Jawaban-jawaban Ajaib


Kalau nggak salah hitung, gue punya enam ekor ponakan. Tiga jantan dan tiga betina, dari dua kakak. Kalau malam Minggu atau lagi musim liburan sekolah, mereka pasti lebih banyak ngabisin waktu di rumah gue daripada di rumah orangtuanya.

Ponakan yang paling sering datang itu yang laki semua; Ichsan, 17 tahun, SMA kelas tiga; Khatib, 12 tahun, SMP kelas satu; Putra, lupa umur berapa, SD kelas tiga. Khusus ponakan gue yang paling kecil ini, dia gue panggil Tayo gara-gara waktu dulu pernah ada tamu kehormatan datang ke rumah dan dia tiba-tiba nyanyi “Hey, Tayo, Hey, Tayo, dia bis kecil ramah…” di depan tamu itu.

Biasa, caper.

Mungkin karena tamunya cantik.

Nah, kayak waktu liburan semester ganjil yang baru banget berakhir kemarin, mereka hampir dua minggu nemenin gue kerja di rumah. Katanya sih senang main di rumah, terutama di kamar gue karena katanya kasurnya empuk, padahal gue tahu mereka cuma pengen main game.

Gue punya dua hape yang bisa dibilang nganggur karena jarang banget gue pakai. Dan karena Khatib dan Tayo belum punya hape, gue bebasin mereka pakai hape gue dengan syarat nggak dibawa ke luar rumah. Sedangkan Ichsan, dia sudah punya hape sendiri yang jauh lebih bagus dari semua hape yang gue punya.

Selama di rumah, karena gue nggak bebasin mereka bawa hape ke luar rumah, mereka mengakalinya dengan memanggil teman-temannya datang ke rumah gue. Kebetulan, sekolahnya Khatib ini dekat sama rumah gue dan beberapa teman kelasnya ada yang tinggal di dekat rumah.

Gue nggak pernah gangguin mereka selama main, tapi gue selalu ngecek hape saat mereka tidur siang atau malam hari setelah mereka tertidur pulas. Dan… baru hari pertama mereka datang, hape gue udah berisi game-game seperti Clash of Clans, PUBG, Mobile Legend, Mini Militia, Free Fire, dan beberapa game lain yang buat gue namanya asing banget.

Ya, gue memang hampir nggak pernah lagi main game di hape. Game terakhir yang gue mainin adalah Plants vs Zombies dan Need for Speed: Underground. Itu pun di laptop, waktu masih kuliah.

Ceritanya, gue baru punya waktu ngobrol dan main sama mereka saat gue lagi istirahat kerja, atau jam makan. Paling seru sih pas jam makan malam, enggak tau kenapa waktunya terasa lebih panjang aja dibanding waktu makan siang atau sarapan (seringnya sih gue ketinggalan sarapan bareng mereka karena gue baru bangun jam delapan, mereka jam tujuh udah mulai main).

Saat makan malam itu, gue selalu berusaha ngajak ponakan gue ini ngobrol. Kadang, gue ngetes mereka dengan pertanyaan umum untuk tahu pengetahuan umum mereka sudah sampai mana, kadang juga pertanyaan basa-basi. Namun, meskipun itu pertanyaan basa-basi, ternyata jawaban yang mereka keluarkan selalu saja unik dan nggak ketebak. Dan yang selalu ngasih jawaban di luar kemungkinan yang pernah dipikirkan manusia sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan, adalah Tayo, ponakan gue yang paling kecil.

Beberapa percakapan yang gue ingat sama Tayo adalah..

Di meja makan, hari pertama libur

Gue: Kamu udah libur? Berapa lama?
Tayo: Udah. Sampai tahun baru.
*lanjut makan*
Gue: Tayo kamu tau nggak nama presiden Indonesia siapa?
Tayo: Tau. Pak Jokowi!
Gue: Kalau wakilnya?
Tayo: *Diam lama sambal ngunyah makanan* Tau. Pak kepala desa!

Di depan TV, sehabis makan malam

Gue: Tayo, udah libur, berarti kamu udah terima rapot?
Tayo: Iya, sudah.
Gue: Dapat rangking berapa kamu?
Tayo: Enggak dapat.
Gue: Kok bisa?
Tayo: Yang dapat teman saya, namanya Bulan. Rangking satu.
Gue: Itu teman kelasmu?
Tayo: Bukan, dia kelas enam.
Gue: Lah, kamu kelas berapa?
Tayo: Kelas dua.
Gue: …

Di kamar tidur, sebelum tidur, hari kesekian libur sekolah

Tayo: Kata bapak, besok kalau bangun tidur suruh WhatsApp biar dijemput.
Gue: Siapa yang dijemput? Kamu?
Tayo: Iya, kata bapak WhatsApp aja.
Gue: Kalau ditelepon aja, gimana?
Tayo: Enggak, jangan. Kata bapak WhatsApp.
Gue: Kalau telepon lebih cepat datangnya.
Tayo: Tapi kata bapak WhatsApp, jangan telepon.
Gue: …

Di depan TV, pagi setelah tahun baru

Gue: Tayo, kamu kapan masuk sekolah lagi?
Tayo: Setelah tahun baru.
Gue: Lah, semalam udah tahun baru. Ini udah tahun baru. Terus kenapa nggak masuk sekolah?
Tayo: Enggak tahu kenapa.
Gue: Jadi kamu sekolah kapan?
Tayo: Enggak tahu kapan.
Gue dan Khatib dan Ichsan: …

Di meja makan, malam sebelum liburan usai

Malam sebelum mereka pulang, salah satu keluarga gue ada yang meninggal. Rumahnya ada di dekat rumah Tayo. Khatib dan Tayo menyempatkan diri menghadiri pemakaman.

…digendong sama gue.

Khatib ke gue: Om Nambung dikuburkan di lapangan dekat sekolah saya.
Tayo: Om Nambung keguguran?
Gue: *berhenti mengunyah makanan*

Minggu siang kemarin, mereka pun minta diantar pulang karena sudah mau masuk sekolah besok paginya. Gue pun manasin motor buat ngantar mereka pulang.

Sebelum pulang, Khatib menyelesaikan satu game Mobile Legend.

Khatib: coba ada Mobile Legend versi Tayo.
Putra: welcome to mobil Tayo.
Gue: …


Sejak saat itu, gue menyebut Tayo sebagai anak ajaib, dengan jawaban-jawaban ajaib.

No comments:

Post a Comment