She Will Be Loved


Judul               : She Will Be Loved
Penyanyi        : Maroon 5
Album             : Songs about Jane
Tahun             : 2002

Gue sedang terburu-buru menuju hotel bersama seorang teman—panggil saja Farel—yang akan mendaftar jadi peserta lomba lari maraton saat handphone gue bunyi, satu panggilan masuk dari nomor yang tidak gue kenal. Tanpa pikiran apa pun gue menjawab telepon itu.
“Halo…”

“Halo, dengan Firman?” kata suara di seberang sana.

“Yak, betul. DUA JUTA RUPIAH!. Ini siapa ya?”

“Ari, yang kemarin minta nomor itu.”

Ari. Kemarin. Minta nomor.

“Sori, yang mana ya?”

“Yang kemarin minta nomor di DM Twitter.”

“Sori, saya lupa.”

“d’Masiv, d’Masiv,” katanya tanpa menyerah.

“Oh, ingat, ingat…”

Sehari sebelumnya gue menyambar cuitan d’Masiv di Twitter dan menanyakan kapan mereka ke Makassar lagi dan si Ari ini menyambar twit gue dengan “Orang Makassar dan suka d’Masiv juga ya? DM nomor dong!” dan dengan sedikit ragu gue pun mengirimkan dia nomor telepon gue via DM. Paling mau nawarin MLM, pikir gue. Setelah itu gue tidur karena saat itu sudah jam tiga pagi.

“Gimana, gimana, Bro?” tanya gue.

“Lagi di mana?”

“Ini lagi di jalan, sama temen.”

“Oh, hari ini mau ketemu, bisa gak?”

“Buat apa ya?” pikiran gue mulai tidak enak. Jangan-jangan memang leader MLM lagi cari mangsa. Apalagi waktu itu memang MLM sedang ramai-ramainya.

“Nggak ada, cuma mau ngobrol aja,” jawabnya santai.

Tuh, kan!

Kalau bukan MLM, siapa lagi yang suka tiba-tiba tidak ada hujan tidak ada payung, tahu-tahu ngajak ngobrol?!

“Kalau hari ini nggak bisa, Bro. Soalnya udah ada urusan. Besok aja, atau nanti saya kabarin lagi. Gimana?”

“Oh, okay! Nanti saya telepon lagi, ya.”

“Sip!”

Setelah telepon mati, Farel bertanya dan gue menjelaskan ulang kejadian kemarin beserta percakapan gue di telepon baru saja.

“Homo kali dia tuh,” kata Farel dengan santainya. Bagian depan helm gue membentur bagian belakang helmnya setelah dia mengerem mendadak karena ada mobil yang mendadak berhenti. Hari ini semua serba mendadak.

“Atau mungkin mau nawarin MLM,” tambah gue.

“Atau jangan-jangan, dia, homo yang mau nawarin MLM?”

Gue diam, Farel ikutan diam dan hening menemani kami hingga sampai di lokasi pendaftaran lomba. Setelah urusan teman gue selesai kami pun pulang.

Besok paginya Ari kembali menelepon dan minta ketemuan. Pikiran gue masih seputar dia mau menawarkan gue untuk jadi downline-nya dan sesekali memikirkan kalau dia benar manusia homo seperti yang dikatakan Farel di atas motor kemarin. Gue pun akhirnya memutuskan untuk menemui Ari dengan harapan tinggi bahwa tujuannya adalah yang nomor satu. I mean, setidaknya kalau benar dia adalah agen MLM, gue bisa menolak ajakannya dan masalah selesai.

“Saya di tempat makan pisang epe di ujung utara Losari, ya.”

“Oke, saya segera ke sana.”

Sore hari sekitar satu jam setelah janjian kami pun bertemu. Segalanya benar-benar di luar perkiraan gue. Ari ternyata bukan manusia homo dan bukan mau menawarkan bisnis MLM. Bukan.

“Jadi kapan mau gabung?”

“Hm, saya pikir-pikir dulu deh. Soalnya saya sebenarnya tidak suka-suka amat sama d’Masiv.”

