Fireflies (Light Messengers)

PHOTO: stux on Pixabay
Judul               : Fireflies (Light Messengers)
Penyanyi        : Saosin
Album             : In Search of Solid Ground
Tahun             : 2009

Kebiasaan gue kalau lagi kerja (kecuali menulis dan membaca) adalah sambil mendengarkan musik. Itu juga yang gue lakukan ketika disuruh ngecat kamar pacar gue. Sebenarnya nggak disuruh, sih, udah ada tukang yang siap ngecat dan udah ngecat kamar-kamar di lantai bawah juga, tapi karena merasa gue juga bisa ngerjain kerjaan kayak gini maka gue pun menawarkan diri jadi volunteer.

Serius, bukan pengin cari muka.

“Iya, dia aja, Pak. Nanti saya yang bantuin,” dukung pacar gue.

Bapaknya pacar gue yang orangnya nggak berbelit-belit, langsung ngeiyain aja.

“Tapi kalau hasilnya jelek, kamu yang gaji tukangnya ya!” katanya.

“Siap, Om. Pake uang Om tapi ya!”

Semua orang ketawa, setelahnya gue ngambil cat dan alat-alat lainnya lalu berangkat umrah. Lo, kok berangkat umrah, bukan, bukan. Maksud gue naik ke kamar pacar gue.

Hampir seluruh ruangan di rumah gue, gue yang ngecat bareng kakak dan Bapak. Jadi kalau cuma sepetak kamar yang ukurannya nggak seberapa, bukan masalah buat gue. Sambil mengaduk cat yang sudah dicampur dengan air zam-zam, gue buka YouTube di tablet milik pacar gue dan mencari lagu Linkin Park untuk diputar menemani gue kerja.

Setelah satu lagu Linkin Park terputar, gue melirik daftar rekomendasi yang berbaris di sebelah kanan dan gue memilih lagu secara acak. Terputarlah Fireflies-nya Saosin yang belum pernah gue dengarkan sebelumnya, dan karena lagunya bagus, gue minta agar lagunya di-repeat.

Saat sibuk ngecat, beberapa kali adik pacar gue keluar masuk kamar dan hampir nabrak tangga yang gue gunakan buat ngecat bagian atas tembok dan atap kamar. Kalau cat ini jatuh, gue dan pacar gue bisa mandi cat dan baju-bajunya yang menumpuk di tempat tidur juga bisa kena, yang berarti dia bakal stres level internasional.

“Dek, mainnya di luar dulu. Nanti kesenggol dan catnya jatuh,” tegur gue.

Adiknya cuma ngeliatin gue dengan muka polos ala anak kelas 6 SD. Padahal dia baru kelas 5.

Ruangan udah gue cat hampir setengahnya ketika salah seorang teman dari pacar gue datang. Temannya yang ini kalau datang memang langsung masuk kamar, nggak peduli di kamar gue dan pacar lagi berantem, musyawarah, diskusi soal kebijakan pemerintah, atau lagi ena-ena. Biar akrab, kita panggil saja dia BANGSAT dengan huruf kapital di setiap huruf.

“Wah, lagi kerja keras ya, Pak,” katanya ketika ngeliat gue hampir jatuh karena kaget.

“Eh, BANGSAT, kaget saya.”

Si BANGSAT cuma nyengir dan lanjut ngobrol sama pacar gue.

Nggak sampai setengah jam, BANGSAT pamit, katanya mau makan siang sama gebetan barunya lagi. Itu berarti, ini gebetannya yang kelimabelas sejak gue kenal sama pacar gue dan dia.

“Semoga kali ini cocok ya, BANGSAT,” seru gue ketika BANGSAT meninggalkan kamar.

“YOIH!” jawabnya sambil menuruni tangga lalu terpeleset.

Enggak, ding.

Setengah jam berikutnya, gue udah selesai ngecat. Setelah membersihkan kamar dari sisa-sisa cat yang jatuh ke lantai dan membetulkan kembali posisi benda-benda yang ada di kamar, gue mandi sama pacar gue. Bukan, bukan mandi bareng kok, tapi gantian. Setelah itu kami duduk-duduk di teras atas sambil minum teh bertiga sama adiknya. Kerjaan di lantai bawah juga sudah beres semua dan tukangnya juga sudah pulang.

Dan sudah digaji.

“Eh lagu yang tadi itu apa ya? Kok bagus?” kata pacar gue.

“Fireflies. Lagunya Saosin. Baru tau juga kalau Saosin punya lagu yang nggak teriak-teriak gini.”

“Putar lagi dong.”

Saat lagu baru diputar, handphone pacar gue bunyi. Ada LINE dari si BANGSAT.

“Beb, lagu yang tadi keputar terus waktu aku di kamar kamu, itu judulnya apa ya?”

“Saosin – Fireflies.”

“Oh, Saosin. Kirain Owl City. Hehehe. Makasih ya. Lagunya bagus.”

Njir. Cove Reber sama Adam Young suaranya jauh, BANGSAT!

“Sama-sama,” balas pacar gue lalu kami lanjut ngeteh. Gue sambil memangku adiknya.

Saat lagu selesai di bagian lirik “I’ll never be able to say ‘I love you’”, pacar gue tiba-tiba ngomong.

“Kira-kira kita bakal sampai di fase itu nggak ya?”

“Yang mana?”

“Yang ‘I’ll never be able to say I love you’ itu.”

“I love you too, kok.”

“Serius.”

“Serius.”


Sekarang, dia udah jadi mantan. And I’ll never be able to say I love you again.

No comments:

Post a Comment