Nyasar ke Permukaan


Sebelum ini gue masih merasa kalau gue adalah orang paling gaptek yang pernah diciptakan di dunia ini, sampai akhirnya dua hari yang lalu ketika gue memutuskan untuk memanfaatkan diskon 50% dari Go-Jek Indonesia.

Jadi, dua hari lalu, gue baru bangun tidur ketika ada chat masuk yang ngasih informasi kalau Go-Jek bekerja sama dengan Alfamart dengan ngasih cashback 50% dengan maksimal cashback 20 ribu. Well, sebenarnya promo ini sudah lama diadakan Go-Jek karena gue bahkan sudah memanfaatkan promo ini sejak beberapa bulan lalu. Cuman, kali ini merchant yang diajak kerja sama makin banyak, salah satunya Alfamart.

Kalau nggak salah nama programnya GO-PAY PAY DAY. AY AY!

“Sayang, kan belum beli shampoo sama pasta gigi, tuh. Buruan gih ke Alfamart, bayar pakai Go-Pay dapat diskon 50%,” kata kekasih sambil ngirim tangkapan layar via WhatsApp.

“Ah, Alfamart dekat rumah belum bisa bayar pakai Go-Pay,” jawab gue ngeyel.

“Bisa, semua Alfamart bisa kok ini.”

“Nggak bisa, Sayang. Seminggu lalu saya ke sana katanya belum bisa, alatnya belum tersedia.”

“Alat apa?”

“Alat kelamin pancing.”

Ya, setiap ke Alfamart deket rumah memang gue selalu nanya, “udah bisa bayar pake Go-Pay belum?” ke kasirnya dan selalu dijawab belum bisa karena mesinnya belum mendukung. Gue nggak tahu mesin apa yang mereka maksud. Mungkin mesin pemotong rumput? Atau mungkin mesinnya butuh dukungan morel? Entahlah.

Sore itu gue sebenarnya belum berniat buat beli shampoo dan pasta gigi karena masih ada punya adik yang bisa gue colong. Alih-alih, gue memutuskan buat keluar cari makan karena perut udah bunyi-bunyi sementara di rumah lagi nggak ada lauk.

Rupanya, tempat makan langganan gue lagi tutup. Gue pun lurus dan mampir ke Alfamart.
HEHE.

Sekalian keluar soalnya.

Setelah ngambil shampoo, pasta gigi, tisu, dan deodoran, gue langsung ngantre ke kasir. Di samping kasir gue liat ada banner kecil bertuliskan “Bayar Pakai Go-Pay, Cashback 50%”.

Gue lalu nanya ke kasir untuk memastikan.

“Mbak, sudah bisa bayar pakai Go-Pay?”

“Oh, bisa, Mas. Silakan antre dulu.”

Gue pun berdiri di belakang dua mbak-mbak yang sudah lebih dulu antre. Lalu mbak di depan gue bertanya.

“Mbak, memang kalau bayar pakai Go-Pay, kenapa?”

“Kalau bayar pakai Go-Pay, dapat cashback 50%, Mbak,” jawab kasirnya.

“Gimana caranya?”

“Oh, Mbak bisa bayar lewat Go-Pay.”

“Iya, gimana caranya?”

“Oh, Mbak silakan download aplikasi Go-Jek dulu. Atau sudah punya?”

“Belum.”

“Mbak silakan download dulu kalau begitu.”

Mbak paling depan sudah selesai transaksi, tinggal mbak-mbak di depan gue yang gue tungguin dengan sabar lagi download aplikasi Go-Jek yang kayaknya itu untuk pertama kali dalam hidupnya.

Sekitar lima menit kemudian, aplikasi Go-Jek sudah selesai terpasang di smartphone mbaknya.

“Sudah, Mbak,” katanya ke kasir.

“Silakan buka barcode-nya, Mbak.”

“Yang mana, ya?”

Kasir meminta smartphone mbak berjilbab cokelat ini lalu mengembalikannya sedetik kemudian.

“Belum top up, Mbak. Silakan top up dulu saldonya.”

“Kalau top up berapa?”

“Minimal lima puluh ribu. Kalau lima puluh ribu, harganya lima puluh dua ribu. Kalau seratus ribu, harganya seratus dua ribu.”

“Ya udah, saya top up lima puluh ribu.”

“Mohon ditunggu sebentar, Mbak.

Gue masih sabar mengantre di belakang mbaknya sementara antrean udah makin panjang.

“Bisa disebutkan nomor handphone-nya, Bu?” kata kasir, yang kayaknya nggak sadar udah mengganti panggilan “Mbak” jadi “Ibu”.

Mbaknya menyebutkan nomor handphone dengan suara lantang.

“Mohon maaf, nomornya belum terdaftar.”

“Oh, cara daftarnya gimana ya?”

“Silakan konfirmasi nomor handphone Mbak dulu. Kalau sudah, baru kami bisa top up.”

Gue masih ngangtre di belakang mbaknya.

Tiba-tiba ada bapak-bapak yang nyosor dari sebelah kiri gue. Dan mbak kasir langsung melayaninya.

Setelah bapaknya selesai transaksi dan pergi, gue protes.

“Ehm, Mbak, kayaknya saya duluan deh daripada bapak tadi. Kok saya nggak dilayani lebih dulu?”

“Oh, iya. Itu yang transaksi tunai, Mas. Kalau yang top up, sebentar. Setelah Mbak ini,” jawabnya menunjuk mbak cantik nan menggemaskan itu. Iya, gue gemas pengen nampol.

“Ehm, Mbak… saya mau bayar. Bukan mau top up.”

“Loh, tadi katanya pakai Go-Pay?”

“Iya, saya mau bayar pakai Go-Pay, bukan top up saldo Go-Pay. Tadi kan saya nanya bisa bayar pakai Go-pay enggak, bukan bisa top up enggak.”

“Oh, iya Mas. Maaf. Tadi saya kira mau top up juga.”

Gue lihat, mbak di depan gue belum selesai juga mengutak-atik smartphone-nya.

“Mbak,” kata gue ke kasir, “kalau saya aja yang duluan, gimana?”

“Oh, sudah nih, Mbak.” Mbak depan gue memotong pembicaraan.

Kira-kira gue sudah berdiri antre sekitar tiga puluh menit, dan setelah transaksi via Go-Pay tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya sementara gue baru ingat kalau gue lupa bawa mantel.


Gara-gara mbak tadi, untuk pertama kalinya dalam hidup, gue menyadari kalau gue ternyata nggak gaptek amat. Gue jadi merasa kalau gue adalah warga pinggiran Atlantis yang nyasar ke permukaan.

No comments:

Post a Comment