“Oke. Tapi kalau kamu jadi anggota Masivers, kamu bisa ketemu d’Masiv di belakang panggung dan akses lain yang tidak bisa didapatkan penonton lain. Saya udah sering ketemu mereka, pernah sehotel sama mereka, dan selalu ngantar-jemput mereka ke bandara kalau mau konser atau jalan-jalan ke sini. Bahkan pernah salat Jumat bareng mereka. Jangan lewatkan kesempatan emas ini!”

Penjelasan Ari bikin gue sejenak berpikir kalau d’Masiv baru saja berubah dari grup musik ke grup multi-level marketing.

“Oke, oke. Nanti saya kabarin. Tapi kalau saya tidak jadi gabung, tidak apa-apa, kan?”

“Tidak masalah, yang penting silaturahmi tetap jalan.”

Sore itu ditutup dengan kami menikmati pemandangan sunset di Pantai Losari. For your information, Pantai Losari adalah salah satu spot terbaik untuk melihat pemandangan matahari terbenam di Indonesia Timur.

Setelah pertemuan itu, gue dan Ari makin sering ketemu, di dunia nyata dan di dunia maya. Dan gue tidak pernah gabung jadi anggota Masivers yang waktu itu anggotanya belum sampai sepuluh orang. Tetapi, seperti pesan Ari di awal, silaturahmi tetap harus dijaga. Hanya beberapa bulan sejak saling kenal, gue dan Ari sudah seperti kakak-adik. Dia pernah tinggal di rumah gue beberapa hari, gue sering tidur siang di kosannya kalau sedang malas masuk kuliah, dan kami sering menghabiskan waktu nongkrong hemat di KFC di samping kampus gue.

Dan di situlah kami pertama kali menyukai She Will Be Loved-nya Maroon 5.

Handphone seorang perempuan yang duduk di meja sebelah, berbunyi. Perempuan itu sempat menatap kami sebelum mengecek handphone-nya, dan setelah perempuan itu mengobrol dengan seseorang di seberang telepon, Ari dengan percaya dirinya berdiri dan menghampiri perempuan itu.

“Itu tadi lagu apa, ya?” tanyanya.

“Yang mana?”

“Yang jadi ringtone Mbak tadi.”

“Oh, Maroon 5.”

“Judulnya?”

“She Will Be Loved.”

Lalu Ari kembali ke tempat duduknya sementara gue hanya tersenyum melihat mereka mengobrol. Dan gue baru saja mikir, “pantesan Ari sampai hari ini masih jomlo, deketin cewek bukannya minta nomor malah nanya judul lagu.”

Keesokan harinya ketika gue main ke kosan Ari lagi, lagu She Will Be Loved dari Maroon 5 itu sudah terputar di speaker Bluetooth JBL mini-nya. Lama-kelamaan gue jadi keseringan mendengar lagu itu dan selalu auto-nyanyi setiap kali sampai di bagian “I don’t mind spending everyday” lalu dilanjut dengan “Na na na na na na na na” karena kami sama-sama tidak hafal lirik lanjutannya. Lalu ketika gue mulai jarang ketemu dengan Ari karena kesibukan masing-masing, maka setiap punya kesempatan bertemu gue akan selalu menyanyikan penggalan lirik lagu itu dan tidak akan ada yang bisa menghalangi kami untuk tertawa mengingat waktu menghangatkan itu.

Tapi kalau kalian pikir gue dan Ari selalu melewati waktu dengan baik-baik saja, kalian salah besar. Karena satu kesalahpahaman kecil (akan gue ceritakan lain waktu), gue sempat lost contact selama hampir setengah tahun dan baru rujuk lagi ketika kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah mal di tengah kota.

“Kok sendiri? masih jomlo aja?” tanya gue sambil memeluk Ari.

Ari kaget bukan main. Dan tanpa menjawab, ia membalas pelukan gue lalu setelahnya meninju pipi gue hingga lebam.


Bangsat.

No comments:

Post a Comment