Seperti Beruang Kutub


Kalau kalian baca postingan sebelumnya, berarti kalian tahu kalau ponakan-ponakan gue ada di rumah saat malam perayaan tahun baru.

Sebenarnya, sore jelang magrib gue sempat ke rumah kakak gue yang paling tua dulu buat makan-makan. Habis makan itu barulah gue balik ke rumah dan nungguin pergantian tahun.

Di jalan pulang, Tayo, ponakan gue yang paling kecil ngomong,

“Kalau tahun baru biasanya banyak kembang api.”

“Iya, memang,” jawab Khatib.

“Mau beli, tapi tidak punya uang.”

“Kamu sih, tidak minta sama bapak.”

“Takut.”

“Takut kenapa?”

“Kalau bilangnya buat beli kembang api, tidak dikasih. Kalau bilangnya buat jajan, nanti bohong.”

Mendengar itu, gue pun kepikiran buat beli petasan dan kembang api buat mereka. Kebetulan, di jalan pulang ke rumah banyak banget penjual petasan dan kembang api dadakan di pinggir jalan.

Sebelum belok ke gang masuk rumah, gue mampir ke salah satu penjual petasan di kiri jalan. Yang jual ibu-ibu yang lagi gendong anaknya.

“Tayo mau yang mana?” tanya gue.

Dia langsung menunjuk yang paling besar. “Yang itu,” katanya.

“Yang itu berapa, Bu?”

“Oh, tujuh puluh lima ribu aja, Dek.”

Buset, gue masih dipanggil adek. Padahal udah bawa dua anak laki.

“Nggak bisa kurang lagi, Bu?”

“Bisa. Tujuh puluh ribu.”

Mendengar harga kembang api yang seharga domain blog gue setengah tahun, gue sempat berpikir untuk nggak usah beli dan nanti sampai rumah gue langsung tidur aja sampai besok.

“Kalau yang ini berapa?” tiba-tiba Khatib nunjuk kembang api yang ukurannya lebih kecil.

“Itu dua puluh lima ribu,” jawab penjualnya dengan segera.

Tayo diam aja.

“Kalau yang seribuan ada nggak, Bu?” tanya gue.

“Seribu mah koreknya aja nggak dapat, Dek.”

“Hah, emang koreknya berapaan?”

“Dua ribu.”

Setelah tanya-tanya harga kembang api dari yang paling mahal sampai yang paling murah, akhirnya gue beli beberapa yang harganya lima ribuan dan sepuluh ribuan. Masih sambil menggendong anaknya, si penjual dengan cekatan memasukkan semua belanjaan gue ke satu kantong plastik putih.

“Semuanya enam puluh ribu.”

Gue mengambil uang di dompet. Pas.

“Makasih, Bu,” kata gue sambil menyerahkan uang dan mengambil belanjaan dari penjualnya.

“Sama-sama, Pak.”

KENAPA JADI MANGGIL GUE BAPAK ANJIR.

Ponakan-ponakan gue pun tersenyum-senyum di sisa perjalanan pulang.

“Jangan sampai nenek kalian liat ya, nanti kalian dimarahi.”

Khatib dan Tayo pun berdiskusi gimana caranya biar nggak ketahuan bawa petasan masuk ke rumah.

Gue melihat jam tangan, udah jam sepuluh lewat, gue yakin nyokap sudah tidur.

Begitu sampai di rumah, gue ngeliat lampu ruang tamu masih menyala, yang berarti nyokap masih bangun. Khatib dan Tayo pun nggak langsung bawa petasan dan kembang api masuk ke rumah, tapi diselipin di teras.

“Nanti kita ambil kalau nenek sudah tidur,” kata Khatib ke Tayo.

Pas masuk ke rumah, ternyata lagi ada tamu. Gue pun langsung masuk ke kamar bersama ponakan lalu main game. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Randy, teman kelas Khatib yang rumahnya nggak jauh dari rumah gue, datang ke rumah nyariin Khatib.

Karena lagi malas ngomong, gue nungguin tamu nyokap pulang baru gue mau keluar kamar. Sampai akhirnya gue ketiduran.

Sekitar beberapa saat kemudian, gue kebangun.

Gue lihat ponakan udah nggak ada di kamar. Gue pun nyusulin mereka ke depan karena gue yakin mereka pasti udah mengutak-atik petasan dan kembang apinya. Sebagai paman yang baik gue harus mengawasi mereka.

Begitu sampai di teras, gue merasa aneh, terutama saat melihat langit.

Gue lihat jam, ternyata sudah jam tujuh pagi.

Gue mencari petasan ke tempat gue ngeliat Khatib nyelipinnya semalam, udah nggak ada. Gue lihat aspal di depan rumah basah habis kena hujan.

“Khatib?” panggil gue. “Tayo?”

Tiba-tiba muncul kepala Khatib dan Tayo dari bawah di balik pagar rumah. Gue pun nyamperin mereka.

Di dalam got yang penuh dengan air hujan yang mengalir deras, Khatib, Tayo, dan Randy lagi main perahu-perahuan yang terbuat dari bungkusan petasan dan kembang api yang gue beliin semalam.

“Kembang apinya basah,” kata Khatib.

“Kalian bangun jam berapa?” tanya gue.

“Barusan,” jawab Tayo, Khatib, dan Randy bersamaan.


Untuk kali kesekian dalam hidup, gue melewatkan tahun baru dengan tidur seperti beruang kutub.

No comments:

Post a Comment