Menggampar Sekuat Tenaga




Setibanya gue di rumah sehabis jogging dan mengalami hal awkward bersama mantan pacar seperti yang gue ceritakan di postingan kemarin, listrik di rumah mati.

Gue nunggu sekitar 30 menit dan listrik belum nyala juga, padahal gue sedang ingin menyelesaikan kerjaan yang deadline-nya hari Senin alias besoknya. Karena bingung mau ngapain, gue pun mandi dan berniat nongkrong-nongkrong bete di warung kopi legendaris di dekat rumah.

Jadi, di dekat rumah gue ada warung kopi sederhana yang sudah berdiri kokoh sejak gue masih SMP. Biasanya setiap hari Sabtu sepulang sekolah gue dan teman-teman main ke sana, bukan buat ngapa-ngapain, tapi beneran cuma buat minum kopi atau sarabba dan pisang goreng yang memang terkenal enak.

Dan murah.

Dulu beneran itu harganya murah banget karena dengan uang jajan dua ribu rupiah gue sudah bisa menikmati segelas sarabba dan dua pisang goreng yang ukurannya sebesar dagu Thanos. Kalau sekarang harganya sudah menyesuaikan kurs mata uang asing.

Hari itu di sana gue nongkrong sendirian, tanpa laptop, tanpa hape, pokoknya tanpa teknologi. Di warung kopi ini juga memang tidak ada wi-fi atau colokan untuk numpang ngecas. Tempat ini benar-benar buat minum kopi, dan bersosialisasi di dunia nyata. Tapi karena hari itu gue lagi bete banget habis dikibulin mantan dan listrik di rumah mati, gue duduk di pojokan sendirian dan setiap ada orang yang gue kenal, gue langsung nutupin muka gue pake sarung biar mereka nggak usah nyamperin gue untuk basa-basi nggak penting.

Waktu kopi gue menyisakan setengah gelas, tiba-tiba muncul kepala dari bawah meja gue.

YA ENGGAK LAH.

Tiba-tiba ada orang nepuk pundak gue dengan cukup keras.

“Woe, Man. Kosong banget?”

Gue melihat sekeliling warung kopi ini dan memang gue doang yang sendirian, yang lain ada yang datang berdua, bertiga, berempat, dan di satu sudut ada yang datang ramean banget kayak mau tawuran antarkampung.

“Woe, Gung. Iya nih, lagi bete banget,” jawab gue datar.

Agung ini teman kelas waktu SMP. Gue terakhir ketemu sama dia… itu… ehm.. anjir gue terakhir ketemu sama Agung sembilan tahun yang lalu.

Gue langsung memperbaiki posisi duduk yang tadinya membungkuk kayak kodok kena sembelit.

“Eh, kita lama nggak ketemu, Coy! Gimana kabar kamu?” tanya gue dengan semangat.

“Haha, iya! Kita terakhir ketemu sudah lama sekali. Waktu istri mantan presiden belum punya Instagram!”

mendengar itu, gue dalam hati langsung ngomong, “ANJIR, INI ORANG JOKES-NYA OKE JUGA.”

“Sendirian?”

“Yoih.”

“Gimana, gimana kabarnya?” tanya gue lagi. “Kok bisa ada di sini?”

“Iya, tadi saya duduk di sana sendirian terus merhatiin kamu dan kok kayaknya kenal.”

Tiba-tiba gue merasa awkward.

Cowok yang lagi sendirian di warung kopi diperhatikan terus-menerus oleh cowok yang juga sedang sendirian sampai akhirnya disamperin dan cowok itu ngaku sendiri kalau dia memperhatikan.

GELI ANJIR.

“Lah, sendirian juga?”

“Sendiri. Lagi bete.”

DEG!

Gue lagi bete, nongkrong sendirian di warung kopi. Temen gue lagi bete, dan juga duduk sendirian di warung kopi. Apakah ini cinta?

“Di rumah kamu nggak lagi mati listrik, kan?” tanya gue memastikan.

“Wah, enggak tau. Saya udah di sini dari pagi.”

“Terus bete kenapa?”

“Belum capai target kerjaan.”

“Hari Minggu masih kerja?”

“Begitulah.”

