Teddy Picker


MATAHARI
terlambat menyingsing, didahului hujan yang menyapa bumi dengan lembut. Namun, sinar keemasan dari timur mulai mengintip, perlahan mengeringkan jalan yang basah. Hujan pagi itu datang tanpa diduga, termasuk oleh seorang pria tua yang terpaksa berteduh di depan toko yang masih tutup karena tak membawa payung.

"Where are you?! I’m in the bridal room and it’s empty now."

"Just arrived. I’m in the basement, will be there in a minute."

Harris terburu-buru memasuki lift setelah menekan ikon gembok pada kunci mobilnya. Ia menekan angka empat begitu pintu lift tertutup, tubuhnya bergetar berusaha menjaga bunga honeysuckle yang dipetiknya di taman hotel tetap utuh.

Denting lift berbunyi, pintu terbuka. Di hadapan Harris langsung terlihat pintu kamar B404, tempat Daisy sedang—atau baru saja—dirias.

"I’m in front of your door."

"Get in!"

Harris membuka pintu dan Daisy berdiri di hadapannya mengenakan gaun pengantin serba putih, kontras dengan suasana kamar yang remang dengan interior gelap.

"You look so beautiful," puji Harris.

"Hug me!"

Harris langsung memeluk Daisy dan melempar bunganya ke kasur. Daisy bahkan tak melirik bunga itu. "How much time do we have left?" tanyanya. Daisy melirik jam di ponselnya. "Twenty-five minutes."

Mereka masih berpelukan, Daisy merasakan kehangatan tubuh Harris yang membuatnya enggan melepaskannya. Setiap kali ia ingin melepaskan pelukan, rasanya semakin kuat ia terikat pada tubuh lelaki kurus jangkung itu.

"Can you dance?" tanya Daisy.

"I don’t."

"Me neither. But let’s do it."

"OK."

Daisy mencari-cari lagu di ponselnya, tetapi tak menemukan yang pas. Ia bahkan tak tahu lagu apa yang cocok untuk berdansa.

"What was the latest song you played?"

Daisy melihat daftar lagu di ponselnya. "Teddy Picker."

"Arctic Monkeys?" Daisy terkekeh. "Let’s play it then!" kata Harris.

Lagu Teddy Picker pun terputar dan mereka berdansa—lebih tepatnya berpura-pura bisa berdansa, tetapi sebenarnya hanya berpegangan tangan sambil melompat-lompat mengelilingi kamar tipe Deluxe dengan pemandangan matahari terbit yang remang-remang tertutup awan. Tawa Daisy begitu renyah dan bahagia, Harris tak mau kalah. Ia melemparkan senyum terbaiknya, begitu bahagia melihat Daisy secantik dan sebahagia itu—meski keduanya tahu mereka sedang menutupi air mata yang entah kapan akan jatuh.

Lagu berdurasi tiga menit lima puluh dua detik itu selesai. Harris duduk di ujung kasur sementara Daisy melihat lagi riasannya di cermin. "Still perfect," gumamnya.

Harris beranjak menuju jendela yang mengarah langsung ke depan hotel. "People are coming, it’s getting crowded out there." Orang-orang mulai membanjiri lokasi pernikahan. Dengan satu tangan di saku celana, Harris memandangi Daisy yang mematung di hadapannya. Daisy terkekeh—hal yang sering dilakukannya tiap ditatap Harris. Mereka saling mendekat dan berciuman dengan lahap pada sisa waktu yang ada.

"How do you feel?" tanya Daisy.

"I’m happy now," jawab Harris lalu kembali melumat bibir Daisy dan mendorong tubuhnya ke jendela. Harris menyingkap tirai dan dari gedung seberang mereka bisa terlihat dengan jelas sedang bercumbu. Sayang sekali, gedung di seberang sedang kosong.

Bel kamar berbunyi. Daisy buru-buru membuka pintu setengah sementara Harris menutup kembali tirai.

"It’s time to go," suara di balik pintu.

"Give me a second," jawab Daisy. Ia menengok Harris yang sudah berdiri di belakangnya. "I’ll see you there," katanya, kepada Harris sekaligus sosok di balik pintu.

Daisy pun meninggalkan kamar B404 setelah memeluk Harris sekali lagi. Kini ia sedang berjalan ke venue pernikahan dipagari sahabat-sahabatnya. Harris memperbaiki dandanannya lalu menyusul tak lama setelahnya.

Di venue pernikahan yang sederhana nan elegan, para tamu telah hadir dan acara telah dimulai. Daisy berdiri di pelaminan bersama Robert, suaminya, sementara Harris tak sedikit pun memalingkan pandangannya dari Daisy. Akhirnya air matanya jatuh juga, tetapi ia tetap mengangkat minuman ke arah kedua mempelai dengan senyum. Hatinya hancur, begitu pula Daisy. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menyerah pada keadaan. Kadang, hidup memang semenyedihkan itu.

-///-

Menjelang malam, hujan kembali turun. Harris berdiri di depan hotel memandangi hujan dengan tatapan hampa. Di seberang jalan, seorang pria tua sedang berteduh di depan sebuah toko yang baru saja tutup. Ia tak membawa payung karena tak memprediksi hujan akan turun, lagi. Harris tak sengaja melihat pria itu dan bermaksud menghampirinya menawarkan bantuan.

Harris menyeberangi jalan tanpa payung atau jas hujan, hanya jaket musim dingin berbulu tebal dan tangan kosong yang menutupi kepalanya sambil menyeberang. Begitu tiba, pria tua itu menghilang. Kini tersisa Harris berdiri memandangi venue pernikahan kekasihnya tadi pagi.
Copyright © N Firmansyah
Founder of Artifisial Indonesia.