Bukan Review: Halo Makassar



Judul               : Halo Makassar
Sutradara       : Ihdar Nur
Produksi         : Finisia Production
Genre              : Romance, comedy
Durasi             : Sekitar 100 menit

Pernah jatuh cinta pada pandangan pertama? You’re too mainstream. Jadilah unik dengan, misalnya, jatuh cinta pada tampolan suara pertama seperti yang dialami oleh Diat (Rizaf Ahdiat) dan Anggu (Anggu Batari) dalam film Halo Makassar.

Sebelum membahas filmnya lebih lanjut, gue ingin mengapresiasi dua hal. Pertama, original soundtrack.

Serius, gue jarang banget suka sama lagu ketika pertama kali dengar terutama lagu Indonesia. Jujur aja, belakangan ini kualitas lagu dalam negeri menurut gue menurun derastis. Dari 100 lagu yang gue dengar, mungkin hanya ada lima sampai sembilan yang benar-benar bagus dan hanya satu atau dua yang masuk kategori bagus banget. Sisanya cenderung biasa hingga biasa banget. Tapi ketika mendengar Di Mana Kamu – Ren feat. Eien dibawakan secara langsung di main atrium Phinisi Point Mall saat menghadiri acara meet and greet, gue langsung suka sama lagu ini. Ya, lagu ini adalah original soundtrack film Halo Makassar.



Balik ke filmnya, Halo Makassar bercerita tentang Diat, seorang komposer musik berbakat dari Jakarta yang jatuh cinta pada suara Anggu, seorang perempuan cantik yang bertugas sebagai operator taksi, memberikan arahan dan laporan pada para sopir yang sedang bertugas—sekaligus menghibur penumpang. Sebenarnya suara Anggu ini biasa saja, sama seperti operator yang lain. Yang bikin beda adalah bahasa dan aksen yang digunakannya, yang jelas saja membuat orang yang pertama kali mendengar aksen Makassar akan langsung jatuh cinta (ini serius) sampai ingin diculik oleh orang Makassar.

Seperti yang terjadi pada Diat, ia langsung jatuh cinta pada suara Anggu ketika pertama kali mendengarnya. Lucu dan menggemaskan, kan, Iat?

Kisah cinta antara Diat dan Anggu dalam film Halo Makassar ini cukup unik meskipun cheesy. Ya, lagian ngapain juga bikin cerita cinta yang berat kalau yang ringan aja udah bisa menghibur dan dinikmati penonton secara umum. Iya kan, toples nastar?

Lalu di bagian komedi, setelah Tumming dan Abu sukses di film pertama berjudul Uang Panai (salah satu film karya Finisia Production yang sukses merebut perhatian dengan memenangkan penghargaan sebagai Film Produksi Daerah Terbaik, IBOMA 2017), di Halo Makassar mereka hanya menjadi cameo karena di sini ada dua komedian baru bernama Mellong dan Bimbi yang menurut gue juga sukses melakoni perannya. Dan satu hal yang juga ingin gue apresiasi adalah, komedinya nggak berlebihan dan bisa tetap menjadi benang merah cerita. Ini bahkan lebih baik dari beberapa film komedi nasional yang digarap sutradara ternama (nggak usah disebutkan namanya, inisialnya RD dan EP) yang justru menjadikan komedi di dalam filmnya nggak nyambung sama sekali dengan cerita di film. So, I appreciate Halo Makassar, so much!

Tapi film Halo Makassar bukannya bagus banget juga. Enggak.

Melihat aktor-aktor di daftar, nggak heran kalau (mungkin) kualitas akting secara keseluruhan belum masuk kategori sangat memuaskan. Selain itu ada beberapa scene yang editingnya kurang bagus, tetapi cerita yang apik buat gue sudah cukup untuk film Halo Makassar masuk dalam kategori direkomedasikan untuk ditonton.

Hal kedua yang ingin gue apresiasi (berarti jadi tiga nih, wkwk) adalah penulisan naskah yang apik—terutama sekali di bagian ending—oleh Matamatahari dan Ihdar Nur. Menurut gue level skrip film Halo Makassar memang sudah di tingkat nasional. Orang yang mengerti film akan senang dengan endingnya, dan orang awam pun akan tetap dapat menerima ending yang demikian karena mereka dipaksa untuk menyimpulkan sendiri dan berimajinasi sendiri soal bagaimana akhir kisah perjalanan asmara Diat dan Anggu di dalam film Halo Makassar ini.

No comments:

Post a Comment