Semua yang Tersisa


Sebagai orang yang rumahnya berada di pinggir laut, gue senang banget sama pemandangan keramaian pelelangan ikan di pagi hari. Gue senang mengamati bagaimana orang-orang keluar dan masuk pelelangan itu bergantian, ada yang datang ke sana buat membeli dan ada yang menjual.

Gue paling senang ketika sudah terjadi tawar-menawar antara si penangkap ikan dengan si pembeli yang juga adalah penjual ikan keliling. Obrolannya selalu seru.

“Ini seratus ribu saja.”

“Ah, dua ratus. Banyak ini.”

“Seratus lima puluh lah.”

“Jangan lah, Bang. Rugi saya kalau seratus lima puluh.”

“Ya sudah, nanti juga ada yang mau ambil dua ratus kalau kamu tidak ambil.”

“Seratus enam puluh deh, Bang.”

“Tambah sepuluh ribu lagi.”

Lalu setelah tawar-menawar yang sudah sesengit pertandingan bola di partai final, transaksi pun akhirnya terjadi. Kebahagiaan turut muncul di dalam hati ketika lembaran rupiah mulai berpindah tangan dibarengi dengan senyum.

Selanjutnya pemilik ikan akan mengeluarkan ikan lainnya lalu pembeli yang lain akan datang menawar lagi, dan begitu seterusnya hingga terik matahari mulai panas di punggung.

Selain suka pemandangan seperti itu, gue juga seafood. Saking sukanya gue sama seafood, setiap kali ke luar kota gue pasti selalu menyempatkan diri untuk mencoba seafood di setiap kota yang gue kunjungi.

Salah satunya adalah ketika gue ke Solo beberapa hari lalu.

Gue menginap di dekat kampus ISI dan hanya sekitar seratus meter dari penginapan gue ada warung makan seafood yang berdasarkan informasi di sana harganya murah dan menunya cukup lengkap. Gue mengajak sang kekasih untuk makan di sana dan ternyata benar rasanya memang enak dengan harga yang murah. Kalau nggak salah kami memesan kerang saus tiram, nasi goreng cumi, nasi goreng udang, dan beberapa menu lain yang gue agak lupa. Sempat pengin pesan kepiting, tapi waktu itu gue masih berencana ke tengah kota untuk malam Mingguan sehabis makan dan gue takut ngantuk plus gue sebenarnya makannya lama banget kalau makan kepiting karena beneran gue ulik sampai benar-benar habis tak bersisa.

Kayaknya kalau cangkangnya juga bisa dimakan, gue makan juga.

Besok paginya gue pengin sarapan di tempat yang sama lagi sebelum berangkat ke Jogja, tapi sayang warungnya belum buka, jadi kami langsung ke stasiun aja pagi itu.

Di Jogja, ketika gue lagi nyari ATM di dekat penginapan, gue nggak sengaja melihat warung seafood yang baru buka. Karena masih pengin banget makan seafood, gue pun memaksa kekasih buat sarapan di sana. Tapi dia menolak.

“Nanti dulu, belum lapar,” katanya.

“Kalau gitu bungkus aja, mau?”

“Boleh.”

Sampai di penginapan, dia tetap nggak mau makan sementara satu porsi punya gue sudah habis.

“Kalau mau, makan punya saya juga nggak papa,” katanya lagi.

Gue mulai ngerasa ada yang tidak beres.

Setelah membereskan tempat makan, gue menarik lengannya. Gue suruh dia duduk menghadap gue dan dia menatap mata gue dalam keheningan.

“Kamu itu sebenarnya kenapa sih, Sayang?”

Dia menatap gue masih dengan diam dan tatapan yang seperti menahan sesuatu.

“Ayo cerita ke saya, ada apa..”

“Saya.. sariawan,” jawabnya sambil mencoba menahan sesuatu di bibirnya.

YA AMPUN! SARIAWAN AJA SAMPAI KAYAK DRAMA BOLLYWOOD GINI. UNTUNG NGGAK ADA BACKSOUNDNYA.

“Astaga.. kenapa nggak bilang sih kalau sariawan?”

“Susah ngomongnya.”

Setelah gue periksa, ternyata sariawannya terletak di dalam bibir bagian atas dan dekat dengan gusi. Membayangkannya aja gue langsung menelan ludah. Sudah pasti itu sakit banget. Pantas dia nggak mau makan.

Sariawan adalah permasalahan pada mulut yang sangat mengganggu, dan gejalanya nggak bisa langsung kelihatan, tau-tau udah muncul aja. Itu bikin kita jadi nggak nyaman terutama saat mengunyah atau menelan makanan.

Setelah gue baca-baca, penyebab utama sariawan itu disebabkan oleh jamur bernama candida albicans adanya di dalam mulut. Jumlahnya kecil, tapi nggak terkendali. Pemicu sariawan itu ada banyak, di antaranya karena penggunaan antibiotik, kebersihan mulut yang tidak terjaga, dan kekurangan vitamin. Gue rasa penyebab sariawan kekasih gue ini adalah yang terakhir, karena selama di Solo kami hampir nggak pernah mengonsumsi buah.

Akhirnya, sebagai kekasih yang memberikan solusi dan nggak mau buang-buang makanan, gue memakan habis semua makanan yang tersisa di meja lalu menyuruh kekasih gue untuk puasa aja.

No comments:

Post a Comment