Gue melihat baju yang dikenakan Agung, sepertinya dia kerja di salah satu perusahaan perkreditan yang cukup terkenal. Pokoknya huruf awal dan akhir nama depan perusahaanya sama-sama A dan nama belakangnya pake kata Finance. Kalau kalian nggak tau, gue yakin nyokap atau bokap kalian tau. Minimal pernah ngajuin kredit di sana deh.

Bokap gue sering soalnya.

Setelah ngobrolin sebentar soal kesibukan masing-masing dan sama-sama nanyain teman-teman SMP yang sama-sama nggak pernah kami temuin, Agung ngajakin gue cabut.

“Udah mau pulang belum, Man?”

“Belum, sih. Masih malas.”

“Temani saya ke rumah klien, mau nggak?”

“Err.. di mana?”

“Ada lah. Dekat dari rumah Indarjaya, teman SMP kita juga. Ingat?”

“Oh, ingat,” jawab gue. “Ya udah, ayok!”

Tanpa sempat ngabisin kopi yang—tinggal dikit sih, gue dan Agung langsung berangkat ke rumah kliennya. Gue boncengan sama Agung pake motornya sementara motor gue, gue tinggal di warung kopi.

“Ini mau nagih ya?” tanya gue.

“Enggak.”

“Terus?”

“Klien ini pernah kredit motor, terus nunggak.”

“HAH?”

“Iya. Dia nunggak sudah berapa bulan. Ini tuh mau ngambil motornya sebenarnya.”

“LAH TERUS KENAPA ELO NGAJAK GUA? ELO PIKIR GUA TUKANG PUKUL APA BEGIMANE, BADAN GUE KURUS KERING KAYAK DOBBY LAGI KENA TYPUS GINI.”

“Dobby siapa? Teman SMP juga bukan?” tanya Agung dengan polosnya.

“ANAKNYA PAK HAJI SOBIRIN!”

Gue yakin kami berdua nggak punya kenalan dengan nama Sobirin.

Sekitar 15 menit kemudian, gue tiba di depan rumah klien Agung yang nunggak bayar cicilan motor itu dan… KAYAKNYA GUE KENAL DEH INI RUMAH SIAPA.

“Eh, ini rumah siapa sih?” tanya gue saat kami berjalan masuk. Agung nggak menjawab, cuma menatap gue sambil senyum.

Begitu masuk dan memencet bel, gue langsung mual ketika pintu dibuka oleh seorang bapak-bapak berkumis tebal dan ubanan dengan tinggi badan kurang dari tinggi badan ideal untuk mendaftar sebagai anggota TNI alias ITU PAK GUNTUR WALI KELAS GUE WAKTU KELAS SATU SMP TOLONG YA!

Sambil duduk di ruang tamu, gue dan Agung bertatap-tatapan dengan perasaan sama-sama nggak enak. Gue nyesal banget mengiyakan ajakannya tadi.

Selama percakapan antara Agung dan Pak Guntur, gue cuma diam dan jadi pendengar. Gue nggak tau mau ngapain, dan nggak bisa pulang juga.

“Jadi kalian ke sini buat ngambil motor saya?” kata Pak Guntur.

Agung diam.

Gue menunduk dan memejamkan mata, berharap pas buka mata gue bisa tiba-tiba ada di puncak gunung Cartenz.

Gue masih ingat banget waktu SMP pernah nemenin Agung ke sini karena nilai Fisikanya yang bermasalah. Agung sampai ngemis-ngemis dan hampir sujud ke Pak Guntur biar nilainya bisa bagus, dan hari ini gue seperti melihat dunia yang dipenuhi dengan hal-hal yang berkebalikan.

Ternyata benar, roda kehidupan memang berputar.

“Kalian boleh ngambil motor saya,” Pak Guntur melanjutkan. “Tapi sebentar, sepertinya saya kenal kalian.”

Gue langsung menegakkan kepala.

“Saya juga sepertinya kenal Bapak,” kata Agung.

“Saya sepertinya pernah mengajar kalian.”

“Saya juga sepertinya pernah diajar sama Bapak,” kata Agung, yang bikin gue nggak bisa menahan tawa.

Dan akhirnya beneran, di tengah percakapan serius dan semi-awkward itu, gue dan Agung tidak kuasa menahan tawa. Dan Pak Guntur hanya memandangi kami dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Saat itu juga, gue ingin menggampar Agung dengan sekuat tenaga.

No comments:

Post a Comment