Remah-remah Kentang Goreng


Dulu, beberapa tahun lalu, banyak temen-temen yang kaget karena katanya gue pake baju yang itu-itu mulu. Sampai-sampai gue dicap nggak pernah mandi.

Gue memang selalu pake baju kaos polos dan seringnya warna hitam. Alasannya adalah karena 1) gue suka sama warna hitam, dan 2) gue nggak nyaman pake kemeja atau model baju polo (yang ada kerahnya gitu).

Awal-awal gue suka sama baju kaos polos dengan warna yang sama setiap hari, orang-orang nggak cuma kaget, tapi beneran sampai ada yang bilang, “Nggak pernah mandi lu ya? Bajunya itu mulu.”

Padahal dia nggak tau kalau koleksi baju hitam polos gue di lemari persentasenya di atas lima puluh persen, dan sisanya baju tetangga. #LAH

“Emang lu pernah liat gue sebelum sama sesudah mandi?” jawab gue.

“Enggak sih...”

Namun semua berubah saat Avatar Aang hidup kembali.

Seiring berjalannya waktu, gue ngelihat makin banyak temen-temen yang meniru cara gue berpakaian. Bahkan sampai ada teman yang pernah ngomong ke gue, “Man, kalau nanti lu beli baju polos lagi, gue nebeng ya.”

Akhirnya tren menggunakan kaos-kaos polos di pergaulan gue pun menjadi mainstream. Yang nggak ikutan tren baju polos di lingkungan gue kayaknya hanya beberapa orang, termasuk ponakan gue yang lebih suka baju dengan warna pelangi dalam satu baju.

Beberapa hari yang lalu, gue ketemu sama teman kuliah, setelah sekian tahun.
Waktu itu gue lagi makan kentang goreng sambil ngerjain kerjaan kantor di kafe di dekat kampus ketika teman gue itu nyamperin.

“Eh, kok lu muncul di sini?”

“Iya, tadi habis ngurus sesuatu di kampus, terus mampir sini.”

Awalnya kami hanya membahas soal kuliah dan pekerjaan, tapi lama-lama temen gue ini malah tertarik membahas kaos polos yang gue kenakan hari itu.

“Style baju lu belum berubah juga ya,” kata temen gue.

“Ya gitulah,” jawab gue ketawa. “Gue mah sukanya yang simpel-simpel aja, nggak ribet.”
Dari situ ia kemudian ia mengutarakan keinginannya.

“Gue sebenarnya pengen desain kaos gue sendiri. Cuman, gue bingung untuk sablonnya mau pake mesin atau manual.”

Mendengar itu, gue tahu arahnya ke mana.

Gue pun langsung memutar layar laptop gue ke dia yang duduk di hadapan gue. Di layar laptop gue sudah terpampang informasi jenis-jenis sablon kaos manual kalau pengen sablon kaos sendiri.

Jadi, berbeda dengan teknik sablon kaos DTG yang seluruhnya menggunakan mesin, sablon kaos manual adalah teknik sablon yang menggunakan peralatan khusus serta diperlukan keahlian manusia untuk mengerjakannya. Sablon manual dapat dilakukan dengan cara water based dan oil based. Nah, untuk menyablon kaos secara manual, ada beberapa jenis sablon yang bisa dipilih:

1. Sablon Plastisol

Model sablon yang bersifat oil based ini memiliki tekstur yang tebal dan sangat terasa unsur karetnya. Sablon ini sangat awet, kuat, dan menghasilkan gambar yang tajam dan detail sehingga banyak peminat jenis sablon ini. Namun, sablon jenis ini nggak tahan dengan suhu panas langsung, jadi ketika disetrika gambar sablonnya akan rusak dan menempel pada setrika. Hal ini dapat disiasati dengan membalik kaosnya.
Jenis sablon plastisol bisa dibikin jadi lembut, kasar, mengkilap, aspal, tipis, warna emas, dan warna perak. Jenis ini cocok banget untuk sablon bergambar raster.

2. Sablon High Density

Sablon jenis ini memiliki tekstur karet yang cukup kuat dan memiliki efek 3D pada sablon sehingga akan terasa timbul apabila disentuh. Efek timbul yang muncul berbentuk kotak presisi mengikuti desain sablonnya. Sablon ini menggunakan gel/transparent ink untuk dasarnya, kemudian dilapisi dengan cat plastisol sehingga menghasilkan efek timbul yang lembut.

