Punya Kekasih

via Artem Bali on Pexels

Kemarin, tepatnya dua hari yang lalu, gue iseng main ke Kaskus lagi setelah berbulan-bulan vakum. Pas main ke sana lagi, ada banyak sekali thread seputar kejadian-kejadian yang sedang heboh di dunia maya dan gue merasa baru keluar dari dalam gua gara-gara sama sekali nggak paham bahasannya. Buat gue dunia maya (terutama media sosial) terlampau dinamis, segala macam informasi datang dan pergi silih berganti dan melesat bak peluru yang nggak ada tempat berhentinya. Melesat gitu aja sampai orang-orang lupa kalau peluru itu pernah ditembakkan.

Dari sekian banyak artikel yang jadi Hot Thread di situ, gue tertarik sama satu thread berjudul 7 Alasan Kamu Tak Perlu Malu untuk Cerita soal Depresimu yang diposkan oleh IDN Timesssss, salah satu media partner Kaskus Network. Gue tertarik sama thread itu karena:

1) Gue baru aja baca berita soal orang bunuh diri di tempat ibadah
2) Gue juga pernah depresi
3) Thread yang lain gue nggak paham
4) Udah.

Dari tujuh poin yang tertulis di sana, gue hanya bisa setuju sama satu poin (beserta garis bawahnya). Poin sisanya juga sepertinya hanya untuk melengkapi judulnya. Ya kita tau lah media kayak IDN Timesssss ini sebenarnya mirip-mirip sama Tribunssss yang cenderung lebih fokus mengejar trafik dan profit ketimbang kualitas tulisan—satu hal yang cukup dilematis bagi media dan disayangkan banyak praktisi di bidang yang sama.

Masalah orang-orang yang kena depresi ini memang cuma satu: nggak punya teman yang dapat dipercaya untuk berbagi. Kalaupun ada yang bisa dipercaya, belum tentu mereka bisa mengerti dan mau memahami. Sering banget gue ketemu orang yang kita baru mau mulai curhat, eh dianya balik curhat duluan dan lebih panjang tambah lebar. Ini persis yang dituliskan di poin keenam di thread di Kaskus itu; memancing cerita mereka yang rupanya juga mengalami gangguan yang sama.

Masalah selanjutnya kalau kita ketemu dengan orang yang punya masalah yang sama seperti ini adalah: ego. Siapa yang mau medengarkan siapa lebih dulu. Siapa yang mau memahami siapa lebih dulu.

Rumit.

Bukannya membantu mengurangi beban, malah makin nambah. Makanya semakin banyak kita temukan kasus-kasus bunuh diri yang kita baru tau orang itu depresi setelah kita nggak bisa menolongnya lagi.

Gue pun setuju sama salah satu kicauan warga Twitter yang mana itu adalah gue sendiri.





SILAKAN DIGEBUK RAMAI-RAMAI.

Lanjut.

Masalah seperti ini bisa jadi lebih rumit lagi ketika sudah sampai ke dunia maya—ke mata netizen yang kadang-kadang lucu nan menggemaskan menanggapai setiap isu. Di sini gue agak setuju dengan salah satu komentator (di thread Kaskus) yang bilang bahwa kurangnya empati untuk orang-orang yang mengalami depresi seperti ini lebih ditujukan pada netizen Indonesia yang kebanyakan kurang simpati dan empati terhadap masalah orang lain. Mereka lebih banyak bersikap persetan dan cenderung balik mengejek atau sekadar ingin tau masalah tanpa ngasih solusi.

Gue paham mereka bersikap demikian karena nggak pernah ada di posisi yang sama atau serupa. Tapi, gue juga nggak sepenuhnya setuju dengan pernyataan yang menggeneralisasi warganet Indonesia itu sebab yang menjadi korban depresi sampai memutuskan untuk bunuh diri bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

Menemukan orang yang bisa dipercaya dan mampu (dan tentu saja mau) mendengarkan cerita masa sulit kita sama kayak mencari jarum di tumpukan jerami.

Kemungkinan berhasilnya 1:1000.

Makanya ketika gue tau ada komunitas yang mulai peduli terhadap isu-isu kemanusiaan seperti ini, gue senang banget. Selain Save Yourselves Indonesia seperti yang dimention di thread, gue juga tau satu lagi: Into the Light Indonesia. Meski komunitas ini sudah terbentuk cukup lama—sejak 2013—tapi baru setahun-duatahun terakhir terkenal seiring dengan banyaknya kasus bunuh diri karena depresi. Ya emang kayak gitu sih.. kadang-kadang kita baru menyadari sesuatu atau seseorang itu ada ketika kita sudah berada di titik terendah padahal di sana ia selalu ada dan siap menolong. Wesbiyasah~

Into the Light Indonesia ini komunitas berfokus pada upaya pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa. Mereka akan dengan senang hati membantu, menasihati, dan menemani di masa-masa sulit. Mereka juga akan merekomendasikan psikologis terbaik untuk berkonsultasi dan melakukan terapi. Sayangnya, harga yang harus dibayar untuk konsultasi kesehatan jiwa seperti ini nggak bisa dibilang murah. Dan bukan juga soal harga, tapi cocok-cocokan. Kalau masalahnya semata di harga, tokoh-tokoh kaya raya di luar sana seharusnya nggak akan berakhir hidupnya dengan bunuh diri.

Salah satu hal yang membuat orang depresi lebih cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri juga adalah kesepian. Karena kesepian dan nggak tau mau ngapain, mereka jadi memikirkan hal yang sama sepanjang waktu dan, boom! Makanya menurut gue penting banget punya hobi yang bisa jadi distraktor, atau seseorang yang bisa membuat kita bisa melupakan depresi sejenak. Dan hei, itu bagian dari terapi. Lama-kelamaan, karena semakin sibuk dengan hobi dan semakin intens dengan seseorang yang menemani, kita bisa lupa kalau pernah depresi. Ajaib, kan? Mungkin hanya butuh konsistensi untuk menyembuhkannya.

Gue sendiri baru sembuh.

Sesekali masih kepikiran dan terbawa mimpi, tapi udah nggak separah sebelumnya.

Eh, eh, kok jadi panjang banget gini sih. Sebenarnya tuh di tulisan ini gue cuma mau bilang kalau gue punya kekasih. Wk.

Dah.

No comments:

Post a Comment