Berhenti Nyolong Astor



Tanggal 9 Juli 2014 adalah kali pertama gue memilih Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, dan Pemilihan Umum Legislatif. Dan ternyata, gue masih mengalami kebingungan yang sama waktu mencoblos siang tadi.

Enggak ada masalah waktu gue memilih presiden sih. Karena calonnya cuma dua pasang. Kalau emang niat milih, pasti cuma antara nomor satu atau nomor dua. Kalau sedikit enggak niat, bisa aja yang kecoblos tangan panitianya.

Masalah terjadi ketika gue selesai memilih calon presiden dan lanjut membuka empat kertas suara lainnya yang terdiri dari 20 partai dan puluhan caleg. Seketika itu juga gue mengucap astaghfirullah yang kemudian dilanjut dengan, “kok enggak ada yang gue kenal sih anjir!” ke kertas suara. Untung enggak ada yang denger.

Oke, itu bercanda.

Jauh sebelum pemilu, gue udah berusaha mencari tau satu per satu caleg-caleg di dapil gue. Karena, gue enggak mau kejadian periode sebelumnya berulang di mana gue mencoblos satu surat suara berkali-kali alias sengaja bikin batal. Alasannya: banyak. Satu, gue enggak tau calonnya waktu itu siapa-siapa aja. Dua, gue udah nyari tau satu per satu calon-calon yang ada di dapil gue, tapi hasilnya dikit banget. Tiga, dari hasil yang sedikit itu, enggak ada yang meyakinkan.

Pada pemilu kali ini, ternyata gue masih merasakan kebingungan yang sama. Padahal, gue berharap, setidaknya kalaupun gue enggak kenal orangnya, gue bisa tau rekam jejaknya di dunia politik (atau di dunia mana pun deh, dunia lain juga boleh). Sayangnya, dari 20 partai peserta pemilu yang gue akses situs webnya, enggak ada satu pun yang punya daftar caleg lengkap dengan rekam jejaknya. Kebanyakan gue cuma menemukan data seperti nama, tempat-tanggal lahir, hobi kalau baru bangun tidur, dan daerah pemilihan si caleg. Waktu gue bilang soal itu ke abang gue, dia bilang, “kalau gitu doang mah, gue bisa cari ke dukcapil.”

Semuanya beneran enggak ada yang meyakinkan.

Padahal, kriteria gue dalam memilih anggota legislatif sebenarnya sangat sederhana. Satu, nyari biodatanya enggak susah. Dua, rekam jejaknya jelas. Tiga, visi dan misinya jelas, didukung dengan langkah konkrit yang akan dia ambil kalau terpilih. Sayangnya semua caleg itu cuma memenuhi kriteria pertama. Ada yang memenuhi kriteria kedua dan ketiga, tapi enggak ada di dapil gue.

Suram emang.

Sebenarnya yang penting adalah yang ketiga. Karena, secara logika, gue berpikir, kalau calegnya pas gue cari namanya terus Google aja bingung siapa yang gue maksud, gimana gue mau percaya sama janji-janjinya coba.

Sebenarnya juga pada masa-masa kampanye kemarin, waktu banyak baliho dan reklame dengan gambar caleg-caleg itu, ada beberapa nama yang punya personal web. Sayangnya pas gue cek dapatnya zonk.

Gue tetap enggak tau itu orang siapa, dan itu sungguh buang-buang duit. Karena, gue yakin kalau si caleg itu tau fungsi sebuah website, dia pasti akan nulis segala informasi tentang dirinya yang dibutuhkan calon pemilih. Dan karena enggak kayak gitu, gue yakin bukan dia yang bikin websitenya. Dan kalau asumsi gue benar, pasti bayarnya mahal.

Bayar mahal untuk website yang bahkan enggak berfungsi sebagaimana mestinya.

Waktu gue bilang gitu ke abang gue, dia cuma bilang, “ya kurang lebih kayak gitu kualitas caleg yang bakal kamu pilih” sambil matahin astor yang sebenarnya udah gue gigit separuhnya tadi, tapi abang gue nggak tau.

Berarti, kebanyakan caleg enggak melek teknologi.

Sekarang, coba bayangin kalau caleg-caleg ini adalah para blogger. Misalnya kayak…

Kresnoadi DH

Enggak keribo kan?
Kalau misalnya Kresnoadi DH jadi caleg, gue yakin tagline-nya dia adalah “don’t judge a book by its cover”. Kenapa? Karena kalau kalian ngetik namanya di Google, yang muncul adalah Keriba-Keriba, sedangkan kepalanya tidak keribo. Enggak tau kalau hatinya sih.

Kresnoadi DH adalah salah satu blogger yang tulisannya sangat variatif dan selalu mencoba media-media baru. Secara psikosotoy, ini menandakan kalau dia adalah orang yang akan punya banyak ide untuk menyejahterahkan rakyatnya. Kalau Kresnoadi jadi caleg, kalian wajib milih dia enggak peduli apa pun partainya!

