Open

Akhiri Saja

Ilham Fauzie, cowok hitam manis yang saat ini sedang duduk dikelas dua SMA. Sudah sejak lama Ilham memendam perasaan cinta pada Yuri. Ilham mengenal Yuri saat masa orientasi, mereka berdua sama-sama mendapat hukuman. Saat ini Ilham sedang berusaha menyatakan perasaannya pada Yuri. Ia sudah lelah menyimpan rasa itu sendiri. Karena itu, hari ini Ilham bertekad untuk
mengungkapkan semuanya.
  “Yuri, boleh gue ngomong sesuatu sama lo?” Ilham sengaja mengajak Yuri bertemu ketika pulang sekolah.
  “Boleh! Emang lo mau ngomong apa?”
  Ilham menghela nafas beberapa kali, memantapkan hatinya, “Sebenarnya...gue udah lama suka sama lo. Gue pengen kalau status kita gak cuma sekedar teman.”
  “Lo nembak gue nih ceritanya?”
  “He-em...”jawab Ilham sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah.
  Yuri langsung menjawab tanpa berpikir sedikitpun, “Emmhhh...sebaiknya lo gak usah buru-buru. Masih banyak waktu untuk kita saling mengenal.”
  “Bukannya udah satu tahun lebih kita saling mengenal? Apa masih belum cukup?”
  “Emang sih! Tapi...gue bener-bener minta maaf sama lo. Saat ini gue belum kepikiran buat pacaran.”
  Sebenarnya Ilham merasa kecewa dengan penolakan Yuri. Tapi, sebagai seorang cowok ia harus berlapang dada menerima semuanya. Toh Yuri bilang ingin saling mengenal dulu, itu tandanya Ilham masih punya kesempatan untuk merebut hati Yuri.
***
  Tapi ternyata semua tak terjadi seperti yang diharapkan. Hampir tiga tahun Ilham menunggu Yuri membuka pintu hatinya, tapi tak pernah sedikitpun Yuri menanggapinya. Semua pengorbanan Ilham selama ini sia-sia.
  “Ham, kemarin gue jadian loh sama Rafael!” Ujar Yuri, binar-binar bahagia tampak dari wajah cantiknya.
Ilham tersenyum pasrah mendengar penuturan Yuri, “Oh, selamat ya...”
  “Rafael itu baik banget deh, beruntung banget gue bisa pacaran sama dia. Lo tahu gak? Padahal banyak cewek yang suka sama Rafael, tapi dia malah pilih gue! Beruntung banget kan gue?”
  Ilham cuma bisa diam mendengar pujian demi pujian yang dituturkan Yuri untuk Rafael. Sungguh hatinya sakit mendengar orang yang ia cintai malah memuji cowok lain. Ingin rasanya Ilham berteriak dan menyadarkan Yuri bahwa didekatnya ada orang yang sangat mencintainya. Tapi apa daya? Yuri telah buta oleh cinta.
  “Kok lo malah bengong sih, Ham? Lo dengerin gue cerita gak sih?” tanya Yuri cemberut.
  Ilham tersenyum lemah, “Gue dengerin kok...”
***
  Sejak menjadi pacar Rafael, Yuri seakan melupakan Ilham. Biasanya setiap hari Yuri selalu menyempatkan diri datang kerumah Ilham, meskipun cuma untuk melihat kelinci-kelinci peliharaan Ilham. Tapi sekarang jangankan datang, saat bertemu di sekolah pun Yuri seakan tak mengenal Ilham.
  ‘Yuri Calling’
  Ilham menatap layar ponselnya, nama yang sangat di rindukannya kini meneleponnya. Pada deringan kedua Ilham mengangkat ponselnya.
  “Ilham! Gue kangen banget sama loe!”Ujar Yuri tiba-tiba ketika Ilham mengangkat telepon.
Ilham sedikit kaget, “Gue...juga kangen banget sama lo.”
  “Udah lama ya kita gak pernah ngobrol. Besok lo gak ada acara kan? Mumpung libur sekolah besok kita kencan yuk.”
  “Kencan? Terus gimana sama Rafael? Lo kan masih pacaran sama dia?” Ilham bertanya bingung.
  “Masalah Rafael gak usah dipikirin! Gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Lo mau kan?”
  “Oke!” Jawab Ilham penuh semangat. Tak bisa dipungkiri kalau Ilham bahagia dengan ajakan kencan dari Yuri.
  “Besok lo gak usah jemput gue. Kita janjian aja di taman kota, jam delapan pagi ya.”
  Ilham merasa sangat beruntung karena cewek yang dicintainya mengajaknya kencan. Mungkin Tuhan telah mendengar doa-doa Ilham selama ini, sehingga kini Yuri membuka pintu hatinya untuk Ilham.
***
  Hari ini seperti yang dijanjikan Ilham telah menunggu Yuri ditaman. Jam delapan pagi Ilham udah standby. Ilham terlihat sangat cool, lain seperti biasanya kali ini Ilham memakai kacamatanya. Ilham memang sengaja berpenampilan lain agar Yuri semakin suka padanya.
  Sudah selama tujuh jam Ilham menunggu, tapi Yuri tak juga tampak. Ponselnya pun tak aktif. Bahkan walau hujan turun, dengan setia Ilham masih menanti Yuri ditempat janjian.
  “Ilham? Ngapain lo disini hujan-hujanan?” Bisma yang merupakan sepupu Yuri menyapa Ilham.
