Until the Day I Die

via Men's Health
Judul               : Until the Day I Die
Penyanyi        : Story of the Year
Album             : Page Avenue
Tahun             : 2003

Gue lagi flu berat ketika teman gue maksa buat ditemenin ke rumah temannya di tengah kota. Gue duduk di teras sambil menahan ingus yang udah naik turun di hidung, sementara teman gue sedang ngobrol di dalam di ruang tamu. Gue duduk sambil memperhatikan motor gue yang baru saja selesai dicuci setelah sebulan mirip traktor habis ngebajak puluhan hektar sawah.

“Kalau habis dicuci gini bagus juga ya,” gumam gue sambil bersin, dan ingus gue akhirnya terlempar ke lantai.

Gue membersihkan sisa-sisa ingus di bawah hidung dan bertingkah seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Tapi rasanya lega banget. Nggak lama berselang, teman gue keluar.

“Man, masuk sini bentar, deh,” pintanya.

“Eh? Saya di sini aja. Lagi flu berat soalnya.”

“Bentar aja, penting.”

Sambil ngelap lagi sisa ingus yang gue yakin udah nggak ada, gue masuk.

“Ada apa?”

Temannya teman gue yang kayaknya gue nggak pernah ketemu sebelumnya, nyuruh gue duduk.

“Mau beli tiket ini, nggak?”

“Tiket apa itu?”

“Story of the Year,” katanya sambil menyodorkan dua buah tiket warna kuning emas-hitam. 

“Udah besok malam konsernya, tapi saya harus pergi ke luar kota, mendadak.”

“Ta-tapi, Kak, saya tidak pernah dengar lagu-lagu mereka sebelumnya,” jawab gue polos.

Dia terlihat berpikir sebentar. “Setengah harga aja deh,” katanya.

Gue nyengir. “Enggak, Kak.”

“Setengahnya lagi.”

“OKE!”

Gue benar-benar belum pernah dengar lagu-lagu Story of the Year waktu itu. Jangankan dengar, tau kalau ada band dengan nama itu aja nggak pernah. Atau mungkin begini: gue pernah dengar lagu mereka, tapi gue nggak tau itu mereka karena biasanya gue memutar lagu di YouTube secara acak dan nggak merhatiin penyanyinya siapa.

Orang yang kelebihan kuota internet mah suka gitu.

Lalu setelah gue membeli tiket itu (karena kebetulan gue lagi punya uang waktu itu), tiba-tiba muncul ide gila di kepala. Kok kayaknya seru, ya, nonton konser musik, tapi kita nggak tau konser musik siapa dan musik apa yang akan kita tonton? Jadi setelah gue punya tiket Story of the Year, gue nggak langsung nyari tau tentang mereka atau dengerin lagu-lagunya. Lagi pula, konsernya udah besok dan nggak ada waktu kalau mau ngafalin satu per satu.

-III-

GILA!

Ide gila gue ternyata berujung manis.

Gue datang ke konser dalam keadaan buta. Sama sekali nggak ada clue, tapi gue bisa pulang tanpa berkata kasar, bahkan bahagia. Gue menemukan band baru (bandnya udah lama, gue yang baru tau) dengan musik yang berkualitas.

Keesokan paginya—karena sampai rumah gue langsung tidur—gue langsung nyari lagu-lagu Story of the Year di YouTube dan pas nonton, gue langsung terheran-heran; di video ada adegan salto dan mutar-mutar gitar. Semalam, Ryan Phillips (atau Philip Sneed, gue lupa) melakukan adegan salto bersama gitarnya sekaligus. Habis itu mereka main bass sama gitar sambil gendongan. Iya, gendongan.

Dan gue semakin jatuh cinta dengan Story of the Year.

Pagi itu, karena lagi libur, gue menonton seluruh lagu dari album Page Avenue (karena tema konsernya semalam memang Page Avenue) dan menemukan beberapa lagu dari album lain yang akhirnya gue masukin ke playlist juga seperti Wake Up dan Terrified dari album The Black Swan, The Children Sing, Ten Years Down, dan Holding On to You dari album The Constant.

Dengan modal SS YouTube, gue pun mengunduh lagu-lagu yang gue dengarkan tadi lalu mengonversinya ke format MP3 dengan menggunakan Format Factory, lalu memasukkannya ke handphone dan mendengarkannya berulang-ulang seharian penuh. What a story of my time of the year with Story of the Year, that year.


Dan ingus gue jatuh lagi ke lantai.

No comments:

Post a Comment