Kepekaan


Sebagai seorang introver akut, selama kuliah hingga awal-awal bekerja secara remote saya banyak menghabiskan waktu di rumah saja atau lebih spesifik di kamar. Saya bisa berdiam diri di kamar hingga sebulan lamanya dan hanya keluar jika ingin makan, mandi, atau kebutuhan mendesak lainnya. Sisanya saya benar-benar hanya di kamar untuk bekerja dan mengulik dunia maya raya.

Sesekali saya keluar jika merasa sudah waktunya, atau ketika ada ajakan untuk main atau ngopi dari teman-teman dekat. Sayangnya, teman dekat saya sedikit, jadi main dan ngopinya beneran hanya sesekali.

Hal ini berlangsung cukup lama sampai saya tiba pada satu titik di mana saya merasa sepertinya sudah perlu lebih banyak bersosialisasi dan bertemu orang-orang. Sejatinya, saya sangat senang mengobservasi lingkungan beserta orang-orangnya, tetapi lebih seringnya rasa malas mengalahkan segalanya.

Setahun terakhir, saya mulai aktif bikin konten di LinkedIn membahas seputar AI, nge-DM orang-orang yang menurut saya menarik buat diajak diskusi, mulai diajak ngisi webinar, ikut event, hingga sengaja bikin janji buat ketemu dan ngobrol sama orang-orang yang menurut saya punya kapabilitas dan bisa jadi tempat buat saya belajar banyak hal baru.

Saya mulai membuka diri pada dunia luar, pada kesempatan-kesempatan baru yang mungkin sebelumnya hanya jadi angan-angan di kepala.

Dan gara-gara makin sering bertemu orang dari berbagai latar belakang dan kepribadian, saya jadi menyadari satu hal yang nampaknya sering dilupakan: kepekaan.

Saya pernah bertemu dengan salah satu kenalan yang senang sekali ngomong. Saking senang dan semangatnya, dia sampai tidak sadar kalau orang-orang di dekatnya sudah merasa bosan karena ngomongnya udah kepanjangan. Saya dan beberapa orang lain yang jadi pendengarnya dapat merasakan perasaan awkward dan mulai tidak nyaman karena obrolan yang hanya satu arah dan makin lama makin menurun tingkat ketertarikannya, tetapi orang tersebut tetap saja ngomong tanpa peduli.

Pada waktu lain, saya juga pernah mengobrol dengan kenalan yang hobinya ngomongin pengalamannya yang sudah sangat panjang dan merasa lebih tau lebih banyak dari orang lain. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan, sebab saya tau ilmu saya masih kurang dan informasi yang dia berikan bisa saya anggap sebagai ilmu tambahan baru. Namun, saya yakin banyak orang yang mikir orang ini ngomongnya kelamaan dan kadang melenceng jauh dari topik utama yang sedang dibahas.

Di atas hanyalah dua contoh kecil orang-orang yang ternyata jago ngomong, tapi tidak piawai menangkap situasi. Atau dengan kata lain: tidak peka.

Saya sendiri ketika ngobrol dengan orang yang saya anggap kurang cocok atau kurang nyambung, akan berusaha menggali topik seputar hal yang sedang digeluti lawan bicara saya. Namun, ketika sudah menyelami dua hingga tiga topik dan belum merasakan kecocokan, otak saya akan segera berpikir bagaimana caranya mengalihkan topik atau segera mengakhiri obrolan. Karena jika tidak, orang yang tidak memiliki kepekaan akan merasa lawan bicaranya nyaman dan antusias sehingga ia akan terus-menerus mengocehkan hal yang sebetulnya hanya menarik untuk dirinya sendiri.

Dari pengamatan dan pengalaman saya sejauh ini, komika atau standup comedian adalah orang-orang yang punya kepekaan cukup tinggi. Misalnya ketika mereka sedang tampil dan membaca respons penonton yang kurang antusias, para komika akan segera mengakhiri penampilan, atau membelokkan materi ke sesuatu yang biasanya jadi senjata andalan anti nge-bomb. Ini adalah tingkat kepekaan yang saya suka.

Oh. Sekali-duakali, saya juga pernah bertemu orang yang hobinya memperkenalkan orang-orang terkenal dan hebat kepada saya. Saya bertemu dengannya sekitar tiga atau empat kali, dan pada tiap pertemuan setidaknya ia memperkenalkan sepuluh hingga lima belas tokoh yang ia anggap berpengaruh di industri, dan merasa saya perlu mengenalnya juga.

Saya senang diperkenalkan dengan tokoh-tokoh tersebut. Saya hanya tidak nyaman dengan fakta bahwa gara-gara kebanyakan memperkenalkan orang, tujuan awal kami bertemu jadi tidak dibahas sama sekali—yang berarti perkenalan tokoh-tokoh tadi jadi tidak ada gunanya.

Namun, syukurlah. Gara-gara ketemu orang-orang seperti ini, saya jadi bisa lebih peka membaca situasi dan mengenali gestur saat orang-orang merasa tidak nyaman, tidak nyambung, atau mulai merasa bosan saat mengobrol. Sehingga, saya jadi bisa tau kapan harus tetap berbicara dan kapan harus berhenti dan pamit.

Maka saya pamit.
Copyright © N Firmansyah
Currently Building Artifisial.