Kepulangan



Aku terbangun di tengah jalan, di keramaian orang-orang yang tidak akukenal. Semua orang mengenakan jaket tebal dan panjang, yang perempuan memakai rok, yang lelaki mengenakan celana jins, dan kesemuanya memakai sepatu bot. Satu lagi, semua warna pakaian mereka seragam: cokelat muda.

Beberapa orang mengenakan syal dengan motif kotak-kotak.

Aku kembali memperhatikan mereka satu per satu. Tetap, tidak satu pun dari mereka yang aku kenali.

Aku mencoba bangun dan berdiri.

Di kejauhan, aku melihat satu gedung pencakar langit yang perlahan berasap hitam dan roboh, diiringi kehadiran makhluk jelek dan panjang seperti naga yang muncul dari dalam awan yang menutupi lantai tertinggi gedung.

Makhluk jelek itu terbang ke arahku, yang masih berusaha menegakkan diri.

“Berlindung!” teriak suara di belakangku.

Aku berbalik. Di belakang sana ada Steve Rogers dengan kostum Captain Americanya memberikan arahan kepada warga kota untuk berlindung entah ke mana. Sementara dari arah makhluk jelek itu datang, suara tubrukan keras kembali berbunyi. Aku berbalik lagi dan makhluk hijau besar yang akukenal sebagai Hulk sudah menghantam kepala makhluk jelek itu dengan tinju besarnya.

Semua kejadian barusan terjadi sangat cepat, sampai-sampai aku belum sempat bergerak dari tempatku sedikit pun.

“Berlindung!” kata Steve Rogers lagi.

Aku berlari mengikuti orang-orang masuk ke dalam gedung yang belum hancur, sementara gedung-gedung di sebelahnya mulai runtuh oleh serangan pasukan yang menemani makhluk jelek tadi yang jumlahnya cukup untuk menghancurkan kota.

Aku dan warga kota lainnya berlari berdesakan, lalu seseorang sepertinya tidak sengaja menekel kaki kananku. Aku terjatuh sampai berguling-guling ke aspal.

Setelah itu, aku mendapati diriku berada di tempat yang lain lagi: sebuah kamar sempit dengan atap kaca. Akuamati sekeliling ruangan, tidak ada apa pun yang menarik kecuali sebuah meja yang penuh dengan koran berisi nama Superman dan seorang anak kecil berbaju hijau dengan tongkat di sudut sana.

“Hai, aku Freddy. Akutahu kau pasti kebingungan, tapi cobalah untuk santai, kau akan menyukai tempat ini segera. Oh, semua orang yang pernah ke sini juga sama bingungnya denganmu saat pertama.”

“Freddy?” kataku.

“Oh, Freddy Freeman. Bukan Freddy Mercury, dan Freeman bukan berasal dari Martin Freeman ataupun Morgan Freeman. Aku cukup yakin ayahku tidak mengenal keduanya saat ibuku melahirkanku.”

“Kau cerewet sekali,” kataku.

“Oh, beberapa orang, kautahu, diciptakan menjadi pendiam dan beberapa lainnya tidak bisa berhenti bicara. Tidak ada yang bisa kaulakukan selain menerima dan menjalaninya saja. Sama seperti, tunggu, kauliaht tongkat ini dari tadi, kan?” Ia mengangkat tongkat yang sedari tadi menopang kaki kanannya. “Sama seperti tongkat ini, ini adalah tongkat takdir. Aku terjatuh dari lantai dua rumah sakit saat umurku tiga tahun, dan aku berada di sini sekarang. Bagaimana denganmu?”

“Apa?”

“Maksudku, kau di sini tentu saja dengan cerita yang pahit dan memilukan. Oh, kautahu, aku selalu berharap cerita yang lebih sedih daripada miliku, setiap kali ada orang baru masuk ke sini.”

“Aku tidak mengerti.”

“Oh, tentu saja kau tidak mengerti.”

Aku berbalik dan membuka pintu kamar, menuruni tangga dan berlari keluar rumah yang entah bagaimana caranya aku bisa-bisanya sudah berada di lantai dua. Aku bahkan tidak tahu ini siapa pemilik rumah ini.

Di luar dingin sekali. Salju di mana-mana, menyelimuti seisi kota. Dan saat aku berbalik untuk kembali ke dalam rumah, ternyata sudah hilang.

Oh, Tuhan, kota ini sepi sekali. Tidak ada manusia, hanya gedung-gedung, jalan layang, minimarket, dan mobil-mobil yang terparkir di jalan diselimuti salju. Aku memperkirakan, kota ini sudah tidak dihuni bertahun-tahun.

Yang membuatku tidak habis pikir, aku berjalan di tengah salju ini dengan hanya mengenakan kaus berlengan pendek, celana pendek seperti yang sering dikenakan pemain bisbol Amerika, dan sandal jepit yang sepertinya kebesaran.

“Jangan ke sana!” seseorang berteriak. Akurasa perempuan, tetapi aku tidak tahu dari mana sumber suara itu.

“Jangan ke sana!” teriaknya lagi. Aku ingin berhenti, tetapi kakiku terus berjalan.

Aku berjalan sudah cukup jauh, sampai akhirnya aku menemukan sebuah toko kecil, mirip minmarket, yang tidak terselimuti salju. Aku masuk ke dalam, dan tiba-tiba musik disko berbunyi keras sekali bersama ramainya orang-orang. Akurasa, seluruh warga kota berada di dalam tempat ini tanpa kecuali.