Jenis sablon ini cocok dipakai untuk desain sablon logo dan tipografi. Selain itu, jenis sablon ini juga sering dipakai untuk produk–produk topi.

3. Sablon Rubber

Karet rubber ini cukup elastis, memiliki elastisitas dan kerapatan yang tinggi, sehingga tahan bila disetrika. Namun, tinta rubber tidak seawet tinta plastisol, karena rubber lebih mudah mengelupas. Jenis sablon ini dapat digunakan pada kaos yang berwarna gelap atau terang. Teksturnya lembut dan karakternya menutupi serat kain.

4. Sablon Superwhite

Sablon ini merupakan jenis sablon water based. Berbeda dengan high density, sablon jenis ini menyerap ke dalam serat kaos sehingga terlihat sangat menyatu dengan kaos. Teksturnya enggak begitu terasa bila disentuh karena menyatu dengan kaos sehingga terasa ringan saat dipakai. Selain itu, sablon jenis ini tahan terhadap panas, sehingga dapat disetrika dengan mudah. Namun, bila terlalu sering dicuci–pakai, sablon ini akan menghasilkan efek vintage, karena warna sablon ini redup, tidak secerah oil based. Keunikannya, bila disablon pada kaos katun akan menghasilkan efek kapas pada sablonnya.

5. Sablon Discharge

Hampir mirip dengan sablon superwhite, tetapi sablon ini memiliki perbedaan karena adanya campuran obat pada proses akhir, sehingga sablon ini dapat membakar dan menggantikan warna dasar pada kaos. Campuran obat odorless sebanyak 6-8% dan proses finishing press yang berlangsung pada saat gambar sablon masih basah merupakan proses yang membedakannya dengan superwhite. Sablon jenis ini cocok digunakan untuk kaos yang berbahan reaktif.

6. Sablon Pigment

Salah satu sablon jenis water based ini hampir mirip dengan superwhite, tetapi bisa terasa pada saat disentuh dan teksturnya agak kaku sehingga sulit mengikuti gerak kaos. Sablon pigment menyisakan sisa endapan pada kaos, dan akan tetap menempel walaupun kaos sudah dicuci. Sehingga jenis sablon ini sedikit di pasaran dan mulai digantikan dengan superwhite karena kualitasnya yang lebih bagus.

7. Sablon glow in the dark

Sablon jenis ini memiliki efek menyala dalam gelap, karena dalam sablon ini terdapat senyawa kimia phosphor yang dapat menyerap energi dan memancarkan cahaya. Bahannya terdiri dari serbuk fosfor sehingga kekuatan cahayanya tidak sekuat glow-stick. Bila cahayanya mulai padam, hal ini dapat disiasati dengan mendekatkan kaos pada lampu. Sablon ini dapat diaplikasikan dalam dua jenis sablon dasar, yaitu plastisol dan rubber.

8. Sablon flocking

Sablon ini memiliki tekstur seperti beludru, terlihat timbul dan akan terasa lembut bila disentuh. Proses inti flocking ini dilakukan ketika proses akhir, kertas flocking ditempel di atas kaos kemudian ditekan dan dianginkan beberapa saat, lalu dicabut secara perlahan.

9. Sablon Foil

Sablon ini hampir sama dengan flocking, tetapi yang membedakan adalah elemen yang digunakan. Sablon ini memiliki elemen plastik foil, sehingga menghasilkan efek mengkilap pada sablonnya.

10. Sablon Foam

Sablon ini bisa disebut dengan sablon 3D, karena menghasilkan efek timbul. Desain yang tertempel akan membentuk benjolan pada permukaan kaos, dan akan menghasilkan lengkungan pada bagian dalam kaos.

Setelah temen gue selesai membaca, dia langsung bertanya.

“Kalau gue mau nyablon kaos yang gue desain sendiri, enaknya di mana ya?”

“Ya di website tempat lo baca artikel barusan aja.”

“Oh, Porinto?”

“Yap, betul,” jawab gue sambil membersihkan meja dari remah-remah kentang goreng yang sudah habis.

No comments:

Post a Comment