Sesuatu yang Lain


Sepertinya kalau dibaca sambil mendengarkan instrumen, enak juga.


“Akupikir kau masih sendiri.”

“Tadinya. Namun, aku berubah pikiran.”

***
Hari ini kerjaanku selesai lebih cepat dari biasanya. Aku bermaksud memesan sekotak pizza untuk merayakan hari ini. Biasanya, aku baru bisa istirahat lewat jam duabelas malam, tetapi waktu baru menunjukkan pukul delapan ketika akulirik arloji hitam kesukaanku.

Akuambil ponsel di meja kerja, tergeletak tepat di sebelah komputer.

Aku rebahkan tubuh di sofa dan memilih menu pizza dengan label paling banyak dipesan. “Super Supreme” tertulis sebagai menu baru dan berada paling atas di daftar menu terlaris. Tanpa pikir panjang, aku langsung memesannya.

Sembari menunggu, aku membuka media sosial—seperti biasanya setelah bekerja—untuk melihat apa saja yang sedang ramai di jagat maya.

Saat itu sedang ramai tentang Star Wars, dan film itu bukan kesukaanku. Mungkin aku adalah satu-satunya orang di keluarga yang tidak menyukainya, tetapi aku tidak peduli. Ayahku adalah penggemar Obi-Wan Kenobi dan cara berpikirnya. Adikku El, ia menganggap Chewbacca adalah makhluk paling menggemaskan yang pernah ia lihat. Sementara Em, kakak perempuanku, ia ingin suatu hari bisa menikah dengan Luke Skywalker. Hanya itu yang akutahu tentang Star Wars, selebihnya aku lebih banyak tidak peduli.

Setiap kali kumpul keluarga, aku seperti penggemar berat tomat yang terjebak dalam diskusi tentang wortel.

Saat menggulir linimasa, perhatianku tertuju pada satu cuitan yang tidak ikut tren Star Wars. Aku tidak kenal siapa dia, tetapi cuitannya muncul dan aku memang gemar membuka profil orang lain secara acak.

Aku menggulir cuitan-cuitannya dan tertawa terbahak-bahak melihat cuitan-cuitan konyolnya. Sampai, pada tigapuluh detik berikutnya aku dibuat sesak napas.

***
Akususur jalanan ibu kota yang dingin dengan sepeda motorku. Aku rasakan gerimis menyentil kulit tanganku, yang kemudian menyadarkanku bahwa aku lupa mengenakan jaket.

Aku sampai di depan apartemen Anna, memencet bel, dan menggosokkan kedua tangan ke dada sembari menunggu ia membukakan pintu. Dinginnya malam hampir-hampir membuat dadaku membeku seperti es kutub.

“Hai, ada apa?”

“Boleh aku masuk?”

“Tentu, tapi ada apa? Tidak biasanya kau datang sedini hari begini.”

“Aku ingin bicara sesuatu.”

“Masuklah.”

Aku duduk di sofa. Anna membawakanku secangkir teh panas dan sepotong kue yang ia ambil dari kulkas. Dari sini aku bisa melihat isi dapurnya.

“Sudah larut, apa kau berniat untuk pulang setelah ini?” Anna bertanya

“Tentu saja. Aku tidak akan lama.”

Kepalaku masih memikirkan bagaimana aku harus memulai pembicaraan intinya.

“Kautahu, kan, kalau kasurku muat untuk dua orang?”

“Jangan menggodaku, meski kautahu aku sedang sangat kedinginan.”

Raut wajah Anna mulai berubah. Aku meminum teh buatannya.

“Aku tidak tahu kalau ternyata kau sudah menikah,” kataku, tanpa berpikir apakah itu sebuah pembukaan yang bagus atau bukan.

Anna tertawa, tetapi aku melihat ekspresinya menunjukkan hal sebaliknya. Wajahnya semakin muram dari sebelumnya.

“Ya, aku sudah menikah,” akunya kemudian.

“Akupikir kau masih sendiri.”

“Tadinya. Namun, aku berubah pikiran.”

Aku berusaha bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.

“Oh, bukan masalah. Aku juga sudah menikah, jika kau ingin tahu.”

Anna menatapku dengan tajam. Ada kemarahan dalam tatapannya kali ini.

“Aku tahu. Justru karena itu aku berubah pikiran. Apa kau…”

“…lebih tepatnya pernah menikah.” Aku memotong kalimatnya.

Anna diam. Aku diam. Suara hujan yang tadinya gerimis di perjalanan, kini turun lebih deras dan memecah keheningan kami.

“Ke mana suamimu?”

“Ia sedang di luar kota.”

“Oh, tadinya akupikir kau menyembunyikannya di bawah kasur.”

“Aku tidak sejahat itu.”

“Aku juga tidak berpikir kalau menikah dengan orang lain saat sedang menjalin hubungan denganku adalah sebuah kejahatan.”

Anna menarik napas panjang. “Aku minta maaf,” katanya.

“Kau tidak salah. Jadi tidak perlu meminta maaf.”

“Aku akan mengakhiri ini segera.”

“Denganku? Oh, bagiku sudah berakhir sejak aku dalam perjalanan.”

“Kau tidak bisa sepihak begitu.”

“Apa? Kau lucu sekali.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak bisa sepihak begitu.”

“Aku minta maaf.” Lagi-lagi, Anna menarik napas panjang. “Aku akan mengakhiri ini segera. Tolong berikan aku waktu.”