Aku menerobos barisan orang-orang berbau alkohol, mencoba mencari kamar kecil. Dinginnya salju di luar membuatku ingin pipis sebanyak mungkin.

Di dalam kamar kecil tidak ada orang. Kamar kecil di sini terdiri dari empat urinoar berjejeran, masing-masing kaca di depannya, dan sebuah tulisan besar berwarna merah di bagian atas: HOMECOMING.

Saat akan keluar, aku berpapasan dengan seseorang yang jelek sekali. Ia memakai jubah berwarna hitam, telinganya lancip ke atas, matanya besar, dan sisanya kaubisa bayangkan orang paling jelek yang pernah kaulihat semasa hidup. Aku ingat pernah melihatnya di dalam film. Oh, mereka bangsa Kree!

Aku berjalan sambil tertawa. Aku pikir kaum Kree ini, mereka tidak tahu caranya pipis. Bahkan, aku pikir mereka memang tidak pernah melakukannya. Karena itu aku tertawa.

Aku berbalik, Kree jelek ini ikut berbalik. Aku berhenti tertawa, ia mengikutiku.

Aku percepat langkahku agar segera menjauh darinya, tetapi ia melakukan hal yang sama agar tetap dekat. Aku mulai berlari, tetapi rasanya aku tidak ke mana-mana. Jadi, aku putuskan untuk kembali berjalan saja.

Badanku mulai berkeringat.

Seseorang di dalam minimarket (aku pikir ini bukan minimarket, kelihatan dari luar saja) dengan musik disko ini, memegang tanganku. Ia hanya memegang tangan kiriku, tetapi rasanya seperti ditusuk jarum yang sangat besar.

“Apa yang kaulakukan, Bodoh!” aku memukul tangannya menjauh. Ia mengangkat kedua tangan ke udara, tanpa kata.

Aku menengok ke belakang, Kree jelek itu masih mengikutiku.

Aku berjalan cepat, dan rasanya pintu tempat ini semakin menjauh. Namun, akhirnya aku sampai juga. Aku keluar, dan di depan pintu berdiri Steve Rogers lagi.

“Selamatkan warga kota,” kata Natasha Romanof yang berdiri di samping Cap. “Aku akan mengulur waktu monster jelek ini.”

Oh, jadi namanya memang monster jelek.

Di depan sana, para pahlawan super yang akukenal dengan sebutan The Avengers sedang melawan monster besar dan jelak dan panjang dan sedikit bau tadi. Anehnya, ada manusia kelelawar Bruce Wayne dan manusia laut Arthur juga. Bagaimana mungkin mereka ada di sini?

“Hey!” seruku ke siapa pun yang bisa mendengar. “Apa yang Batman dan Aquaman lakukan di sini? Mereka tidak seharusnya di sini.”

Akulihat, monster jelek mengalahkan mereka para Avengers ditambah Bruce Wayne dan Arthur.

“Lari, Bodoh!” seru Black Widow memerintahku.

Monster jelek itu mengejarku dan para pahlawan super tersisa. Aku beradu lari dengan Steve Rogers dan Agen Romanof. Akan tetapi, mereka cepat sekali. Aku ketinggalan jauh.

Dari belakang menyusul Black Panther, dan Bruce Banner yang berjalan kaki.

“Akupikir kau berubah jadi Hulk,” kataku.

“Ah, aku lelah. Menjadi pahlawan super itu melelahkan.”

“Aku bisa menggantikanmu, Tuan Banner.”

“Oh, kau tidak tahu rasanya menjadi pahlawan super.”

“Akutahu. Aku pernah menyelamatkan kucing tetangga yang hampir tertabrak mobil.”

“Bagaimana rasanya?”

“Menyenangkan.”

“Menyelamatkan seekor kucing berbeda dengan mencoba menyelamatkan seluruh kota.”

“Tapi apakah menyenangkan?”

“Tidak sama sekali.”

“Oh, baiklah.”

“Lari!” seru Bruce Banner sembari berubah lagi menjadi Hulk.

Saat berubah, ia berada tepat di depanku sehingga mau tidak mau aku harus menabrak kaki besar Hulk dan aku terjatuh, dan ya, itu sangat menyakitkan.

***

“Hey! Kau sadar?”

Anna memegangi kepalaku dan mengusap-usapnya seperti sedang menidurkan bayi. Sepertinya aku sudah sadar sepenuhnya. Akulihat sekeliling dan mendapati diri berada di kamar rumah sakit.

“Kau yang membawaku ke sini?”

“Ya.”

“Apa aku tidak sadarkan diri lama sekali?”

“Ya.”

“Berapa lama?”

“Sangat lama.”

“Apa kau menghitung berapa lamanya?”

“Sekitar lima belas menit.”

Aku ingin sekali meninju wajahnya, tetapi aku malah tertawa.

Setelah benar-benar sadar, aku memperhatikan dan menanyakan kabar Anna. Ia terlihat baik-baik saja, tidak ada luka kecuali goresan kecil di lengan kanannya. Aku tidak menanyakan lebih lanjut tentang luka itu. Aku meminta air putih dan memeriksa tubuhku sendiri. Kaki kananku sakit sekali, tangan kiriku penuh selang-selang kecil.

Seseorang masuk, sepertinya perawat, dan menanyakan kabarku.

“Oh, Anda sudah siuman, Tuan?”

“Ya, seperti yang bisa kaulihat.”

Setelah memeriksa dan mencatat entah apa, ia meninggalkan ruangan. Perawat itu berlalu seiring dengan Anna yang berdiri di pintu. Anna yang dulu mengkhianatiku.

No comments:

Post a Comment