Open

Kenapa Harus Disqus?


Kenapa harus Disqus, sih?

Kenapa nggak bawaan blogger aja?

Loh, kok nggak bisa komentar?

Mau komen tapi pake Disqus, nggak jadi. Ribet.

Loh, mau makan di resto tapi udah tanggal tua lagi.

Ya. Itulah beberapa pertanyaan dan pernyataan yang terus-menerus datang ke gue ketika memutuskan untuk memasang kotak komentar Disqus di blog sejak kurang lebih dua tahun lalu. Nggak cuma bloger baru, bloger lama juga banyak yang mengeluhkan hal serupa. Padahal Disqus nggak pernah mengeluhkan mereka.

Pertanyaan dan pernyataan yang sama juga pernah gue lontarkan jauh sebelum gue memutuskan untuk memasangnya juga di blog. Dulu gue sering membaca artikel di website-website kesayangan gue yang juga kotak komentarnya menggunakan Disqus. Beberapa blog personal juga. Gue ingat pertama kali gue menemukan blog itu dan di sana terpasang kotak komentar yang sama dengan kotak komentar blog gue sekarang. Setelah selesai membaca tulisannya yang seru, meski kadang-kadang garing kayak tempe goreng di warung depan kosan gue, gue gatel pengen ngasih komentar buat ngoreksi beberapa hal yang tidak sepemikiran.

Pas liat kotak komentarnya, gue mengurungkan niat.

“Ah, mau komentar aja ribet. Mesti daftar dulu, bikin akun dulu. Kenapa nggak pake kotak komentar bawaan aja, sih?” celoteh gue yang kayak camar tolol.

Tapi kotak komentar yang ribet itu nggak bikin gue berhenti untuk tetap membaca tulisan-tulisan mereka. Gue bahkan berlangganan newsletter di blog-blog itu saking sukanya. Karena keseringan, gue mutusin buat bikin akun sekalian biar nanti kalau mau komen lagi tinggal komen aja.

Sebulan kemudian, gue ngeliat ada hal menarik yang dimiliki Disqus dan tidak dimiliki kotak komentar bawaan Blogger ataupun Wordpress.

Keren.

Ini perspektif gue aja, sih. Gue ngeliat kotak komentar Disqus lebih bagus aja tampilannya dan lebih smooth daripada bawaan Blogger atau Wordpress, makanya gue pasang.

Hemat kuota internet.

Mungkin perbedaannya cuma sedikit, tetapi sebagai anak ekonomi hidup gue harus penuh dengan hitung-hitungan. Waktu kuliah, gue belajar teori ekonomi bisnis di mana keberhasilan dalam berbisnis adalah ketika kita bisa mengeluarkan modal seminim mungkin untuk mendapatkan untung semaksimal mungkin. Rada-rada nggak nyambung sih, tapi begitulah.

Kalau kalian buka blog gue lewat PC atau laptop, login ke akun Disqus tidak akan membuka jendela atau tab baru ataupun reload page seperti ketika berkomentar di blog yang menggunakan kotak komentar bawaan blog itu sendiri. Kalau akun Disqus sudah logged in, berkomentar jadi lebih mudah dan efisien karena tidak perlu menunggu halaman dimuat ulang dan yang pasti, kuota jadi lebih hemat.

Menghindari broken link.

Terutama bloger baru, banyak yang belum tau kalau sebenarnya meninggalkan komentar dengan menaruh link hidup di dalam komentar bisa mengakibatkan terjadinya broken link. Dengan menggunakan Disqus, link-link itu tidak akan berpengaruh ke sana.

Menghindari komentar sampah.

Meneruskan poin sebelumnya, memang biasanya blog yang rame itu sering banyak dikomentari oleh akun-akun tidak bertanggung jawab yang isi komentarnya berupa promosi obat pelangsing atau obat pelancar haid dan semacamnya. Setau gue komen kayak gitu dikerjakan oleh bot dan masuk secara otomatis. Selain menghindari broken link, gue juga pake Disqus untuk menghindari komentar semacam itu. Sejauh ini blog gue belum pernah menerima komentar kategori spam seperti itu sejak gue pake Disqus. Sebelumnya, hampir setiap hari gue harus ngapusin komentar orang-orang yang menawarkan obat peninggi badan dan penghilang bulu ketiak super padahal gue lagi nulis tentang cara menghindari mantan yang ngajak balikan. Padahal mantan dan bulu ketek nggak ada hubungannya, meskipun mantan gue emang keteknya item, sih.

Biar kelihatan siapa yang niat berkomentar.

Orang-orang yang nggak atau belum punya akun Disqus gue yakin akan mengurungkan niatnya berkomentar jika nanti komentarnya hanya akan berisi, “nice posting gan, salam kenal ya!” atau “wah, bermanfaat sekali infonya”. Karena gue tau waktu buat daftar akun Disqusnya lebih lama daripada ngetik komentarnya. Menurut gue dari situ bisa keliatan siapa yang “nggak papa ribet” dengan yang “ah ribet ah!”.

Beberapa orang pernah menyarankan agar gue memasang kotak komentar bawaan lagi aja, tapi, seperti judul lagu Pasha featuring mantan istri Yoyo Padi, gue sudah terlanjur cinta sama Disqus dan niat gue dari awal memang buat bikin orang-orang yang niat berkomentar itu jadi ribet.


*DIGAMPARS*.

No comments:

Post a Comment