Ternyata Tokek





Salah satu alasan yang bikin gue males jogging di hari Minggu adalah karena males ketemu orang-orang yang gue kenal, tapi sebenarnya nggak akrab banget.

Gue males banget kalau harus menciptakan percakapan nggak penting yang sebenarnya kalau nggak ada pun, nggak apa-apa, hanya karena kita saling kenal dan ngaku berteman. Padahal, hanya takut pertemuannya jadi awkward atau dikira sombong aja.

Kalau lagi di mal atau tempat semacam itu, gue akan buru-buru membuang muka, menunduk, dan berbelok arah ketika di depan gue melihat orang yang gue kenal tapi nggak akrab dan gue nggak pengin menyapanya. Masalahnya, gue nggak bisa melakukannya pas lagi jogging karena gue akan melewati rute yang sama hingga puluhan kali dan kesempatan untuk bertemu dan melihat orang yang sama berarti sama banyaknya.

Kayak beberapa minggu lalu waktu gue terpaksa jogging Minggu pagi, gue ketemu mantan pacar. Gue jogging Minggu pagi karena terpaksa; di hari lain gue selalu bangun kesiangan semntara kaki udah gatal banget pengin lari-larian.

Saat itu gue sudah lari sekitar beberapa kilo ketika ada cowok nggak gue kenal yang nyenggol gue dari belakang.

“Hey, bos!” sapanya.

Dalam hati: ELO SIAPA SIH, NYET?!

“Hey!” jawab gue sambal senyum, pura-pura kenal.

“Gokil. Suka lari juga ya? Kok nggak pernah liat?”

Dalam hati: BANGET, DAN GUE JUGA NGGAK PERNAH LIAT ELO KECUALI HARI MINGGU INI.

“Ah, ini baru pertama,” jawab gue.

“Oh, pantes,” jawabnya.

PANTES APAAN NYET?

Setelah ngobrol nggak penting dan durasi lari gue jadi kepotong, gue pun lanjut lari dengan kecepatan yang gue naikin dikit buat mengejar ketertinggalan waktu.

DAN GUE MASIH NGGAK TAU BARUSAN GUE NGOBROL SAMA SIAPA.

Setelah satu putaran, cowok tadi gue lihat sudah duduk di pinggir lapangan bersama..

…mantan pacar gue!

Mantan pacar gue itu adalah orang yang pernah gue ceritain di sini.

Mereka duduknya agak berjarak, sekitar satu setengah meter, tapi kelihatan akrab banget saat ngobrol. Dan, setiap kali gue menjangkau sisi lapangan yang dekat dengan mereka, keduanya selalu melambaikan tangan ke arah gue. Tapi gue tetap nggak mau berhenti kalau goal yang sudah gue set belum tercapai.

“Lima putaran lagi!”

“Empat putaran lagi!”

“Tiga putaran lagi,” teriak gue setiap kali mereka melambai.

Dalam hati: *sebal diganggu mulu*

Sebenarnya gue nggak tahu berapa putaran lagi sampai target jarak lari gue tercapai.

Setelah kurang lebih dua belas putaran, gue mematikan aplikasi jogging dan langsung nyamperin mereka yang kelihatannya masih asyik banget ngobrolnya. Dalam hati gue teriak, “KALIAN KENAPA NGGAK PULANG AJA SIH MATAHARI UDAH PANAS GINI YA AMPUN!”.

Maksud gue kan ada tempat ngobrol yang lebih enak daripada pinggiran lapangan yang mulai kepanasan matahari.

Gue menyalami keduanya lalu duduk di tengah-tengah.

“Kalian duduknya jauhan amat, kayak orang lagi berantem,” canda gue membuka percakapan.

Mereka berdua tertawa, dan kalimat berikutnya yang keluar dari mulut mantan pacar biadab ini sungguh tidak tertebak.

“Istri kamu ke mana, kok nggak diajak?”

Gue tersenyum getir, menunjuk ke arah motor. “Tadi ada di bawah jok. Nggak tahu kalau sekarang.”

Keduanya tertawa. Gue ikut tertawa.

Gue bersyukur banget karena putus sama dia udah lama banget.

“Kamu sendiri suaminya ke mana? Udah nikah belum sih, Ntan?” tanya gue ke mantan dengan nada yang menyindir. Gue tahu dia belum menikah.

“Udah, kemarin sore,” jawabnya sambil ketawa.

Cowok di sebelah gue tertawa lebar. Dalam hati gue berkata, “JANGAN-JANGAN INI SUAMINYA, ANJIR. TAPI KOK DIA KENAL GUE SIH.”

“Terus suami kamu ke mana, kok nggak dibawa?”

Dia menatap cowok di sebelah gue sambil tersenyum, dan tanpa menjawab, si mantan langsung menampol punggung gue yang penuh keringat.

“Ke sini naik apa?” tanya gue lagi.

“Jalan kaki,” jawabnya.

“Kalau gitu pulang sama saya aja, mau nggak? Saya sendirian nih, kebetulan.”

Cowok di sebelah gue yang dari tadi cuma cengengesan, membuka suara.

“Iya, ikut aja. Sekalian nostalgia masa muda,” katanya.

Dalam hati: APAAN SIH MONYET.

Pada akhirnya si mantan menolak tawaran gue dan mengaku mau jalan kaki aja. Gue juga bersyukur dia menolak ajakan gue, karena kalau ikut, banyak skenario yang sudah gue siapkan untuk dia.

Satu: gue diemin sepanjang jalan.
Dua: duduknya gue suruh di atas handle jok belakang motor.
Tiga: gue sengaja nabrak dan jatuhin motor ke got.
Empat: gue lakukan ketiganya bersamaan.

Setelah ngobrol unfaedah—I’ve told ya!—gue pamit pulang.

Pas pulang, gue mampir ke minimarket buat beli minuman. Begitu keluar, gue melihat si mantan boncengan sama si cowok tadi. Mantan gue yang bawa motor, dan cowoknya di belakang sambil meluk erat banget kayak tokek nemplokin manusia.

Gue berdiri dan sempat speechless untuk beberapa detik saat melihatnya.

“TERNYATA TOKEK, GUE KIRAIN MONYET,” gumam gue.

No comments:

Post a Comment