Suatu Hari Nanti

Steve Johnson on Pexels

Sumpah, gue kangen banget nulis di blog ini dan baru kesampaian sekarang.

Ada banyak sekali pikiran-pikiran di dalam kepala yang ingin gue tuangkan ke dalam tulisan sejak sebulan yang lalu, tapi nggak pernah sempat karena gue superdupersibuk. Saking banyaknya isi di dalam kepala, sekarang gue jadi nggak tau harus memulai dari mana.

Selama sebulan terakhir gue melewati banyak hal; menyedihkan, menyenangkan, bikin merenung, sampai kejadian yang ngasih banyak sekali pelajaran berharga. Dan lagi-lagi, gue bingung mau mulai cerita dari mana.

Begini… awal bulan kemarin gue sedang sibuk-sibuknya ngurusin kerjaan dan project bersama beberapa orang teman bloger. Selain itu, gue juga udah telanjur beli tiket ke Jogja untuk awal bulan Agustus kemarin, dengan harapan di akhir bulan Juli nanti gue punya waktu untuk istirahat dan menulis di blog. Ternyata kerjaan gue makin numpuk dan malah makin sering lembur.

Untung ada susu berduit yang selalu setia setiap saat menemani di saat gue qerja lembur bagai quda.

ANJIR IKLAN SUSU KESUSUPAN DEODORAN RAMAYANA KOK JADINYA GINI AMAT.

Sebagai anak Ekonomi yang penuh perhitungan, gue nggak mau dong menyia-nyiakan tiket yang udah gue beli. Gue pun menyelesaikan kerjaan hingga tetes terakhir lalu packing dan meluruskan punggung yang lekukannya udah kayak punggung teranosaurus kena skoliosis ini.

Di Jogja gue ketemu bloger bangsat bernama Febri Dwi Cahya Gumilar yang biasa dipanggil Rano Karno yang dulunya mengenaskan dan sempat berpikir dirinya akan jadi jomlo seumur hidup. Tapi pas ketemu kemarin, dia bawa pacar. Padahal setahu gue yang belum selesai itu skripsinya, tapi kenapa dia malah ketemuan sama gue bawa pacar alih-alih bawa referensi tambahan buat ngelarin skripsi yang stagnan di bab tiga. Gue curiga jangan-jangan pacarnya itu cuma diperalat buat ngerjain skripsinya.

Tapi kalau benar, kayaknya lucu juga kisah cinta mereka: disuruh bikin skripsi pas lagi sayang-sayangnya.

Habis itu ditinggal.

…ditinggal ke toilet maksudnya. Mau pipis.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut gue pas ketemu Febri kemarin adalah... “Walaikumsalam, Feb!” soalnya dia datang-datang langsung ucap salam, udah kayak panitia bukber yang lagi minta sumbangan warga aja. Tapi dari situ juga gue sadar kalau nggak semua orang yang mukanya sangar itu hanya cocok jadi preman, tapi cocok juga jadi petugas keamanan #LAH.

“Kok bisa suka sama Febri sih, Mbak? Disantet ya?” tanya gue ke pacarnya Febri yang berinisial N. Nama panggilannya Nadia.

Nama Nadia mengingatkan gue sama teman kelas gue di SMA yang namanya juga Nadia. Orangnya pendiam. Saking pendiamnya, dia jarang banget ngomong. Gue bahkan sempat curiga jangan-jangan dia kalau lagi ngomong aja sambil diam.

[OKE PARAGRAF DI ATAS DIABAIKAN SAJA]

“JANGAN GITU DONG BANG FIRMAN. SAYA SUSAH BANGET LOH DAPAT CEWEK, JANGAN DIGITUIN DONG PLIS!” kata Febri sebelum pacarnya sempat menjawab.

Setelah ketemu Febri, ngobrol agak lama, dan berpelukan kayak Teletubbies sampai pacarnya cemburu, gue ke FKY.

Nggak lama gue di FKY, GUE KETEMU FEBRI LAGI.

Ya udah gue ajakin foto aja.
Yang motoin amatiran, jadi hasilnya begini. Dari 10 foto, ini udah yang paling mendingan.

Oh, buat yang belum tahu, FKY adalah Festival Kesenian Yogyakarta. Kalau FYI, for your information. Gimana, informatif sekali kan tulisan gue?

Sebenarnya di Jogja gue ketemu sama banyak orang, termasuk kasir Alfamart yang ganteng, petugas parkir Hartono Mall yang cantik, pelayan Warung SS depan Hartono Mall yang masih sekolah, bule Belanda di Malioboro yang kaos kakinya panjang sebelah, dan penjual pulsa di samping terminal Condongcatur yang mukanya jutek banget. Tapi nggak akan gue ceritakan semuanya karena pasti bakal jadi postingan terpanjang yang pernah ada di blog ini.

Oh, satu lagi. Gue juga ketemu beberapa driver Go-car. Semuanya baik, nggak makan sabun.
Setelah dari Jogja, gue menyempatkan diri main ke Solo.

Dulu gue dua tahun di Jogja dan nggak pernah tahu kalau ternyata jarak dari Jogja ke Solo cuma satu jam naik Prambanan Express dan harga tiketnya cuma delapan ribu rupiah.
Murah, tjuy!

Ini kalau ada orang Solo yang baca, pasti gue udah diketawain habis-habisan.

Hal pertama yang gue lakukan sesaat setelah tiba di Solo untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup gue (anjir lebay!) adalah: mencari kue serabi di pinggir jalan. Ternyata enak, rasanya kayak kue serabi. Beneran, kue serabi rasanya kayak kue serabi. Persis. Nggak ada bedanya. Nggak ada rasa semangkanya, apalagi jambu. Nggak ada. Serabi aja.

Setelah puas makan serabi yang harganya murah banget, gue melanjutkan perjalanan dan menghabiskan beberapa hari di kota Solo. Dan beberapa hari di Solo cukup untuk membuat gue jatuh cinta dengan kota kecil yang penuh tugu di sepanjang jalan kotanya itu, dan membuat gue ingin kembali lagi ke sana suatu hari nanti.

No comments:

Post a Comment