  “Gue lagi nunggu Yuri, Bis...” Ilham menggigil kedinginan.
  “Yuri? Tadi pagi dia kan pergi sama Rafael gitu. Emang dia gak bilang sama lo?”
  Ilham tersentak kaget, “Hah? Yuri pergi sama Rafael? Bukannya mereka udah putus?”
  “Gue juga gak tahu, yang pasti tadi pagi Rafael kerumah terus Yuri pergi deh sama Rafael.”
  “Lo gak bohong kan?”
  “Kalau lo gak percaya lo bisa ikut gue kerumah, sambil lo tungguin Yuri datang. Lo bisa tanya sendiri sama dia,” usul Bisma.
  “Thanks ya, Bis!”
  “Santai aja, gak perlu sungkan gitu sama gue.”
  Ilham menyetujui usul Bisma, bukanya ia tak percaya pada kata-kata Bisma. Tapi Ilham ingin membuktikan dengan mata kepalanya sendiri apa memang benar Yuri setega itu pada dirinya.
  Ilham dan Bisma pun berjalan beriringan. Memang jarak taman kota dari rumah Yuri tak begitu jauh, cukup dengan berjalan kaki selama sepuluh menit. Langkah kaki Ilham terhenti ketika tak jauh dari rumah Yuri, ia melihat Yuri tengah berpelukan dengan seorang cowok yang tak lain adalah Rafael.
  “Bis, gue pulang aja deh.”
  “Loh? Emang kenapa? Lo gak jadi nungguin Yuri?”
  “Gak deh, tiba-tiba gue ngerasa pusing,” Ilham memberi alasan.
  “Ya udah, lo bawa aja payung gue. Rumah gue kan udah deket, gue bisa lari.”
  “Gak usah Bis, baju gue kan udah basah jadi sekalian aja,” Ilham tersenyum, “sekali lagi thanks ya, Bis.”
  “No problem.”
  Ilham berlari melawan hujan yang turun dengan derasnya. Hatinya mendung seperti langit yang saat ini gelap. Ilham merasa amat marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia begitu bodoh! Cuma gara-gara seorang cewek akal sehatnya entah hilang kemana sehingga ia tak bisa berpikir waras.
***
  “Ham, sori banget ya kemarin gue pergi sama Rafael. Gue juga lupa ngasih tahu lo,” Yuri masuk ke kamar Ilham dan berkata tanpa penyesalan.
  “Gak apa-apa!”Jawab Ilham dingin.
  “Sebenernya, waktu itu gue lagi berantem sama Rafael. Makanya gue ngajakin lo jalan. Eh, malamnya Rafael datang kerumah minta maaf. Akhirnya gue sama Rafael baikan deh.”
  Ilham memandang Yuri kesal, “Yuri, gue emang cinta sama lo tapi lo gak bisa seenaknya mempermainkan perasaan gue!”
  “Maksud lo apa, Ham? Gue gak ngerti.”
  “Lo kan tahu kalau gue cinta sama lo, tapi dengan gampangnya lo cerita-cerita tentang cowok lain didepan gue! Gue masih bisa tahan soal itu!” Ilham menatap Yuri tajam, “tapi kemarin lo bikin gue kecewa, lo ngajak gue jalan tapi lo sendiri malah lupa!”
  “Ham, gue minta maaf...”
  “Gue nungguin loe tujuh jam Yur! Lo tahu? Sampai hujan turun pun gue gak beranjak dari tempat janjian kita! Gue gak mau buat lo kecewa, tapi ternyata semua itu gak ada artinya buat lo!”
  Yuri benar-benar terkejut, karena baru kali ini dirinya melihat Ilham marah. Biasanya, Ilham tak pernah marah pada dirinya. Jangankan marah, membentak pun tak pernah.
  “Biasanya gue diem aja saat lo manfaatin gue! Tapi sekarang gue bener-bener capek! Gue ngerasa jadi orang paling bodoh sedunia!” Ilham menghela napas panjang, “mulai saat ini gak ada lagi rasa cinta buat lo! Gue akan kubur dalam-dalam semua perasaan gue ke lo!”
  “Ham, gue...”
  Ilham berdiri dan membuka pintu, “Gue mau sekarang lo keluar dari kamar gue!”
  “Ham, please dengerin gue!”
  “Gue bilang keluar! Lo keluar sendiri atau lo mau gue seret?”
  Dengan berat hati Yuri keluar dari kamar Ilham. Kali ini Yuri benar-benar merasa bersalah pada Ilham karena telah menyakiti hati teman terbaiknya. Tapi ibarat nasi udah menjadi bubur, apa yang telah terjadi tak dapat diputar kembali.

Bila memanglah dia yang ada dihatimu
Jangan membuatku ragu
Memainkan rasa ini, berharap banyak padamu
Memang benar ku menggilaimu
Tapi bukan berarti kau bisa permainkan hatiku
You really really make me so crazy
Tapi bukan berarti aku rela kau sakiti
Jangan bo bo bohongi, ku tak mau kau bo bo bodohi
Mari saja ah ah akhiri
Ataukah ini memang taktik busukmu ingin menjerat banyak cinta
(SM*SH - Akhiri Saja)

Ilham berteriak frustasi, “Gue memang bodoh! Berharap Yuri akan mencintai gue seperti gue mencintainya!”

Ilham bersumpah, mulai detik ini ia akan menghilangkan perasaannya pada Yuri. Ia tak mau lagi menjadi pelarian dan tampak seperti orang bodoh yang mengejar cinta tak pasti.

No comments:

Post a Comment