Merencanakan Pelarian

StockSnap on Pixabay

Jane Austen adalah salah satu penulis hebat dari Inggris yang banyak memengaruhi gaya menulis para penulis masa kini. Karyanya yang paling terkenal adalah novel Pride and Prejudice, yang menceritakan kisah cinta Elizabeth Benneth dan Mr. Darcy. Novel ini pernah dinobatkan sebagai novel dengan cerita paling indah di sepanjang sejarah karya sastra dunia. Belakangan, banyak yang berdebat tentang sosok kedua tokoh tersebut di kehidupan nyata. Ada yang bilang, tokoh Elizabeth Benneth adalah representasi dari Jane Austen sendiri sedangkan Mr. Darcy adalah representasi dari Thomas Langlois Lefroy; politisi dan juga pengacara yang berasal dari Irlandia pada masanya.

Di kehidupan nyata, Jane Austen dan Thomas Lefroy saling menyukai, tetapi mereka tidak pernah mendapat restu sehingga tidak pernah hidup bersama. Mereka sempat merencanakan pelarian, tetapi entah Jane atau Lefroy, berubah pikiran dan hingga akhir hidupnya, Jane tidak pernah menjadi milik Thomas Lefroy.

Jane meninggal di usia 41, sementara Lefroy hidup lebih lama (lebih dari dua kali usia Jane) dan menikah dengan Mary Paul. Mereka melahirkan tujuh orang anak yang salah satu di antaranya menjadi penggemar berat karya-karya Jane Austen. Bayangkan bagaimana perasaan seorang Lefroy ketika mengetahui kenyataan itu.

Jane Austen tidak pernah menikah. Thomas Lefroy menikah dan punya anak, tetapi semua tahu bahwa cintanya hanya untuk Jane Austen. Anak kedua Thomas diberi nama Jane (bulan kelahiran Jane dekat dengan bulan kematian Jane Austen) dan anak terakhirnya diberi nama Elizabeth, tokoh utama di dalam novel Pride and Prejudice.

***

Salah satu penulis romansa favorit gue selain Nicholas Sparks adalah Jane Austen. Lewat novel Pride and Prejudice, gue belajar banyak hal tentang Inggris di masa lampau dan pengaruhnya di masa sekarang. Karena buku itu juga, gue semakin berkeinginan untuk menghabiskan masa tua di London, dan mengunjungi Dublin University, tempat Lefroy berkuliah Hukum di Irlandia dulu. Gue nggak pernah tau kenapa gue ingin sekali pergi ke sana. Seperti ada sesuatu yang menarik gue untuk ke sana, seperti ada seseorang yang menginginkan gue untuk berada di sana, suatu saat nanti.

Dan kalau boleh jujur, keinginan itu masih ada sampai sekarang. Memang kedengaran sangat aneh, tetapi seperti itulah kenyataannya.

Beberapa orang mungkin ingin pergi ke Inggris karena menggemari klub sepakbola seperti Manchester United atau Liverpool, atau mungkin karena menonton dan menggemari Harry Potter. Tetapi gue, sudah jauh lebih dulu punya keinginan ke sana jauuuuh sebelum gue bahkan mengenal siapa Jane Austen dan seperti apa isi novel Pride and Prejudice.

Dan belum kesampaian juga.

(Dan sebagai tambahan, gue bukan penggemar Harry Potter).

Baik Jane Austen maupun Thomas Lefroy sekarang sudah tidak ada. Tetapi di Inggris, nama mereka sangat terkenal. Jane Austen dikenal karena karyanya yang satir dan kritis terhadap kondisi sosial di Inggris abad 18 dan Thomas Lefroy dikenal karena kisahnya bersama Jane. Entah bagaimana dengan Lefroy di Irlandia, tapi jangan-jangan dia malah lebih terkenal dan diakui di Inggris daripada di Irlandia sendiri. Who knows, right?

Gue jadi teringat beberapa tahun lalu, kalau nggak salah sekitar tahun 2013 atau 2014, ada lomba menulis yang berhadiah jalan-jalan ke Inggris. Tanpa pikir panjang gue pun ikut lomba itu meskipun pada akhirnya gagal menang. Mungkin karena di tulisan itu gue berbohong dan mengaku menggemari Harry Potter, padahal nonton juga cuma sesekali kalau sedang tayang di televisi. Oh, kalau penasaran, tulisan yang gue ikutkan lomba itu masih ada di blog ini dengan judul Why? kalau gue nggak salah ingat. Intinya peserta disuruh menuliskan kenapa mereka yang harus berangkat ke Inggris dan bukan Voldemort.

Dan terakhir, sembilan tahun dari sekarang gue nggak akan berada di tempat gue sekarang berada lagi. Sama seperti Jane dan Lefroy, gue merencanakan pelarian untuk memulai hidup baru. Bedanya, (semoga) nggak akan ada yang mengubah pikiran gue karena gue merencanakan pelarian ini hanya seorang diri.

No comments:

Post a Comment