Aku meninggalkan apartemen Anna saat matahari sudah tinggi. Meski hujan sudah berhenti, tetapi aku masih merasakan dingin yang sama seperti ketika aku datang.

Di rumah, aku hanya membenamkan diri di kasur selama berhari-hari. Setiap terbangun, aku hanya buang air kecil, mencuci muka, menggosok gigi, kembali ke kasur, menggigit pizza yang akupesan malam itu, lalu kembali tidur. Aku tidak ingat berapa berapa banyak waktu yang sudah akuhabiskan hanya untuk menangis. Yang aku ingat, pizza ini rasanya tidak enak.

Berdasarkan pengakuan Anna, ia menikah dengan orang lain atas permintaan ibunya yang tidak setuju denganku yang sudah pernah menikah.

Aku tentu saja bisa menerima alasan itu. Yang tidak bisa akuterima adalah tidak adanya sepatah pun kata dari mulut Anna perihal pernikahannya. Aku tidak tahu jika ada orang yang bisa menjaga rahasia sampai serapi itu. Untunglah, foto yang akudapat dari media sosial—yang kelak akutahu adalah teman dekat Anna—malam itu menerangkan semuanya.

Aku bersyukur sekaligus kecewa.

Aku bersyukur karena kini aku jadi tahu kalau banyak orangtua yang masih kolot, dan aku kecewa karena Anna juga ikut-ikutan kolot.

***
Akupikir, setelah berbulan-bulan berlalu aku akan bisa melupakan rasa sakit hati pada kejadian yang tidak pernah akuharapkan itu. Rupanya, semesta ingin aku menderita lebih lama. Tiada hari aku habiskan tanpa memikirkan Anna, bersama rasa sakit yang ia titipkan di hatiku.

Aku duduk di depan kotak (sebenarnya lebih cocok disebut peti, tetapi aku khawatir kalian malah mengira peti mati) tempat aku menaruh barang-barang tak terpakai, tetapi belum ingin akubuang. Benda pertama yang muncul saat aku membukanya adalah kertas yang berisi daftar hal yang disukai Anna. Ia menyukai segala hal tentang Jepang, dan segera setelah itu aku jadi membenci segala hal yang berkaitan dengan Jepang. Bahkan, lebih buruk, dengan segera ia menjelma menjadi trauma yang menyebabkan rasa sakit setiap kali aku mengingatnya.

Akupilih satu per satu dan memisahkan barangku dengan barang pemberian Anna—atau yang ada hubungannya dengan dia.

Kini, semua barang yang berkaitan dengan Anna sudah akutaruh di bak sampah. Aku menyalakan pemantik dan membakarnya setelah menuangkan bensin yang akuambil dari tangki sepeda motorku.

***
Malam ini aku memilih bekerja di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah. Belakangan, aku memang senang bekerja di luar rumah. Aku mulai menikmati pemandangan malam dari lantai dua kafe, terutama saat hujan turun.

“HEY, ADAM!”

Aku begitu kaget ketika seseorang memanggil nama itu begitu lantang, tepat di belakang telingaku. Tidak pernah ada yang memanggilku di tempat umum. Jangankan memanggil, ada yang mengenaliku saja sangat jarang. Lagi pula, namaku bukan Adam.

“Hey,” jawabku, berusaha santai.

“Kau masih ingat dengaku?”

“Anna. Ya, tentu saja.”

“Akupikir kita tidak akan bertemu lagi.”

“Akupikir dan akuharap juga begitu.”

“Oh, jangan begitu, pria tampan. Jangan mengusirku. Boleh aku bergabung?”

“Ya, silakan.”

“Kau sendirian saja?”

“Aku selalu sendirian.”

Ia duduk di depanku. Ia membawa beberapa menu di atas nampan cokelat milik kafe.

“Kalau begitu, kau sedang apa?”

“Menikmati pemandangan malam.”

“Aku tidak melihatmu melihat keluar. Sedari tadi kau hanya menatap layar laptopmu.”

“Kalau begitu kenapa kau masih bertanya aku sedang apa?”

“Oh, baiklah. Kau mau kentang goreng?”

“Tidak. Secangkir kopi sudah cukup.”

Ada hening tercipta untuk sejenak, sebelum ia kembali bersuara.

“Wajahmu nampak kusam, persis saat kita bertemu pertama kali. Apa ini juga salah satu hari paling bahagia dalam hidupmu?”

“Tentu saja.”

“Ada apa? Akuharap kau tidak membohongiku kali ini.”

Aku sedikit terganggu dengan perempuan ini, tetapi dia sungguh punya sikap pantang menyerah yang sangat mengesankan.

Aku mengambil secarik kertas dan menuliskan yang terlintas di kepalaku saat ini.

Trauma causes pain.” Ia membaca apa yang akutulis.

“Kau mengerti?”

“Tidak, tetapi aku akan coba membalasnya.”

Ia gantian menulis di kertasku.

Suffering builds character.” Aku membacanya.

“Kau mengerti?”

“Tidak.”

“Tidak semua hal harus kita mengerti.”

“Dan poinmu adalah?”

“Kadang-kadang kita hanya harus menikmatinya. Rasa sakit. Penderitaan. Semua akan berakhir pada saatnya.”

Aku menyeruput kopiku. “Kautahu, Anna, aku tidak berniat menyembuhkan luka ini. Aku berniat hidup bersamanya.”


Ia menatapku dengan seribu pertanyaan. Aku sedikit takut dengan tatapan itu, tetapi mata birunya seketika memberikan ketenangan, dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain.

No comments:

Post a Comment