Haris Firmansyah

Bantu promo buku sekalian.
Sebenarnya Indonesia udah punya banyak caleg yang lucu-lucu. Ada yang lucunya natural, ada juga yang dibuat-buat. Cuma, mereka nggak punya blog. Beda sama Haris Firmansyah. Seenggaknya kalau dia nanti enggak bisa menyejahterahkan rakyat, minimal bisa bikin rakyat ketawa dengan cerita-cerita lucunya.

Habis ketawa-ketawa baca ceritanya, boleh ditimpuk batu ramai-ramai.

Akbar Yoga

Peace, love, and gunung.
Belum pernah kan ada caleg yang jago bikin cerpen? Itulah yang ditawarkan Akbar Yoga kalau jadi caleg. Setiap warga yang memilihnya akan diberi satu cerpen sepanjang minimal enam halaman dengan aturan: fon Times New Roman, spasi 1,5, format kertas A4 (atas 4 cm, bawah 3 cm, kiri 4 cm, kanan 3 cm), dan tema bisa request.

Ichsan Ramadhani

Kayaknya pura-pura sakit, biar kayak anggota dewan siapa tuh dulu, lupa.
Sebenarnya gue enggak terlalu yakin kalau orang ini jadi caleg. Namun, kalau melihat nama blognya, Ayam Sakit, dan dilirik dari sudut pandang psikosotoy, sudah jelas kalau Ichsan Ramadhani akan bagi-bagi ayam dalam kampanyenya. Entah itu ayam sehat, atau ayam sakit seperti blognya. Kita lihat saja nanti.

Yang jelas enggak mungkin bagi-bagi sapi seperti salah satu caleg Partai Keadilan Sejahwah.

Hawadis

Tidak ada unsur politik. Unsur fisika, banyak.
Gue pribadi enggak akan memilih Hawadis kalau dia jadi caleg. Karena sudah pasti kampanyenya bikin pusing seperti rumus-rumus fisika yang sering dia bahas di blognya.

Gue juga enggak mau kalau di tengah-tengah kampanye terus tiba-tiba dia nanya ke pendukungnya, “berapa lama waktu yang dibutuhkan manusia dari bumi ke bulan kalau naik balon udara, saudara-saudara?”

Kan jawabannya udah jelas.

…jelas gue enggak tau. Bodo amat!

Doni Jaelani

Doni Jaelani adalah penggemar enggak berat-berat amatnya Liverpool, salah satu klub yang selama gue hidup di dunia belum pernah liat mereka juara. Nah, kalau Doni jadi caleg, gue akan nyoblos dia, tapi dengan syarat: Liverpool enggak boleh juara selama dia menjabat.

…dan juga setelahnya.

Yoga Esce

Kiri: penulis. Kanan: sama aja.
Salah satu caleg yang akan gue pikirkan untuk tidak gue pilih. Karena, dia pemerhati binatang-binatang kurang perhatian. Salah satunya capung. Siapa sih jaman sekarang yang naruh perhatian ke capung? Cuma Yoga Esce.

Dilihat dari kacamata psikosotoy, Yoga Esce ini orangnya sangat nyentrik, beda, dan punya ciri khas yang membuatnya gampang dikenal di masyarakat. Tingkat kegagalannya kalau jadi caleg jelas sangat kecil. Bisa dipastikan juga dia akan menyayangi rakyatnya sepenuh hati. Bagaimana tidak, capung aja diperhatikan.

Dian Hendrianto

Mirip artis siapa gitu
Salah satu rekor menakjubkan dari Dian Hendrianto yang gue tau adalah dia pernah melintasi beberapa kota sekaligus naik motor. Namun, dia punya kelemahan yaitu mabok darat.

Dengan kenyataan itu, kalau Dian jadi caleg, dia pasti bakal nyusahin banyak orang. Enggak usah dipilih.

Robby Haryanto

Yang gue tau, Robby Haryanto ini orangnya sangat pendiam. Sangat tidak cocok untuk jadi caleg. Jadi, enggak usah dipilih juga.

Febri Dwi Cahya

Kalian yang belum kenal Febri, saran gue, jangan ngintip akun Instagramnya dia. Karena, kalau iya, kalian enggak akan pernah kepikiran dia jadi caleg. Kalaupun dia terpaksa harus jadi caleg karena tuntutan rakyat, gue yakin satu-satunya partai yang mau menerimanya adalah PKN atau kepanjangannya Partai Kontol Nasional.

Rido Arbain

Konon, foto ini tidak diedit, kutipan muncul sendiri setelah difoto. Subhanallah!
Dari semua nama yang gue sebutin di atas, ini satu-satunya nama yang benar-benar akan gue pilih kalau beneran jadi caleg. Enggak peduli bukunya yang berjudul Flip-Flop sempat masuk berita tapi salah tulis jadi Flip-Flpo, gue akan tetap mendukung.

Pokoknya kalau Rido Arbain daftar jadi caleg beneran, gue janji bakal berhenti nyolong astor.

No comments:

Post a Comment