antara berhenti tapi mati, atau lanjut terus. Saat ia memilih lanjut terus risiko mati tetap ada, tapi peluang untuk jadi raja juga sama besarnya.
Spoiler alert: semua orang yang terlibat langsung dalam kerajaan bisnis narkoba yang dibangun Walter White mati mengenaskan, kecuali Jesse Pinkman—sosok yang paling dijaga dan sangat dipedulikan oleh Walter, bahkan melebihi anaknya sendiri. Sayangnya, Jesse yang notabene juga adalah orang baik yang tadinya tidak tau apa-apa, harus menanggung akibat: dihantui rasa bersalah dan kengerian selama sisa hidupnya.
Di film El Camino: A Breaking Bad Movie, Jesse Pinkman memang pada akhirnya memulai hidup baru dengan identitas baru dan meninggalkan segala hal yang ada di masa lalunya tanpa sisa. Sayangnya, kita semua tau apa yang sudah tertanam di kepala tidak bisa lenyap begitu saja. Jika tidak kuat, bisa saja semua sisa-sisa itu mengubah hidup Jesse jadi sia-sia.
