The Unfairness


Di sebuah negeri antah-berantah, seseorang berhasil menginisiasi membangun sebuah startup yang idenya sangat baru, segar, dan berbeda dari startup kebanyakan. Ia berhasil mempengaruhi beberapa temannya untuk bergabung tanpa dibayar, hanya dengan iming-iming pembagian saham ditambah kepercayaan diri tinggi bahwa startup yang dibangunnya akan berhasil dan membuat mereka kaya raya hingga setidaknya usia lima-lima.

Pada awalnya mereka sangat bersemangat. Tidak dibayar? Tidak masalah! Belum menghasilkan revenue? Hajar terus sampai tembus! Capek? Pegal-pegal? Kantung mata makin tebal? You name it. Demi keberhasilan startup ini, mereka semua sudah berkomitmen untuk bahu-membahu membanting tulang hingga akhirnya berhasil menelurkan produk yang harapannya bakal dipakai banyak orang di luar sana.

Enam bulan berlalu, trafik website pelan-pelan menanjak. Pengguna terus bertambah, tetapi tak ada pengguna berbayar. Beberapa brand menghubungi untuk potensi kerja sama, tetapi belum sampai tembus. Mereka mulai kehabisan akal, ongkos infrastruktur makin besar, budget marketing makin tipis, semangat ikut merosot, sampai Americano pun tak lagi terasa pahir. Dan akhirnya mereka mengeluarkan kunci terakhir yang mereka pegang: minta pendanaan ke venture capital.

Deck yang megah sudah dibuat, financial projection sudah rampung, dan revenue stream sudah lengkap. Online meeting digelar. Presentasi berjalan lancar, investor terlihat sangat tertarik dan bersemangat—mengangguk sepanjang penjelasan. Hingga akhirnya tiba pada pertanyaan yang membuat semua anggota tim terdiam: “Kalian sudah menghasilkan berapa revenue?”

Hening tercipta sejenak. Hanya ada suara kipas kecil yang tak sanggup meredam panasnya ruangan. Lalu, salah satu dari mereka menyahut, “Mungkin bisa dilihat saja bagian revenue stream di deck.”

Namun investor meminta angka nyata. “Kalau kalian sudah menghasilkan seratus juta dolar ARR, datang lagi ke kami, kami pastikan kalian akan dapat pendanaan,” pungkas sang investor sembari mengakhiri meeting. Sang pendiri startup berceloteh, “Kalau udah ngasilin seratus juta dolar per tahun, gue enggak bakal nyari elo!” katanya dalam keadaan mikrofon dibisukan.

Sementara, pada waktu yang hampir bersamaan, di belahan dunia yang terkenal dengan budaya meritokrasinya seorang triliuner baru saja meresmikan sebuah startup baru. Belum punya produk, belum punya tim, boro-boro revenue stream. Namun, pada hari yang sama startup itu berhasil mendapatkan pendanaan dari rekan-rekan sang triliuner sebesar enam miliar dolar.

Enam miliar dolar. Tanpa produk, tanpa tim, tanpa ba-bi-bu. Enam miliar dolar.
Copyright © N Firmansyah
Currently Building Artifisial.